Akses Talangpaten-Pelataran Keraton Ditutup Seng, LDA Sebut Bagian dari Revitalisasi

23 hours ago 12
Akses menuju kawasan Pelataran Keraton Surakarta ditutup pagar seng. Penutupan sejumlah akses ini disebut Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta sebagai bagian dari persiapan revitalisasi kawasan Keraton | Foto: Ando

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM Akses dari Talangpaten menuju Pelataran Keraton Surakarta Hadiningrat ditutup menggunakan pagar seng sejak Rabu (2/9/2026) sore.

Penutupan tersebut mendapat sorotan dari pihak Sinuhun Purboyo. Pengageng Pasiten PB XIV Purboyo, GKR Dewi Ratih Widyasari, mengaku tidak mengetahui adanya pemasangan pagar seng tersebut sebelumnya.

Menurut GKR Ratih, tidak ada komunikasi dengan pihak terkait sebelum sejumlah akses di kawasan Keraton ditutup.

“Saya kurang tahu pastinya yang diseng mana saja. Tapi yang kita tahu dari Pakubuwanan, akses kita semua diseng. Tiba-tiba sore saya dapat laporan. Nggak ada omongan apa-apa dari pihak sana,” ujarnya saat dikonfirmasi.

Ia mengatakan, pemasangan pagar seng tersebut tidak hanya dilakukan di akses Talangpaten. Sejumlah akses lain menuju kawasan Pelataran juga disebut ikut ditutup.

GKR Ratih mengaku sempat bertemu dengan Pengageng Sasana Wilapa PB XIV Hangabehi, GKR Koes Moertiyah Wandansari atau Gusti Moeng. Dalam pertemuan tersebut, ia mendapat penjelasan bahwa penutupan akses merupakan respons atas langkah pihaknya sebelumnya yang juga menutup akses.

“Seng pertama-tama tadi dari Langen Katong. Lalu mereka lari ke sini. Saya tanya tadi sempat ketemu Gusti Moeng, ‘Kenapa musti diseng-seng. Lah kowe nggembok-nggemboki yo aku nggembok-nggemboki balik’,” kata GKR Ratih, menirukan perkataan Gusti Moeng.

Akibat penutupan tersebut, pihaknya mengaku kesulitan mengakses sejumlah kawasan, mulai dari Pelataran, Wiworokenyo, Pakubuwanan hingga Talangpaten.

“Akses tertutup. Kita tidak bisa ke Pelataran. Kita dari Pakubuwanan ditutup, dari Wiworokenyo ditutup, Talangpaten juga ditutup sore ini. Ya kita tidak bisa mengakses Pelataran,” jelasnya.

Menurut GKR Ratih, Pelataran merupakan salah satu kawasan penting karena menjadi lokasi berbagai prosesi adat Keraton Surakarta. Ia khawatir penutupan akses tersebut akan mengganggu kegiatan adat yang telah diagendakan.

“Semua prosesi adat di situ. Kita caos dahar setiap Kamis muter di Keraton, kita nggak bisa caos dahar di sana. Belum ada acara besar. Nanti bulan Oktober Tingalan Jumenengan Sinuhun. Kita nggak bisa akses ke sana kalau tidak membuka akses itu,” ungkapnya.

Meski demikian, GKR Ratih menegaskan pihaknya tidak ingin membuka pagar seng secara paksa karena berpotensi menimbulkan benturan.

Ia mengaku telah berkoordinasi dengan Kapolresta Solo dan memilih menempuh jalur hukum terkait persoalan tersebut.

“Kita tadi sudah koordinasi dengan Pak Kapolres. Kita paksa buka lagi bisa, karena yang punya legalitas kita. Tapi kita tidak ingin ada benturan. Kita lihat saja laporannya. Kita proses hukum saja. Kita nggak mau fisik atau apa pun,” katanya.

Ia menambahkan, pihaknya menyerahkan penyelesaian persoalan tersebut kepada aparat penegak hukum.

“Iya (lapor ke Polresta Solo),” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta Hadiningrat, KPH Eddy Wirabhumi, memberikan penjelasan berbeda mengenai pemasangan pagar seng tersebut.

Menurut Eddy, penutupan sejumlah akses merupakan bagian dari persiapan revitalisasi kawasan Keraton yang akan segera dimulai.

Ia menyebut sedikitnya terdapat dua titik yang menjadi lokasi awal revitalisasi, yakni Pendhapa Parangkarso dan Keraton Kulon.

“Tempat penyimpanan gamelan itu juga masuk revitalisasi. Kita sudah mulai besok pagi. Sama Pakubuwanan juga segera kita mulai. Sebentar lagi mulai juga Keraton Kulon,” ujarnya.

Eddy mengatakan, akses menuju kawasan yang tengah dipersiapkan untuk revitalisasi ditutup agar proses pekerjaan tidak terganggu.

“Di depan ada semacam pengumuman tentang revitalisasi. Yang menuju ke akses itu Pakubuwanan seluruhnya kita tutup agar tidak ada gangguan terhadap revitalisasi,” jelasnya.

Ia menyebut penutupan akses tersebut akan berlangsung hingga proses revitalisasi selesai.

“Yang hari ini dua titik, Parangkarso, segera Keraton Kulon. Ya sampai selesai. Mudah-mudahan lebih cepat,” katanya.

Terkait persoalan akses menuju Pelataran, Eddy mengatakan masih terdapat jalur lain yang dapat digunakan. Menurut dia, pihak yang membutuhkan akses ke Pelataran dapat masuk melalui bagian depan Keraton dan Kori Kamandungan.

“Pelataran kalau mau perlu akses bisa lewat depan,” ujarnya.

Eddy juga menanggapi santai rencana pihak kubu Purboyo yang akan menempuh jalur hukum terkait penutupan akses tersebut.

“Monggo, kita ini tidak berjalan sendiri. Keraton bersama Kementerian Kebudayaan. Kalau menempuh itu monggo saja,” tandasnya. [Ando]

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |