NU dan Kepemimpinan Gus Kikin: Kompas Moral dan Visi Tranformatif Abad Kedua

3 hours ago 11

Ketua Umum PBNU Terpilih periode periode 2026–2031 KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin bercengkerama dengan Pengasuh Bina Insan Mulia Cirebon, KH Imam Jazuli.

Oleh: KH Imam Jazuli, Lc MA, Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Ketika dinamika Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang mereda, sebuah babak baru resmi dibuka.

Terpilihnya KH Abdul Hakim Mahfudz—yang akrab kita sapa Gus Kikin—sebagai Ketua Umum PBNU periode 2026–2031 melalui musyawarah mufakat sembilan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) bukanlah sebuah kebetulan sejarah.

Beliau adalah kulminasi dari kerinduan kolektif akar rumput Nahdliyin akan hadirnya sosok pemimpin yang teduh, mandiri, dan berwibawa di pusaran abad kedua jam'iyah.

Di tengah lanskap sosial-politik kontemporer yang sering kali bergerak transaksional, figur Gus Kikin muncul sebagai sebuah anomali yang menyegarkan.

Beliau bukan sekadar pemimpin yang lahir dari rahim struktural, melainkan pemegang dwi-legitimasi yang sangat langka: nasab biologis sekaligus nasab ideologis dari sang muassis (pendiri) NU, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.

Sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Gus Kikin memikul beban sejarah untuk menjaga warisan suci para pendiri, sekaligus menuntut organisasi ini bercermin pada khittah aslinya.

Membaca profil Gus Kikin tidak akan lengkap tanpa menyelami kedalaman gagasan yang beliau miliki. Saya beruntung memiliki catatan personal yang cukup intens bersama beliau.

Sepanjang ingatan saya, setidaknya ada lima kali pengalaman berharga di mana saya berkesempatan duduk bersama, menyeduh kopi, dan berbincang hangat dengan Gus Kikin dalam berbagai ruang dan momentum yang berbeda.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |