KOREA Selatan menyoroti sejumlah hambatan yang dinilai mengganggu iklim investasi di Indonesia di tengah upaya kedua negara memperkuat kemitraan strategis.
Ketua Komite Persahabatan Korea-Indonesia di Majelis Nasional Korea Selatan Kim Gi-hyeon mengatakan hubungan ekonomi kedua negara menghadapi tantangan dalam beberapa tahun terakhir. Menurut dia, nilai perdagangan bilateral yang sempat mencapai 25,5 miliar dolar Amerika Serikat pada 2020 mengalami penurunan.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
“Ada lebih banyak ketentuan sertifikasi di Indonesia yang meningkatkan hambatan nontarif sehingga perusahaan Korea sulit masuk ke pasar Indonesia dan penghapusan insentif kendaraan listrik yang membuat Hyundai ragu membuat investasi tambahan,” kata Kim dalam diskusi The Indonesian Next-Generation Journalist Network on Korea yang diselenggarakan Korea Foundation dan Foreign Policy Community of Indonesia di Majelis Nasional Republik Korea, Seoul, Korea Selatan, Selasa, 9 Juni 2026.
Kim merinci, Hyundai Motor Company telah memproduksi kendaraan listrik di Indonesia, seperti Kona EV dan IONIQ 5. "Kendaraan-kendaraan tersebut merupakan mobil listrik pertama yang diproduksi di Indonesia,” ujar Kim.
Ia mengatakan, perubahan kebijakan insentif membuat manfaat yang tersedia saat ini lebih banyak dirasakan oleh perusahaan asal Cina. “Namun, setelah sistem insentif dihapuskan, manfaat yang tersedia cenderung lebih banyak dinikmati oleh perusahaan-perusahaan China,” katanya.
Meski demikian, Kim meyakini Korea Selatan tetap dapat menjadi mitra yang mendorong pertumbuhan bersama bagi kedua negara melalui kerja sama yang saling menguntungkan. “Saya berharap akan ada lebih banyak peluang untuk investasi ekonomi, transfer teknologi, serta pengembangan talenta antara Indonesia dan Korea,” kata Kim.
Kemitraan Strategis di Tengah Ketidakpastian Global
Secara terpisah, Wakil Direktur Jenderal Biro Urusan ASEAN dan Asia Tenggara Kementerian Luar Negeri Korea Selatan Jung Ga-yeon, mengatakan kemitraan strategis komprehensif khusus yang dimiliki kedua negara mencerminkan tingkat kepercayaan dan tekad tertinggi.
Menurut dia, Seoul dan Jakarta memiliki kepentingan yang sama untuk memperkuat kerja sama yang saling menguntungkan di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
“Melalui momentum ini, Korea dan Indonesia akan terus bekerja sama secara erat untuk memberikan manfaat nyata bagi rakyat kita dengan memperluas kerja sama di berbagai sektor, termasuk kerja sama di industri pertahanan, rantai pasokan, energi, teknologi digital dan AI, serta industri budaya dan kreatif,” kata Jung.
Ia menambahkan, hubungan Korea Selatan dan Indonesia juga dapat menjadi jembatan bagi penguatan kerja sama yang lebih luas antara Korea Selatan dan ASEAN. “Seoul berupaya menjadi kontributor bagi impian dan harapan, landasan bagi pertumbuhan dan inovasi, serta mitra bagi perdamaian dan stabilitas,” ujarnya.
Indonesia Klaim Minat Investor Tetap Positif
Duta Besar Republik Indonesia untuk Korea Selatan Cecep Herawan mengatakan pelaku usaha Korea Selatan sejauh ini masih memandang Indonesia secara positif. Menurut dia, tidak ada persoalan besar yang secara signifikan menghambat komunikasi maupun rencana investasi perusahaan Korea di Indonesia.
“Pertanyaan atau permintaan klarifikasi dari mereka pasti ada. Namun, kami sudah mempunyai data dan informasi yang cukup baik sehingga komunikasi dengan pelaku usaha Korsel sejauh ini berlangsung dengan baik,” tutur Cecep saat ditemui di Wisma Duta Besar RI di Seoul, Selasa, 9 Juni 2026.
Ia mengatakan para investor tidak hanya mempertimbangkan kondisi domestik suatu negara ketika mengambil keputusan bisnis. Situasi ekonomi dan geopolitik global juga menjadi faktor yang diperhitungkan dalam merealisasikan komitmen investasi.
Menurut Cecep, target realisasi investasi Korea Selatan di Indonesia senilai 10,2 miliar dolar AS masih berjalan. Sejumlah proyek telah bergerak lebih cepat, sementara lainnya masih dalam tahap pembahasan.
“Target realisasi investasi sebesar 10,2 miliar (dolar AS) itu ada beberapa yang bisa cepat, beberapa prosesnya masih menunggu," kata Cecep. Ia mencontohkan rencana investasi fase II PT Krakatau Posco untuk memproduksi specialized steel bagi industri otomotif yang saat ini masih dalam tahap pembahasan intensif.


















































