PROGRAM studi Desain Interior Universitas Mercu Buana membuat perbendaharaan kata khusus (leksikon) bahasa isyarat arsitektur interior bagi komunitas tuli. Pembuatan leksikon itu merupakan bagian dari pengabdian masyarakat dengan skema kerja sama luar negeri (KLN) tahun 2025/2026.
Dosen Tetap Prodi Desain Interior Fakultas Desain dan Seni Kreatif
Universitas Mercu Buana Jakarta Rachmita Harahap mengatakan pihaknya bekolaborasi dengan Malaysian Federation of the Deaf (MFD) sebagai mitra pelaksana. "Tim pengabdi dengan fokus pada pengembangan kosakata teknis bidang desain interior yang selama ini belum terstandar,” ujarnya, Kamis, 9 Juli 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Menurut dosen yang juga menjabat komisioner di Komnas Disabilitas itu, tantangan terbesar bagi komunitas tuli dalam bidang arsitektur interior adalah ketiadaan kosakata bahasa isyarat teknis yang baku. Konsep spasial kompleks seperti sirkulasi, pencahayaan alami, void, dan plafon sering kali tidak memiliki padanan isyarat yang konsisten.
“Kondisi ini memicu komunikasi yang tidak efektif antara desainer, pendidik, dan pemangku kepentingan Tuli, sehingga memunculkan penggunaan isyarat dadakan yang hanya dipahami oleh kelompok kecil,” ujar Rachmita yang juga dosen tuli dan berkarir di bidang umum.
Akibatnya, menurut Rachmita, akurasi desain menurun dan kepercayaan profesional mahasiswa tuli di ruang studio ikut tergerus.
Program pembuatan bahasa isyarat ini menerapkan metode participatory design atau pendekatan kolaboratif yang secara aktif melibatkan pengguna akhir dan pemangku kepentingan dalam proses desain. Tujuannya adalah menciptakan produk atau layanan yang sesuai dengan kebutuhan, preferensi, serta harapan nyata mereka.
Lantaran menggunakan metode participatory design, program ini melibatkan 11 informan kunci, meliputi mahasiswa tuli, praktisi arsitektur dan desainer tuli, dan dosen desain interior tuli. Penelitian dilakukan melalui Focus Group Discussion (FGD) partisipatif, wawancara mendalam, dan observasi lapangan. Tim pelaksana juga melakukan kreasi kolaborasi dan validasi kontekstual terhadap 60 gerakan teknis inti dalam Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO).
“Proses ini memastikan bahwa perbendaharaan kata baru yang dihasilkan tidak hanya benar secara linguistik, tetapi juga relevan secara kultural dan pedagogis,” kata Rachmita.
Leksikon Bahasa isyarat arsitektur interior yang distandarisasi meliputi empat konsep dasar seperti desain, interior, arsitektur, bangunan, dan rumah. Kemudian, elemen dan fungsi ruang, seperti atap, dinding, pintu, jendela, plafon, ventilasi, koridor, ramp, tangga,dan balkon
Leksikon Bahasa isyarat arsitektur interior ini juga mencakup ruang fungsional seperti ruang tamu, ruang keluarga, kamar tidur, dapur, dan garasi. Terdapat pula, elemen bahasa isyarat untuk furnitur seperti kursi, meja, sofa, lemari, dan lampu.
Setiap isyarat dilengkapi dengan deskripsi gerakan tangan dan makna visual yang disepakati bersama komunitas Tuli. Misalnya, kata ‘desain’, diperagakan dengan dua tangan membuat gerakan melingkar di depan dada, menyerupai gerakan menggambar atau mendesain sesuatu di udara.
Kemudian, kata ‘Interior’, diperagakan sebagai kedua tangan membentuk ruang kotak di depan tubuh, dengan telapak tangan saling berhadapan.
Adapula kata ‘Arsitektur’, diperagakan sebagai tangan yang membentuk struktur bangunan dengan gerakan dari bawah ke atas, mewakili fondasi hingga atap. Ini menandakan seni dan ilmu merancang dan membangun keseluruhan struktur.
Rachmita mengatakan ke depan, leksikon ini akan direkomendasikan untuk diintegrasikan secara bertahap ke dalam mata kuliah pengantar arsitektur interior. "Serta dikembangkan dalam versi digital dengan QR code, augmented reality (AR) atau platform e-learning yang aksesibel untuk mendukung pembelajaran mandiri di luar ruang studio,” kata dia.

















































