TEMPO.CO, Jakarta - Amerika Serikat menambah jumlah kapal induk yang dikerahkan di Timur Tengah menjadi dua unit. Laporan itu disampaikan oleh Pentagon pada Selasa, 1 April 2025. AS akan tetap mempertahankan satu kapal yang sudah ada di sana dan mengirimkan satu kapal lagi dari Indo-Pasifik.
Dilansir dari Arab News, pengumuman itu muncul saat pasukan AS menggempur pemberontak Houthi Yaman dengan serangan udara hampir setiap hari dalam kampanye yang bertujuan untuk mengakhiri ancaman yang mereka timbulkan terhadap pengiriman sipil dan kapal militer di wilayah tersebut.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Juru bicara Pentagon Sean Parnell menuturkan bahwa Kapal Carl Vinson akan bergabung dengan kapal Harry S. Truman di Timur Tengah. Dia mengatakan penambahan jumlah unit kapal induk itu bertujuan untuk mempromosikan stabilitas regional, mencegah agresi, dan melindungi arus perdagangan bebas di wilayah tersebut.
"Untuk melengkapi postur maritim CENTCOM, sekretaris juga memerintahkan pengerahan skuadron tambahan dan aset udara lainnya yang akan semakin memperkuat kemampuan dukungan udara defensif kita," kata Parnell, merujuk pada komando militer AS yang bertanggung jawab atas wilayah tersebut.
“Amerika Serikat dan mitranya tetap berkomitmen pada keamanan regional di CENTCOM (area tanggung jawab) dan siap menanggapi setiap aktor negara atau non-negara yang berusaha memperluas atau meningkatkan konflik di kawasan tersebut,” ujarnya.
Houthi mulai menargetkan pengiriman di Laut Merah dan Teluk Aden setelah dimulainya perang Gaza pada tahun 2023. Mereka turut menyatakan solidaritas dengan Palestina.
Serangan Houthi telah mencegah kapal melewati Terusan Suez, rute vital yang biasanya membawa sekitar 12 persen lalu lintas pengiriman dunia. Serangan yang sedang berlangsung memaksa banyak perusahaan mengambil jalan memutar yang mahal di sekitar ujung Afrika selatan.
Sehari sebelum pengumuman kapal induk, Presiden AS Donald Trump berjanji bahwa serangan terhadap Houthi Yaman akan terus berlanjut hingga mereka tidak lagi menjadi ancaman bagi pengiriman.
“Pilihan bagi Houthi jelas: Berhenti menembaki kapal-kapal AS, dan kami akan berhenti menembaki kalian. Jika tidak, kami baru saja memulai, dan penderitaan yang sesungguhnya belum datang, baik bagi Houthi maupun sponsor mereka di Iran,” tutur Trump di platform Truth Social miliknya.
Trump menambahkan bahwa Houthi telah “dihancurkan” oleh serangan-serangan “tanpa henti” sejak 15 Maret. Dia juga mengatakan bahwa pasukan AS menyerang mereka setiap hari dengan serangan yang semakin.
Lebih lanjut, Trump turut meningkatkan retorika terhadap Teheran. Trump mengancam bahwa “akan ada pemboman” jika Iran tidak mencapai kesepakatan mengenai program nuklirnya.
Ancaman-ancaman Trump muncul saat pemerintahannya memerangi skandal kebocoran obrolan rahasia secara tidak sengaja oleh pejabat keamanan senior mengenai serangan-serangan Yaman.
Majalah The Atlantic mengungkapkan minggu lalu bahwa editornya—seorang jurnalis AS yang terkenal—secara tidak sengaja disertakan dalam obrolan di aplikasi Signal yang tersedia secara komersial tempat para pejabat tinggi membahas serangan-serangan tersebut.
Para pejabat, termasuk Penasihat Keamanan Nasional Trump, Mike Waltz dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth, membahas rincian waktu serangan udara dan intelijen tanpa menyadari bahwa informasi yang sangat sensitif tersebut sedang dibaca secara bersamaan oleh pers.