Koleksi Galeri Nasional Diboyong ke Vredeburg Yogya

3 hours ago 10

SEBANYAK 28 koleksi masterpiece Galeri Nasional Indonesia diboyong dari Jakarta untuk dipamerkan di Gedung D Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta dalam pameran bertajuk Dari Sudjojono ke Murniasih: Sepilihan Koleksi Galeri Nasional Indonesia. Pameran yang menjadi bagian dari perayaan Lebaran Seni di Yogyakarta ini berlangsung mulai 27 Juni hingga 30 Agustus 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Puluhan karya yang dihadirkan meliputi 23 lukisan, empat patung, dan satu karya grafis dari 28 seniman lintas generasi yang dikuratori oleh Aminudin TH Siregar, Agung Hujatnikajennong, Citra Smara Dewi, dan Dio Pamola Chandra.  

Sejumlah koleksi yang dihadirkan antara lain karya almarhum Affandi (1907-1990) bertajuk Potret Diri, Hendra Gunawan (1918-1983) bertajuk Pasar, S.Sudjojono (1913-1986) bertajuk Ibuku, Kartono Yudokusumo (1924-1957) bertajuk Bandung, juga Widayat (1923-2002) bertajuk Kawah Dieng. Ada juga karya instalasi Edhi Soenarso (1932-2016) bertajuk Miniatur Monumen Dirgantara, Amrus Natalsya (1933-2024) bertajuk Bosnia, dan G.Sidharta (1932-2006) bertajuk Potret Wanita.

Kurator pameran, Aminudin TH Siregar menuturkan, pameran ini membawa misi kritis terhadap historiografi seni rupa Indonesia yang selama ini mapan, sehingga penikmat seni bisa belajar bersama dan refleksi. Menurutnya, karya-karya koleksi negara dari era Sudjojono sampai Murniasih yang dipamerkan saat ini pada dasarnya dibangun dari pengalaman orang Indonesia sendiri. Hanya praktik bertutur dan mediumnya memang masih berkiblat pada barat. 

"Seni lukis juga seni rupa yang kita hadapi sekarang, yang sekarang menjadi koleksi Galeri Nasional, praktek cara bertutur dan penggunaan mediumnya memang berasal dari barat," ujar Aminudin, Sabtu, 4 Juli 2026. Sehingga, tim kurator menilai, perlu ada upaya perluasan sejarah agar institusi tidak sekadar melestarikan konfigurasi epistemologi barat yang kini juga dipertanyakan di dunia global.  

Ia mengungkap bahwa koleksi tersebut menjadi modal intelektual dan budaya yang berharga, namun tidak boleh berhenti di sana saja.  "Tapi itu tidak cukup. Kalau tidak, maka sebenarnya kita sedang melestarikan konfigurasi epistemologi barat," kata Aminudin.  

Ke depan, tim kurator mendorong Galeri Nasional Indonesia untuk memperluas cakupan historiografinya melalui konsep relational historiografi. Di mana galeri tidak lagi sekadar menjadi gedung pameran, melainkan arena epistemologi untuk menguji, memformulasi, dan menulis ulang sejarah seni rupa. Bahkan kalau perlu, kata dia, juga menarik garis linimasa hingga ke lukisan gua.

Sejumlah koleksi masterpiece Galeri Nasional Indonesia diboyong dari Jakarta untuk dipamerkan di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta dalam pameran bertajuk Dari Sudjojono ke Murniasih, Sabtu (4/7). Tempo/Pribadi Wicaksono 

Aminudin berharap pameran ini dapat menjadi pemantik bagi publik untuk lebih kritis melihat kondisi sejarah seni rupa Indonesia. Pameran ini sekaligus menjadi ruang belajar bagi pelajar, mahasiswa, dan umum untuk melihat bagaimana seni rupa merekam perubahan sosial, budaya, dan politik bangsa. 

Adapun Indira Estiyanti Nurjadin selaku Kepala Badan Layanan Umum Museum dan Cagar Budaya menuturkan pameran ini diharapkan memperluas akses masyarakat terhadap karya-karya penting seni rupa Indonesia. "Masyarakat dapat menikmati langsung karya asli dari para maestro dan seniman Indonesia tanpa harus berkunjung ke ibu kota," kata dia.

Melalui karya-karya para seniman legendaris itu, Esti mengungkap pengunjung diajak melihat bagaimana seni menjadi medium untuk menghadirkan suara-suara yang sering terpinggirkan dari sejarah arus utama. 

Pameran ini menunjukkan bahwa perjalanan seni rupa Indonesia bukan hanya tentang pembentukan bangsa, tetapi juga tentang perjuangan menghadirkan pengalaman hidup yang beragam ke ruang publik. Ia mencontohkan, nama S. Sudjojono dikenal sebagai salah satu pelopor seni rupa modern Indonesia yang memperjuangkan kejujuran dalam berkesenian dan merepresentasikan realitas bangsa Indonesia. Sementara itu, Murniasih menghadirkan perspektif yang sangat personal melalui karya-karyanya yang berbicara tentang tubuh, pengalaman hidup, dan kerentanan manusia. 

"Rentang perjalanan dari Sudjojono hingga Murniasih menjadi gambaran bagaimana seni Indonesia terus berkembang dan memperluas makna kebebasan dari waktu ke waktu," kata dia.

Esti menambahkan sejarah seni rupa Indonesia sering diperlakukan sebagai kisah perkembangan gaya, tokoh besar, atau lahirnya gerakan-gerakan penting. Padahal, yang lebih mendesak
adalah melihatnya sebagai sejarah perubahan dalam cara masyarakat Indonesia mengorganisasikan pengalaman visual. "Seni rupa tidak hanya merekam realitas, tetapi juga menunjukkan bagaimana suatu zaman menentukan apa yang layak dilihat, diingat, dipamerkan, dan dilupakan," urainya.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |