Taman Hutan Raya Raden Soerjo Ditutup setelah Longsor di Jalur Pacet-Cangar, Pakar ITS Amati Kerentanan Lingkungan

18 hours ago 11

TEMPO.CO, Surabaya - Unit Pelaksana Teknis Taman Hutan Raya Raden Soerjo menutup empat lokasi wisata usai terjadinya bencana tanah longsor di jalur Pacet-Cangar pada Kamis kemarin, 3 April 2025..Kepala Tahura Raden Soerjo, Ahmad Wahyudi mengatakan lokasi wisata yang ditutup meliputi Pemandian Air Panas Cangar, Coban Watu Ondo, Coban Watu Lumpang, dan Wisata Panorama Putung Sewu.

"Iya (empat tempat wisata) ditutup, benar (karena tanah longsor)," kata Wahyudi di Malang, Jawa Timur. sebagaimana dilansir dari Kantor Berita Antara.

Berdasarkan Surat Pengumuman Nomor : 522/303/123.7.2/2025.dinyatakan bahwa penutupan lokasi wisata karena cuaca ekstrem, hujan deras, dan potensi longsor di sepanjang Jalan Raya Pacet Cangar. Penutupan dilakukan sampai batas waktu yang belum ditentukan.

Wahyu menjelaskan tanah longsor menyebabkan akses menuju lokasi empat tempat wisata tertimbun material tanah longsor, sehingga tidak bisa dilintasi kendaraan. Proses pembersihan jalur yang juga menjadi penghubung antara Kabupaten Mojokerto dan Kota Batu akan dilanjutkan Jumat ini, 4 April 2024. "Masih dalam proses pembersihan dan dilanjutkan besok," ucap dia.

Ketika tanah longsor terjadi, kata dia, Pemandian Air Panas Cangar, Coban Watu Ondo, Coban Watu Lumpang, dan Wisata Panorama Putung Sewu masih beroperasi. Kendati demikian Wahyu memastikan tidak ada satupun wisatawan di masing-masing lokasi wisata yang menjadi korban tanah longsor tersebut.

"Wisatawan aman, karena longsor yang terjadi bukan di tempat wisatanya, tetapi di antara Air Terjun Watulumpang dan Watuondo," ujar dia.

Dalam video berdurasi 22 detik yang beredar memperlihatkan awal mula kejadian tanah longsor menimpa mobil melintas itu. Video yang diduga berasal dari kamera di dashboard salah satu mobil memperlihatkan kondisi hujan mengguyur lokasi tersebut, hingga pada akhirnya tanah di bagian tebing sisi kanan jalan secara tiba-tiba runtuh ke jalan. Material longsor menutup keseluruhan badan jalan.

Dari unggahan video lainnya, memperlihatkan beberapa orang petugas gabung telah tiba di lokasi untuk meninjau dan mulai melakukan penanganan. Kejadian tersebut menyebabkan satu orang meninggal dunia.

Sementara itu pakar kebencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Amien Widodo mengatakan awal mulanya sebagian besar gunung dibentuk oleh batuan kemudian karena iklim dan pohon, batu berubah jadi tanah. Awalnya pohon berukuran kecil dan terus berusaha mencari nutrisi dari tanah lewat akar.

"Ujung ujung akar mengeluarkan enzim untuk melapukkan batuan. Proses pelapukan akan menyebabkan batuan terurai menjadi ukuran lebih kecil  atau batu berubah menjadi tanah lanau-lempung (berukuran halus < 1 mm)," tutur Amien dalam keterangan tertulisnya. 

Seiring dengan berjalannya waktu,  pohon bertambah besar, akarnya tambah panjang dan tanah ikut menebal. Tanah lereng tidak longsor karena dipegang oleh akar serabut dan akar tunjangnya sebagai paku yang menghujam ke batuan dasar (angker).

"Jadi bila pohon hutan dibabati dijadikan lahan yang lain maka tanah lereng tidak terlindung sama sekali. Bahkan bila ditanami tanaman industri tetap saja tidak bisa menahan longsor," kata dosen dan peneliti senior Departemen Teknik Geofisika ini.

Saat kemarau, biasanya tanah lereng mulai retak-retak dan ambles. Saat musim hujan, air akan masuk retakan dan meresap serta membuat tanah jenuh air.  Air jenuh  akan menambah berat tanah lereng dan menurunkan kohesi (daya ikat) tanah di lereng, sehingga tanah akan longsor seperti cairan. Untuk tanah kawasan gunung api umumnya ada batu batu di dalamnya sehingga saat longsor tidak hanya tanah tapi banyak batu batu yang ikut.

Pilihan Editor: Hujan Ekstrem Sebabkan Banjir dan Tanah Longsor di Yogyakarta, Ini Data BMKG dan BNPB

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |