MLTR Kenang Awal Karier di Prambanan Jazz 2026

10 hours ago 23

BAND pop rock asal Denmark, Michael Learns to Rock (MLTR), tampil untuk yang ke sekian kalinya di Indonesia. Kali ini, Jascha Richter (vokal/keyboard), Mikkel Lentz (gitar), dan Kare Wanscher (Drum) untuk kali pertama bermain di Prambanan Jazz Festival 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Tampil selama satu jam 30 menit, Richter dan kawan-kawan membawakan lagu-lagu andalannya yang membuat lautan penonton di Rukun Stage turut bernyanyi. Meski hanya bertiga di panggung megah itu, namun para penonton dari berbagai kalangan dan generasi memadati arena Rukun Stage sembari bernyanyi dan mengabadikan momen.

Aksi panggung MLTR dibuka dengan lagu “Someday” dengan tempo yang lembut dibalut nuansa rock pada gitar Lentz. Kemudian, Richter mengatakan akan membawakan lagu “Sleeping Child”. “Lagu ini untuk semua anak di seluruh belahan dunia,” katanya di Prambanan, Yogyakarta, Jumat, 3 Juli 2026.

Gitaris grup musik Michael Learns to Rock (MLTR), Mikkel Lentz, ketika tampil dalam festival musik Prambanan Jazz 2026 di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, 3 Juli 2026. Tempo/Martin Yogi Pardamean

Setelah lagu selesai, Lentz menyapa penggemarnya di Indonesia. Ia merasa tersanjung diundang Prambanan Jazz Festival 2026 menjadi bagian dari headliner. “Rasanya senang sekali bisa bermain di Prambanan Jazz Festival. Malam ini kami jadi Michael Learns to Jazz,” katanya sembari tertawa sebelum membawakan lagu “Complicated Heart”.

Selama aksi panggungnya, ketiga personel sering menyapa penggemarnya sehingga menciptakan suasana kehangatan tersendiri. Kini giliran Wanscher yang mengucapkan terima kasih kepada penonton. “Apakah kalian siap kembali ke masa lalu? Kami akan mulai ke yang paling awal, lagu yang spesial bagi kami karena lagu pertama yang kami rilis. Semoga kalian suka,” katanya.

Lalu, intro tembang “I Still Carry On” pun berdendang diiringi vokal syahdu dari Richter. Kemudian mereka juga membawakan lagu “Blue Night” sembari menyinggung nuansa kompleks Candi Prambanan malam itu yang dirasa indah.

“Senang sekali berada di Indonesia lagi dan ini negara favorit kami. Ketika kami memulai band ini kami ada kerjasama dengan label rekaman asal Amerika, dan mereka ingin memasukkan lagu 'The Actor'. Lagu itu dimainkan di radio-radio oleh orang Indonesia dan Asia, dan sangat terkenal hingga mempengaruhi keberlanjutan karier bermusik kami,” kata Richter.

Vokalis grup musik Michael Learns to Rock (MLTR), Jascha Richter, ketika tampil dalam festival musik Prambanan Jazz 2026 di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, 3 Juli 2026. Tempo/Martin Yogi Pardamean

Lagu “Someday It’s Gonna Make Sense” pun berkumandang untuk melanjutkan aksi panggung MLTR. Panggung yang megah dengan latar Candi Prambanan itu dilengkapi dengan perubahan set instrumen menjadi akustik. “Kenapa banyak sekali ini yang menonton kami malam ini? Kami jadi ingin dekat dengan kalian sembari memainkan lagu yang temponya lamban dan sedikit turun dari panggung,” kata Wanscher.

Diiringi grand piano, gitar akustik, dan cajon, MLTR memainkan lagu “I’m Gonna Be Around”  dan “Out of the Blue”. Aksi panggung dengan format akustik itu pun berlanjut dengan lagu “Nothing to Lose” dan “25 Minutes”.

Setelahnya, MLTR istirahat sekitar lima menit sebelum melanjutkan aksi panggungnya. Dengan format band seperti awal penampilan, band yang terbentuk pada 1988 itu pun langsung membawakan “The Actor”. Kemudian aksi panggungnya dilanjutkan dengan “Love Will Never Lie” dan “You Took My Heart Away”.

Drummer grup musik Michael Learns to Rock (MLTR), Kåre Wanscher, ketika tampil dalam festival musik Prambanan Jazz 2026 di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, 3 Juli 2026. Tempo/Martin Yogi Pardamean

Lentz menceritakan asal muasal nama band mereka Michael Learns to Rock, karena band itu dimulai ketika remaja dalam keadaan naif. “Mimpi kami bermain di band rock membawakan musik rock yang sangat bising dan kami masih ganteng waktu. Di masa itu, kami pikir nama band ini sangat keren,” tuturnya. Lalu MLTR memainkan lagu “Wild Women”.

Menjelang akhir aksi panggungnya, MLTR membawakan lagu-lagunya yang paling populer dimulai dari “Breaking My Heart” yang dilanjutkan dengan “Paint My Love”. “Sejak kami datang ke Indonesia pertama kali pada 1994 kami punya hubungan spesial dengan kalian karena kalian memahami musik kami sementara orang lain tidak. Makasih telah andil dalam perjalanan karier kami,” kata Richter. “Musik sangat magis karena musik bahasa universal yang mampu menghubungkan kita semua,” Lentz menimpali.

Namun setelah turun panggung, mendengar penggemarnya yang menyerukan “we want more” beberapa kali. Akhirnya MLTR kembali ke atas panggung. Dua lagu yang paling populer seperti “Take Me to Your Heart” dan “That’s Why (You Go Away)” pun menjadi penutup pamungkas penampilan MLTR.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |