Nazwa Audriana
Eduaksi | 2026-07-07 23:12:13
Pendahuluan
Pendidikan Islam
Di tengah derasnya arus pendidikan tinggi saat ini, muncul pertanyaan krusial: untuk apa sebenarnya kita belajar? Apakah tujuannya untuk menggali pemahaman, menginternalisasi nilai, lalu mengamalkannya dalam kehidupan, atau hanya sekadar mengejar IPK tinggi, ijazah, dan validasi formal lainnya?
Tekanan pada metrik kuantitatif membuat budaya akademik bergeser. Mahasiswa berlomba menumpuk sertifikat, piagam, dan prestasi, bukan karena ingin benar-benar menguasai isinya, melainkan demi membuat CV terlihat menarik. Padahal dalam khazanah Islam, ilmu bukan sekadar akumulasi informasi. Ilmu adalah jalan spiritual, alat membentuk karakter, dan tanggung jawab sosial.
Para pemikir Islam klasik seperti Al-Ghazali, Ibnu Sina, dan Ibnu Khaldun menempatkan niat dan adab di atas segalanya. Maka penting untuk menguji: apakah institusi pendidikan Islam sekarang masih sanggup melahirkan thalib al-’ilm—yakni pencari ilmu yang punya etika dan integritas—atau justru mencetak generasi yang terlatih berburu angka?
Hakikat Pendidikan dalam Islam
Islam memandang pendidikan sebagai proses yang menyeluruh. Dimensi intelektual tidak boleh dipisahkan dari dimensi ruhani dan moral. Tidak ada dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum, karena semuanya muaranya sama: pengabdian kepada Sang Pencipta.
Ilmu baru bernilai ibadah ketika diniatkan karena Allah dan diorientasikan untuk kemaslahatan umat. Cita-cita insan kamil menjadi tolok ukur. Artinya, lulusan yang ideal adalah yang matang secara akal, kuat secara spiritual, dan mulia secara akhlak.
Al-Ghazali mengingatkan bahwa ilmu tanpa pengamalan adalah kesia-siaan. Ibnu Khaldun menegaskan bahwa pendidikan adalah mesin penggerak peradaban. Ia membedakan ilmu naqli dan ilmu aqli untuk menunjukkan bahwa wahyu dan rasio harus berjalan beriringan.
Dengan logika ini, keberhasilan tidak bisa diukur hanya dari transkrip nilai. Tolok ukurnya adalah perubahan perilaku: apakah ilmu itu membuat seseorang lebih jujur, lebih peduli, dan lebih bermanfaat bagi orang lain.
Identitas Seorang Pencari Ilmu
Menjadi thalib al-’ilm bukan status temporer. Itu adalah identitas. Cirinya jelas: rendah hati, kritis, haus belajar, dan bertanggung jawab atas ilmu yang dimiliki. Kitab Ta’lim al-Muta’allim bahkan menaruh adab sebagai syarat utama sebelum ilmu itu turun dan berkah.
Sayangnya, di era sekarang idealisme ini sering terbentur realitas. Mahasiswa butuh kerja, butuh beasiswa, butuh portofolio. Itu wajar. Yang jadi masalah adalah ketika motif instrumental ini mengambil alih sepenuhnya. Pertanyaan yang muncul bukan lagi “apa hikmah dari ilmu ini?”, melainkan “bab ini masuk ujian tidak?”.
Ketika orientasi bergeser dari mencari pemahaman menjadi mengejar validasi, maka pendidikan kehilangan jiwanya. Kita tidak lagi belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik, tapi hanya untuk lulus.
Mengapa Orientasi Belajar Bergeser?
Sistem pendidikan kontemporer sangat berorientasi pada output. Segala sesuatu diukur: nilai, ranking, jumlah publikasi. Kondisi ini melahirkan strategi belajar yang pragmatis.
Fenomena “SKS: Sistem Kebut Semalam” masih marak. Mahasiswa menghafal materi menjelang ujian, merekam slide tanpa memahami, dan mengandalkan AI untuk menyelesaikan tugas. Ada juga tren memilih mata kuliah karena “dosennya enak nilainya”, atau mengikuti belasan webinar dalam sebulan tapi tidak ingat satu pun materinya.
Ini bukan salah mahasiswa sepenuhnya. Kurikulum yang terlalu padat, metode evaluasi yang hanya menguji ingatan, dan tuntutan dunia kerja yang menjadikan IPK sebagai gerbang utama, semuanya ikut andil. Akibatnya, nalar kritis tumpul. Mahasiswa dilatih menjadi penampung data, bukan pemikir.
Padahal Ibnu Sina sejak dulu sudah menekankan pentingnya pembelajaran yang memperhatikan psikologi dan potensi individu. Pemaksaan dan tekanan justru membunuh kreativitas.
Digitalisasi: Pisau Bermata Dua
Perkembangan teknologi sejatinya adalah anugerah. Akses ke jurnal internasional, e-book, dan platform belajar kini ada di genggaman. Mahasiswa di Bogor bisa membaca manuskrip dari perpustakaan di Timur Tengah tanpa harus ke sana. AI juga bisa membantu meringkas, menerjemahkan, dan memetakan ide.
Tapi di sisi lain, kemudahan ini memunculkan ketergantungan. Banyak mahasiswa menggunakan ChatGPT untuk membuat esai utuh tanpa memahami isinya. Plagiarisme menjadi lebih halus dan sulit terdeteksi.
Sikap pendidikan Islam seharusnya bukan menolak teknologi, tapi membingkainya dengan etika. Kita perlu literasi digital: kemampuan menyeleksi sumber, mengecek validitas, dan menggunakan AI sebagai asisten, bukan pengganti otak. Tanpa itu, teknologi justru akan mengikis kemampuan berpikir kita sendiri.
Tauhid dan Akhlak sebagai Kompas
Dalam Islam, setiap aktivitas termasuk belajar harus dilandasi tauhid. Artinya, semua diniatkan untuk mencari ridha Allah. Dengan niat ini, belajar statistik, hukum, atau desain bisa menjadi ibadah jika tujuannya untuk menyelesaikan problem umat.
Akhlak adalah barometer. Ilmu tanpa moral itu berbahaya. Sejarah menunjukkan bagaimana teknologi bisa dipakai untuk menipu, menyebarkan kebencian, dan merusak. Sebaliknya, ilmu yang dipandu akhlak akan melahirkan solusi.
Karena itu, adab harus ditanamkan di setiap lini. Kejujuran saat mengerjakan tugas, tanggung jawab saat berdiskusi, dan kerendahan hati saat menerima kritik. Ini tidak cukup diajarkan lewat satu mata kuliah agama. Ia harus menjadi budaya kampus.
5 Langkah Reformasi Pendidikan Islam
Agar ruh pendidikan Islam tidak padam, kita butuh pembenahan nyata:
1. Ubah Paradigma Penilaian
Jangan hanya menilai hasil akhir. Gunakan penilaian proses: portofolio, proyek kelompok, esai reflektif, dan presentasi. Misalnya, mata kuliah sosiologi bisa dinilai dari proyek pengabdian di desa, bukan hanya dari UAS. Umpan balik harus berkelanjutan agar mahasiswa belajar dari kesalahan, bukan takut salah.
2. Wajibkan Literasi Digital dan Etika AI
Masukkan materi ini ke kurikulum. Ajarkan mahasiswa cara membedakan hoaks, cara menyitasi dengan benar, dan batasan penggunaan AI. Buat kebijakan kampus yang jelas: AI boleh untuk memantik ide, tapi analisis harus orisinal. Ini melatih integritas.
3. Leburkan Pendidikan Karakter ke Semua Mata Kuliah
Dosen ekonomi bisa menyisipkan etika bisnis syariah. Dosen hukum bisa membahas keadilan. Selain itu, perlu ada program mentoring dan pengabdian masyarakat. Yang paling penting: dosen harus jadi teladan. Mahasiswa meniru apa yang mereka lihat.
4. Hidupkan Budaya Bertanya dan Berdiskusi
Kampus perlu ruang aman untuk berdebat, kelompok studi mandiri, dan seminar yang tidak kaku. Beri apresiasi untuk penelitian kecil yang berdampak, bukan hanya untuk juara 1. Ketika rasa ingin tahu dihargai, mahasiswa akan belajar karena penasaran, bukan karena takut.
5. Jalin Kerjasama dengan Pihak Eksternal*
Kampus, industri, dan komunitas harus duduk bersama merumuskan kompetensi lulusan. Kompetensi itu tidak hanya teknis, tapi juga mencakup etika, kerja tim, dan kepedulian sosial. Dengan begitu, lulusan tidak hanya “siap kerja”, tapi juga “siap mengabdi”.
Langkah Konkret di Level Fakultas
Reformasi besar dimulai dari hal kecil. Fakultas bisa mulai dengan merevisi RPS: tambahkan tugas berbasis masyarakat. Terapkan penilaian portofolio di beberapa mata kuliah. Adakan workshop literasi digital tiap semester. Bentuk sistem mentoring 1 dosen untuk 10 mahasiswa.
Penilaian juga harus melihat proses: bagaimana argumen dibangun, bagaimana sumber dirujuk, dan bagaimana teori diaplikasikan. Dosen perlu pelatihan agar bisa membuat soal yang menguji pemahaman, bukan hafalan.
Catatan untuk Kita sebagai Mahasiswa
Mari jujur pada diri sendiri. Kita kuliah karena ingin tumbuh, atau karena takut dimarahi orang tua jika IPK anjlok? Motivasi ini menentukan arah kita ke depan.
Mulai dari hal sederhana: biasakan menulis jurnal belajar, aktif di forum diskusi, ikut kegiatan sosial, dan gunakan AI secara bijak. Ingat, menjadi pencari ilmu adalah komitmen harian, bukan status yang otomatis melekat karena kita terdaftar sebagai mahasiswa.
Pendidikan Islam punya fondasi yang kokoh: ilmu adalah amanah. Tantangan zaman seperti digitalisasi dan kapitalisasi pendidikan tidak boleh dijadikan alasan untuk mengorbankan esensi. Justru di sinilah kita diuji.
Jika kampus berani mengubah sistem, dosen mau menjadi teladan, dan mahasiswa mau berintrospeksi, maka pendidikan Islam akan tetap melahirkan thalib al-’ilm sejati. IPK tinggi akan datang dengan sendirinya sebagai konsekuensi dari proses belajar yang sungguh-sungguh, bukan sebagai tujuan utama yang mengerdilkan makna ilmu.
Sebagaimana pesan Ibnu Khaldun, kejayaan sebuah peradaban ditentukan oleh kualitas manusia dan ilmunya. Semoga kampus kita kembali menjadi tempat bertumbuhnya para pencari kebenaran, bukan sekadar pabrik pencetak nilai.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

9 hours ago
11











































