Mengenal Lebih Jauh Lana Tumbavani, Brand Skincare Sereh dari Sigi yang Lolos Pasar Amerika

12 hours ago 22

CANTIKA.COM, Jakarta - Buat kamu yang suka self-care routine di rumah, produk-produk seperti minyak pijat, aromaterapi, sampai sabun herbal, bisa jadi bagian dari rutinitas relaksasi setelah seharian lelah beraktivitas. Tapi tahukah kamu, di balik rasa nyaman dan aroma alami produk wellness tersebut ada cerita perjuangan menjaga bumi. Salah satunya dari Lana Tumbavani, sebuah merek produk perawatan tubuh atau skincare alami asal Desa Pulu, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

Nama brand tersebut diambil dari bahasa Kaili, di mana "lana" berarti minyak dan "tumbavani" berarti sereh. Bukan sekadar bisnis kecantikan biasa, yuk intip kisah di balik layar Lana Tumbavani yang menembus pasar internasional!

1. Berawal dari Tanaman Penahan Erosi Pasca-Gempa

Desa Pulu, Sigi, merupakan kawasan yang rawan banjir akibat cuaca ekstrem pasca-gempa beberapa tahun lalu. Banjir berulang pada 2020-2021 bahkan sempat mengubah lahan pertanian subur di sana menjadi hamparan pasir.

Di tengah kondisi kritis tersebut, Dilah Sahim (29 tahun), Direktur BUMDes Pulu, berinisiatif menanam sereh wangi dan bambu untuk memperkuat bantaran sungai dan menahan erosi lahan.

"Di awal kami tidak berpikir soal bisnis sama sekali. Yang penting lahan aman dan tidak semakin rusak, soal ekonomi itu datang belakangan," kenang Dilah dalam siaran pers yang diterima Cantika, 9 Juli 2026.

2. Rasio Langka: 200 Kg Daun untuk 200 Ml Minyak Murni

Ternyata, langkah penyelamatan lingkungan ini justru membuka peluang ekonomi baru. Daun sereh wangi yang tumbuh subur kemudian disuling menjadi minyak esensial murni (pure essential oil) tanpa campuran aroma sintetis atau bahan kimia tambahan.

Bagi yang terbiasa dengan produk pabrikan, proses produksi Lana Tumbavani ini mungkin terdengar mengejutkan seperti berikut:

Masa Tanam: Butuh waktu delapan bulan dari tanam hingga panen pertama.

Proses Panen: Berjalan berkala setiap tiga bulan sekali.

Rasio Hasil: Dari sekitar 200 kilogram daun, hanya menghasilkan kurang lebih 200 mililiter minyak murni.

Rasio yang super kecil inilah yang membuat setiap tetes produknya bernilai tinggi dan sangat eksklusif. Kualitas premium ini jugalah yang berhasil memikat pembeli internasional dari Malaysia, Nepal, hingga Amerika Serikat.

3. Hadirkan Konsep Ekonomi Restoratif yang Sustainable

Didampingi oleh Gampiri Interaksi lewat program inkubasi GIAT 2.0, bisnis skala rumahan yang melibatkan warga lokal ini terus berkembang. Lana Tumbavani kini memiliki berbagai lini produk turunan mulai dari minyak pijat (massage oil), sabun herbal dengan campuran daun kelor lokal, lilin berbasis lilin lebah (beeswax candle), hingga parfum padat (solid perfume). Produk-produk estetik ini bahkan sudah digunakan sebagai amenities di berbagai destinasi pariwisata.

Prinsip yang mereka pegang teguh adalah peningkatan kapasitas produksi hanya boleh dilakukan sejauh tidak melampaui kemampuan lahan untuk pulih sendiri.

"Biasanya alam diperas dulu, baru ekonomi dibagi. Di sini justru alam dipulihkan dulu, baru ekonomi tumbuh. Itu yang membuatnya lebih tahan lama," ujar Nedya Sinintha Maulaning, perwakilan Gampiri Interaksi.

Praktik nyata dari Desa Pulu ini pun mendapat dukungan penuh dari Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), sebuah asosiasi pemerintah kabupaten yang aktif mendorong kemandirian daerah melalui ekonomi restoratif.

Lewat sebotol kecil minyak esensial di meja spa kamu, Lana Tumbavani tidak hanya mengantarkan aroma relaksasi, tapi juga membawa cerita tentang pemulihan lahan, pemberdayaan komunitas, dan bukti nyata bahwa merawat alam bisa berjalan beriringan dengan kesejahteraan warga. Mindful vibes!

Pilihan Editor: Mengenal Beda Tren Kecantikan Clean Beauty dan Natural Beauty

SILVY RIANA PUTRI

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |