SLEMAN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kasus keracunan pangan yang menimpa penerima Makan Bergizi Gratis (MBG) di Turi, Sleman, mulai menemukan titik terang. Hasil pemeriksaan laboratorium menemukan kontaminasi bakteri pada sejumlah sampel makanan yang dibagikan melalui SPPG Wonokerto.
Temuan tersebut menjadi perhatian serius karena dari 540 orang yang diketahui mengonsumsi menu MBG dalam data investigasi hingga 11 September 2026, sebanyak 135 orang dilaporkan mengalami gejala sakit.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman menyebut Bacillus cereus sebagai bakteri yang kemungkinan paling besar berkaitan dengan kejadian tersebut. Meski demikian, pemerintah daerah masih menunggu pemeriksaan lanjutan untuk memastikan penyebab secara definitif.
Kepala SPPG Wonokerto Turi, Rifqi Dimas Pratama, menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh penerima manfaat yang terdampak.
“Untuk penerima manfaat yang terdampak semoga lekas pulih, saya mewakili SPPG Wonokerto memohon maaf sebesar-besarnya,” kata Dimas, Rabu (16/9/2026).
SPPG Wonokerto sendiri saat ini dalam kondisi disuspend. Pihak pengelola menyatakan akan menggunakan masa tersebut untuk melakukan pembenahan menyeluruh terhadap sistem pengawasan dan pengolahan makanan.
Dimas mengatakan, kejadian tersebut menjadi evaluasi bagi pihaknya, terutama dalam memastikan keamanan bahan pangan sejak tahap penerimaan hingga makanan siap dikonsumsi.
Salah satu langkah yang disiapkan adalah meningkatkan pemahaman para relawan mengenai berbagai faktor yang dapat memicu munculnya bakteri pada makanan.
Selain itu, SPPG akan memastikan proses pendampingan dilakukan oleh chef yang memiliki sertifikat kompetensi.
Penggunaan alat pelindung diri (APD) bagi seluruh karyawan juga akan lebih didisiplinkan. Langkah tersebut dinilai penting untuk meminimalkan risiko makanan terkontaminasi kuman selama proses pengolahan.
Pengecekan kualitas air yang digunakan di dapur juga akan dilakukan secara berkala. Setiap tahapan pengolahan bahan pangan akan dicatat sebagai bagian dari sistem pengawasan.
Tak hanya melakukan perbaikan internal, SPPG Wonokerto menyatakan akan ikut memantau kondisi penerima manfaat yang terdampak.
“Kami akan sambang ke rumah-rumah (korban terdampak) secara bertahap untuk mengetahui kondisi penerima manfaat,” katanya.
Temuan Bakteri dalam Sampel
Kasus tersebut sebelumnya ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan pangan setelah ratusan penerima MBG di wilayah Turi mengalami sejumlah keluhan kesehatan.
Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Sleman, dr Khamidah Yuliati, mengungkapkan hasil pemeriksaan terhadap sejumlah sampel makanan yang dikumpulkan dari SPPG Wonokerto maupun sekolah penerima MBG.
Sampel nasi yang diambil dari SPPG Wonokerto menunjukkan hasil positif mengandung Bacillus cereus. Bakteri yang sama juga ditemukan pada sampel menu bola-bola daging goreng.
Sementara itu, sampel nasi MBG yang diambil dari SMPN 3 Turi menunjukkan adanya kontaminasi Staphylococcus aureus.
Berbeda dengan nasi, sampel bola-bola daging yang diambil dari SMPN 3 Turi tidak menunjukkan adanya bakteri E. coli, Staphylococcus aureus, maupun Bacillus cereus.
Dinkes Sleman kemudian menggabungkan temuan laboratorium tersebut dengan data epidemiologi dan hasil investigasi pangan untuk menentukan dugaan penyebab kejadian.
“Berdasarkan penggabungan hasil pemeriksaan laboratorium, data epidemiologi maupun hasil investigasi pangan, Bacillus cereus merupakan etiologi yang kemungkinan besar (most likely) terkait dengan kejadian (keracunan) tersebut. Namun, penetapan etiologi definitif masih menunggu hasil pemeriksaan lanjutan dan integrasi seluruh bukti yang tersedia,” kata dr Khamidah.
Dengan demikian, meski Bacillus cereus menjadi kandidat penyebab yang paling mungkin berdasarkan bukti yang telah terkumpul, Dinkes belum menyatakan bakteri tersebut sebagai penyebab definitif KLB.
867 Porsi MBG Telanjur Dikonsumsi
Kejadian tersebut berlangsung pada Senin (7/9/2026). Saat itu, sebanyak 867 porsi MBG telah didistribusikan kepada enam satuan pendidikan.
Menu yang dibagikan terdiri atas nasi, bola-bola daging, sayur kari kol-wortel, edamame, dan semangka kuning.
Enam lembaga pendidikan yang menerima menu tersebut yakni SD Muhammadiyah Balerante, SMPN 3 Turi, SD Tarakanita Ngembesan, TK Indriyasana Ngembesan, SMK Muhammadiyah 1 Turi, dan SLB Tunas Kasih 2 Turi.
Dinkes Sleman kemudian melakukan investigasi terhadap penerima menu. Hingga 11 September 2026 pukul 12.30 WIB, sebanyak 680 responden berhasil dihimpun.
Dari jumlah tersebut, 540 orang mengaku mengonsumsi MBG yang dibagikan pada hari kejadian, sedangkan 140 orang tidak mengonsumsinya.
Dari 540 orang yang mengonsumsi makanan tersebut, sebanyak 135 orang kemudian melaporkan mengalami gejala sakit.
Sebagian korban mendapatkan penanganan secara mandiri, sementara lainnya mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan.
Tercatat 23 orang menjalani pengobatan secara mandiri. Sebanyak 112 orang lainnya mendapat penanganan di fasilitas kesehatan.
Dari 112 pasien yang datang ke fasilitas kesehatan, 110 orang menjalani rawat jalan dan dua orang harus menjalani rawat inap.
Keluhan yang muncul cukup beragam, tetapi didominasi gangguan pencernaan dan gejala umum lainnya.
“Gejala yang paling banyak dilaporkan, pusing, mual, sakit perut, sakit kepala, lemah, muntah dan diare,” terang Khamidah.
Temuan laboratorium tersebut kini menjadi bagian penting dalam evaluasi menyeluruh terhadap penyelenggaraan MBG di SPPG Wonokerto. Di sisi lain, proses pemeriksaan lanjutan masih diperlukan sebelum penyebab definitif KLB tersebut dapat ditetapkan. [*] Disarikan dari sumber berita media daring
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

















































