20 Tahun Gempa Yogya: Edukasi Risiko di Atas Sesar Opak

9 hours ago 18

SEJUMLAH elemen masyarakat menggelar peringatan 20 tahun gempa Yogyakarta sekaligus pelatihan mitigasi bencana di SMA Negeri 1 Kalasan, dekat Candi Prambanan Yogyakarta, Jumat, 22 Mei 2026. Dalam peringatan itu disorot soal besarnya potensi bencana gempa di Yogyakarta, yang secara geografis berada di atas patahan tektonik aktif bernama Sesar Opak.

Pergerakan Sesar Opak ini pernah menjadi episentrum gempa berkekuatan 5,9 pada skala Richter pada 2006 lalu. Saat itu korban tewas lebih dari 5.700 orang.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Lilik Kurniawan, berpendapat, meski sesar itu menyimpan potensi bencana besar, namun tak serta merta solusinya memindahkan permukiman dan bangunan di sekitarnya. "Yang perlu jadi perhatian justru bagaimana ketangguhan masyarakat terbentuk tanpa harus merelokasi mereka dari tanah kelahirannya di sekitar Sesar Opak itu," kata Lilik.

Menurutnya, arahan serupa pernah disampaikan Gubernur DIY Sri Sultan HB X  yang melarang adanya kebijakan menjauhkan masyarakat dari lokasi permukiman asli mereka. "Jangan sekali-kali menjauhkan masyarakat dari tempat tinggal. Ini artinya walau rumah mereka pernah terjadi gempa, tetapi kalau dibangun lebih kuat dari sebelumnya maka diharapkan dampaknya tak separah dulu," kata dia menambahkan.

Penyusuran jalur Sesar Opak guna memitigasi potensi gempa di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin, 10 Januari 2022. (ANTARA/HO-BMKG)

Ia menuturkan, gempa bumi menjadi peristiwa alam yang terus berulang. Namun tidak ada satupun manusia atau institusi yang dapat memprediksi waktu kejadiannya secara tepat. Sehingga, menurut Lilik, yang lebih krusial bagaimana membuat kebijakan untuk melindungi warga di daerah potensi bencana itu. "Salah satunya melalui penguatan struktur fisik bangunan pemukiman di sekitar lokasi Sesar Opak itu, supaya tidak kembali hancur seperti saat bencana serupa melanda seperti 2006 silam," kata dia.

Dalam peringatan yang melibatkan para siswa sekolah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, hingga pelaku wisata seperti Taman Wisata Candi (TWC) itu, Lilik menyatakan pemetaan dan pendataan bangunan rawan di sekitar Sesar Opak yang rawan rusak harus dilakukan. Pemerintah daerah dan pihak terkait menurutnya perlu rutin melakukan pengecekan struktur dan ketahanannya. Agar saat gempa terjadi seperti 2006 lalu tak lagi berdampak secara masif dan memicu korban besar.

"Bencana bisa berulang setelah sekian generasi, para siswa SMA saat ini belum lahir saat gempa 2006 silam, jadi musti diedukasi kesiagaannya," kata dia. Lilik juga mengilustrasikan pentingnya merawat ingatan kolektif untuk kesiagaan bencana. Ia mencontohkan kasus Gunung Sinabung di Sumatera Utara yang tertidur pulas selama sekitar 1.200 tahun atau setara dengan lima belas generasi manusia sebelum akhirnya meletus kembali pada 2010.

Wakil Kepala Bagian Humas SMA 1 Kalasan, Aris Widaryanti, mengatakan, sekolah yang masih masuk dalam jalur Sesar Opak itu turut menjadi korban saat gempa besar mengguncang Yogyakarta 2006 silam. "Gempa saat itu menghancurkan sebagian bangunan sekolah, hampir 50 persen guru dan karyawan juga kehilangan rumahnya karena ikut terdampak gempa itu," kata dia.

Gempa 2006 silam juga menyebabkan kerusakan parah kompleks Candi Prambanan yang juga masuk dalam jalur Sesar Opak. Guncangan gempa itu mengakibatkan banyak batuan penyusun candi runtuh, terutama pada Candi Siwa yang atap dan beberapa bagian tubuh candi mengalami kerusakan struktural dan miring.

"Sehingga Candi Prambanan yang jadi destinasi, perlu menjadi ruang edukasi kesiapsiagaan bencana itu, karena pernah mengalaminya langsung," kata Pengelola Candi Prambanan yang juga Direktur Operasi InJourney Destination Management, Indung Purwita Jati. Dia menambahkan, sepanjang periode Januari hingga Mei 2026 ini pihaknya telah melibatkan sebanyak 1.000 pelajar SMA dari lima kabupaten/kota di DIY untuk edukasi ketangguhan menghadapi bencana.

Adapun Kepala Pelaksana BPBD DIY Agustinus Ruruh Haryata menyebut pasca-gempa 2006 silam, masyarakat terutama yang tinggal dan banyak beraktivitas di sekitar Sesar Opak mendapat edukasi kesiapsiagaan yang intensif. Selain mayoritas telah memperkuat struktur bangunan yang lebih tahan gempa, Ruruh mengklaim masyarakat juga terlatih siap ketika ada kejadian.

"Masyarakat terus diedukasi tata cara mitigasi mulai dari melindungi bagian vital kepala, berlindung di bawah benda yang kokoh, hingga bergerak teratur menuju titik kumpul utama evakuasi," kata dia.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |