Mereka Berbicara dengan Harimau, Pawang Rimung

3 hours ago 10

Oleh: Azhar, Pendiri Inisiatif Konservasi Hutan Wakaf (IKHW)

REPUBLIKA.CO.ID, “Rimueng ka jie tamong u gampông, nyan bala ka troh u gampông.” Dalam pemahaman tradisional sebagian masyarakat Aceh, ungkapan tersebut berarti, “Harimau sudah masuk ke kampung, itu pertanda bala atau musibah akan datang ke kampung.” Ungkapan ini memperlihatkan bahwa kehadiran harimau dahulu sebagai tanda yang memiliki makna sosial dan spiritual.

Ketika harimau turun dari hutan dan memasuki ruang kehidupan manusia, masyarakat tidak hanya bertanya dari mana harimau datang, tetapi juga apa yang sedang terjadi dengan keseimbangan hubungan antara manusia, hutan dan alam. Dari pandangan inilah kemudian lahir sosok pawang rimueng, orang yang dianggap memiliki pengetahuan untuk memahami, menghadapi dan “berbicara” dengan harimau.

Di tanah Aceh, harimau tidak pernah hanya dipandang sebagai satwa liar. Dalam ingatan sosial budaya masyarakat Aceh, rimueng adalah penghuni rimba raya yang memiliki kekuatan, wilayah dan aturan yang harus dihormati. Dari hubungan panjang manusia dengan hutan lahir sosok yang dikenal sebagai pawang rimueng, yaitu orang yang memiliki pengetahuan khusus untuk menghadapi harimau. Istilah Pawang Rimueng sendiri tercatat dalam dokumentasi kebudayaan Aceh sebagai salah satu bentuk keahlian pawang (Departemen Pendidikan Nasional, 2001).

Pawang rimueng dalam masyarakat tradisional, ia memahami tanda-tanda hutan. jejak, suara, bau, bekas cakaran, jalur satwa, keberadaan mangsa dan perubahan perilaku lingkungan. Pengetahuan seperti ini dapat dipahami sebagai traditional ecological knowledge, yaitu pengetahuan yang berkembang melalui hubungan panjang masyarakat dengan lingkungan dan diwariskan antargenerasi (Berkes, 2012). Harimau sendiri berkomunikasi melalui aroma, cakaran, suara dan tanda visual, sehingga orang yang hidup lama di hutan dapat mempelajari tanda-tanda keberadaannya (Sunquist & Sunquist, 2002).

Karena itu masyarakat mengatakan bahwa para pawang dapat “berbicara dengan rimueng.” Ungkapan ini tidak harus dimaknai bahwa harimau memahami bahasa manusia secara literal. Secara ilmiah belum terdapat bukti mengenai hal tersebut. Namun, kemampuan pawang membaca tanda dan perilaku harimau dapat menjadi bentuk komunikasi tidak langsung antara manusia dan satwa.

Jejak sejarah pawang rimueng membawa kita ke masa Perang Aceh. Di Tangse, Pidie, muncul nama Peutua Gam Masen, yang disebut sebagai pawang harimau dan tokoh yang berada dalam lingkungan gerilya Aceh sekitar 1910. Namanya tercatat dalam operasi militer Belanda di kawasan Tangse yang menyasar sejumlah tokoh perlawanan (Zentgraaff, Atjeh). Tangse merupakan kawasan rimba raya dan pegunungan yang penting bagi pejuang muslimin. Dalam situasi tersebut, kemampuan membaca hutan, mengetahui jalur, sumber air dan tanda-tanda satwa tentu mempunyai arti strategis.

Kisah ini perlu dibaca secara kritis. Cerita mengenai pawang yang memiliki kekuatan gaib atau mampu mengendalikan harimau merupakan bagian dari tradisi dan kepercayaan masyarakat dan tidak seluruhnya dapat dibuktikan secara ilmiah. Namun, keberadaan istilah dan tradisi Pawang Rimueng sendiri merupakan bagian dari kebudayaan Aceh (Departemen Pendidikan Nasional, 2001).

Tradisi itu terus hidup setelah masa perang. Salah satu garis pewarisan yang paling jelas terdokumentasi terdapat di Aceh Barat, melalui Nyak Sabi - Sarwani Sabi - Jauhari. Nyak Sabi dikenal sebagai pawang harimau dan mengajarkan pengetahuannya kepada Sarwani sejak muda. Sarwani kemudian menjadi salah satu pawang harimau Aceh yang paling terdokumentasi pada masa modern. Ia membantu masyarakat menghadapi konflik harimau dan sejak 2007 disebut bekerja bersama BKSDA Aceh untuk mencegah harimau dibunuh ketika terjadi konflik (Mongabay, 2021).

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |