PENYANYI dan penulis lagu asal Korea Selatan SHAUN telah merilis mini album atau EP terbaru bertajuk LAST PAGE pada 30 April 2026. Dalam mini album kedelapan sepanjang karier solonya itu, lima nomor yang masuk di dalamnya total berdurasi 18 menit.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
LAST PAGE bermula dari lagu penutup dalam mini album bertajuk “Diary” yang telah ditulisnya tiga tahun lalu. Sepanjang waktu itu, ia menyimpan dan terkadang menyempurnakan satu lagu itu. “Setelah satu lagu itu selesai saya mulai mengerjakan lagu lainnya, lagu-lagu yang telah saya kerjakan sepanjang tahun 2025,” tuturnya melalui wawancara daring.
Menurut dia, lagu-lagu yang ada dalam LAST PAGE saling berhubungan jika didengarkan secara keseluruhan. “Ketika saya melihatnya secara keseluruhan, rasanya seperti membaca sebuah buku, makanya LAST PAGE judul yang tepat untuk menggambarkan perasaan saat membalik halaman terakhir,” kata dia
Setelah kesuksesannya dengan lagu viral bertajuk “Way Back Home”, SHAUN justru tak pretensius untuk mengejar viralitas lagi melainkan mengeksplorasi spektrum suara yang lebih luas. Dalam lagu-lagunya di mini album ini, ia memasukkan unsur band dengan gitar yang tebal hingga sonic drum live. “Sebelum menjadi artis solo, saya pernah tergabung dalam sebuah band. Gitar, drum live, energi itu tidak pernah asing bagi saya,” ujarnya.
Musikus bernama asli Kim Yoon Ho itu mengatakan format band memberi ruang bagi lapisan instrumen untuk bernapas dan musiknya terasa lebih nyata. “Sangat menyenangkan mendengarkan suara-suara yang telah saya bangun secara diam-diam di studio akhirnya keluar dengan lantang,” kata dia.
Ia juga menuturkan transformasi dari lagu pop menjadi rock punya perbedaan yang signifikan dalam penciptaan, mengingat saat membuat lagu pop, penyanyi berusia 36 tahun itu harus banyak memoles. “Sedangkan dalam musik band rock, ada lebih banyak ruang untuk berkreasi, sesuatu yang terasa mentah dan nyata. Tapi inti dari apa yang saya lakukan tidak berubah yakni melodinya tetap sama bahkan jika kalian menghilangkan semua hal lainnya, melodi tersebut harus bisa berdiri sendiri,” tuturnya.
Sebab itu selama di dapur rekaman, ia berupaya tak memaksakan sebuah konsep terhadap mini albumnya, melainkan koneksi antar lagu muncul secara alami. Ia tak memulainya dengan ide LAST PAGE sebagai mini album, judulnya pun muncul setelah dirinya mengumpulkan lima lagu itu. “Saya mengambil jarak sejenak untuk melihat hasil karya saya. Judulnya muncul belakangan, tetapi begitu tiba-tiba muncul, semuanya terasa pas,” ujarnya.
Sebagai musikus yang aktif di era media sosial, SHAUN tak memungkiri platform itu menjadi kunci artis untuk berinteraksi dengan penggemar saat ini. Namun, kata dia, untuk bisa menjadi viral di media sosial lagunya harus bagus terlebih dahulu. “Lagu yang bagus tetaplah, bisakah saya menyenandungkan melodi ini saja dan merasakan sesuatu? Segala hal lainnya hanyalah omong kosong sekunder,” tuturnya.
Salah satu cara SHAUN untuk menjaga interaksi dirinya dengan para penggemar yakni melakukan live-streaming melalui platform Naver Chzzk. Ruang itu sangat berarti bagi dirinya, apalagi punya suasana informal, sehingga ia bisa melakukan siaran langsung ketika sedang membuat musik, bermain game, atau sekadar menjalani aktivitas sehari-hari. “Para penggemar bisa langsung melihat proses dan hasilnya. Orang di balik layar, bukan hanya produk akhir yang sudah dipoles. Mereka merasa seperti mengenal saya, dan jujur saja, saya menikmatinya,” katanya.


















































