Kolaborasi Tempo dan Gecko Project Mendapat Penghargaan SOPA

2 hours ago 14

LIPUTAN hasil kolaborasi Tempo dan The Gecko Project bersama sejumlah media, mengenai pencemaran logam berat di perairan Pulau Obi, Halmahera, Maluku Utara, mendapat penghargaan pada kategori liputan lingkungan terbaik dalam ajang The Society of Publishers in Asia (SOPA) for Editorial Excellence 2026 di Hong Kong, Kamis, 18 Juni 2026. SOPA adalah organisasi nirlaba yang berdedikasi untuk mendorong standar jurnalisme tertinggi.

Wakil Pemimpin Redaksi Tempo, Bagja Hidayat, mengatakan, penghargaan jurnalistik bergengsi di Asia ini menunjukkan bahwa media mesti mengutamakan kepentingan publik. Liputan tentang pencemaran logam berat di sekitar konsesi nikel di Pulau Obi, Maluku Utara, mengandung banyak dimensi, yakni sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

"Kami membuka isu pencemaran itu untuk mengingatkan bahwa hak sosial dan hak ekonomi saling berkaitan dengan hak lingkungan. Maka, penghargaan ini untuk Anda, para pendukung jurnalisme berkualitas,” kata Bagja pada Kamis malam, 18 Juni 2026.

Sementara itu, Alon Aviram, jurnalis The Gecko Project yang memimpin proyek kolaborasi ini menjelaskan, laporan kolaborasi mengenai pencemaran lingkungan di Pulau Obi mengungkap bahwa selama lebih dari satu dekade, penambangan oleh Harita Nickel menyebabkan bahan kimia penyebab kanker merembes ke perairan di Pulau Obi. Haria dikenal sebagai salah satu produsen nikel terbesar di Indonesia.

Hasil pengujian internal Harita menunjukkan bahwa zat karsinogenik itu telah mencemari sumber air minum sebuah desa. Namun, warga tidak pernah diberi tahu. Di hadapan publik, perusahaan justru bersikeras bahwa air tersebut aman. “Kami juga menemukan bahwa Harita menyembunyikan bukti pencemaran pada ikan.”

Sejumlah penelitian menunjukkan kandungan logam berat dalam kadar berbahaya pada ikan di perairan setempat—yang menjadi salah satu sumber pangan utama masyarakat. Meski demikian, perusahaan menyatakan ikan tersebut aman dikonsumsi dan bahkan mengubah isi sebuah studi penting untuk "melunakkan" kesimpulannya. Akibatnya, warga desa terus mengonsumsi ikan itu tanpa pernah mengetahui risiko yang mereka hadapi.

Para penerima penghargaan The Society of Publishers in Asia (SOPA) for Editorial Excellence 2026, usai seremoni di JW Marriott Hongkong, Kamis, 18 Juni 2026. Dalam ajang ini, liputan kolaborasi Tempo dan Gecko Project dan sejumlah media internasional, mengenai temuan pencemaran lingkungan akibat pertambangan nikel di Halmahera, Maluku Utara, mendapat penghargaan dalam kategori liputan lingkungan. (Dok. SOPA)

Tak hanya Tempo, kolaborasi peliputan ini juga melibatkan The Organized Crime and Corruption Reporting Project (OCCRP), Deutsche Welle, KCIJ Newstapa, dan The Guardian. Laporan hasil kolaborasi tersebut dapat anda baca di artikel  berjudul “Adu Data Pencemaran Laut Obi di Sekitar Konsesi Harita” dan “Mobil Bersih, Air Tercemar: Rahasia Beracun Raksasa Nikel.”

Dalam keterangan tertulisnya usai penghargaan, Komite Editorial SOPA menjelaskan, penghargaan ini diberikan sebagai pengakuan dan perhatian terhadap kolaborasi antar-media dalam kategori peliputan yang semakin mendapat perhatian publik. “Kami bangga dapat memberikan pengakuan atas tahun yang luar biasa bagi jurnalisme di kawasan Asia-Pasifik,” ujar James Wilson, Asia News Editor di Financial Times dan Wakil Ketua Komite Editorial SOPA.

Wilson menjelaskan, pada ajang penghargaan SOPA ke-28 tahun ini, panitia menerima lebih dari 700 karya yang dikirimkan oleh berbagai organisasi media massa global, regional, dan lokal, termasuk yang berbahasa Mandarin dan bahasa Indonesia. “Topik mengenai politik dan ekonomi Cina, serta pengaruh regional dan globalnya menjadi tema yang menonjol dalam banyak karya pemenang dan finalis tahun ini.”

SOPA Awards 2026 dikelola oleh SOPA Awards Administration Panel yang dipimpin oleh jurnalis veteran Chris Yeung. Sebanyak 115 jurnalis dan mantan jurnalis dan akademisi jurnalisme dari seluruh dunia berpartisipasi sebagai juri sukarela tahun ini. Adapun Harry Surjadi membantu sebagai Ketua Dewan Juri untuk kategori bahasa Indonesia.

Dalam penghargaan ini, media asal Indonesia lainnya, Project Multatuli, meraih dua penghargaan, yakni kategori liputan teknologi terbaik tingkat regional, untuk seri liputan mengenai akal imitasi (AI), dan kategori laporan berbahasa Indonesia terbaik untuk seri liputan kekerasan aparat di Tanah Air.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |