Gerakan Mahasiswa dan Kekuatan Narasi Media Massa

2 hours ago 14

Image Galuh Tirta Permana

Politik | 2026-06-25 15:10:32

Gerakan Mahasiswa dan Kekuatan Narasi Media Massa : Antara Kritik dan Mobilisasi

Mahasiswa selama ini dipandang sebagai kelompok intelektual yang memiliki posisi strategis dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Peran tersebut tidak hanya terbatas pada aktivitas akademik di kampus, tetapi juga mencakup tanggung jawab sosial yang lebih luas. Oleh karena itu, sudah saatnya kesadaran kolektif ini dibangkitkan kembali agar mahasiswa benar-benar hadir sebagai agen perubahan yang memberikan solusi nyata bagi persoalan bangsa.

Dalam tradisi Gerakan mahasiswa, terdapat 5 peran utama yang melekat, yakni sebagai Agent of Change (agen perubahan), Guardian of Value (penjaga nilai), Iron Stock (penerus bangsa), Moral Force (kekuatan moral), dan Social Control (pengontrol sosial). Melalui kapasitas intelektual, idealisme serta kepekaan terhadap persoalan publik mahasiswa diharapkan mampu menjadi penggerak perubahan, menjaga nilai-nilai luhur, mempersiapkan kepemimpinan masa depan, menegakkan moralitas sekaligus mengawal kehidupan sosial dan pemerintahan agar tetap pada koridor yang benar.

Fenomena yang ditimbulkan saat ini tentu semakin memudarnya pemahaman siswa terhadap peran strategi yang seharusnya mereka emban. Tidak sedikit mahasiswa yang menjalani kehidupan kampus tanpa benar-benar memahami esensi kemahasiswaan itu sendiri. Padahal, setiap tahun perguruan tinggi menyelenggarakan OSPEK sebagai gerbang awal pengenalan kehidupan kampus.

Dalam praktiknya banyak institusi pendidikan lebih menekankan aspek administrasi dan akademik, sementara pembahasan mengenai identitas, tanggung jawab sosial, dan peran sejarah siswa sering kali terpinggirkan. Akibatnya, lahirlah generasi pelajar yang mengenal kampusnya, tetapi belum tentu memahami misi kemahasiswaannya.

Problematika pemerintahan dan kehidupan masyarakat saat ini sudah mulai sangat runyam, tentunya hal itu tidak terjadi setahun belakangan ini. Pemerintahan saat ini mulai menampakan kebobrokannya secara terang-terangan, mulai dari gemuknya kabinet, penghapusan sejarah di era reformasi tahun 1998 terkait penipuan pada etnis tionghoa, penempatan militerisme di sektor sipil, program makan bergizi gratis (MBG) yang sangat besar anggarannya, bahkan yang terbaru adalah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

Gerakan mahasiswa saat ini masih kurang masif, bukan karena tidak ada yang turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi, bukan juga karena tidak ada mahasiswa yang kritis terhadap isu sosial dan politik di negara ini, melainkan gerakan mahasiswa saat ini tidak dilandasi dengan esensi kemahasiswaan itu sendiri. Sama halnya dengan mahasiswa yang melakukan aksi intensif, 80% dari mereka yang turun ke jalan hanya sekedar ikut berpartisipasi dan meramaikan yang berlabel bahwasanya aksi ini datang dari hati nurani yang cinta ibu pertiwi.

Tidak ada yang salah dan perlu bertanya-tanya dari pernyataan di atas karena hal itu sudah menjadi perwakilan mahasiswa atas keberpihakannya kepada masyarakat. Namun, hal kecil ini bisa menjadi celah kecil yang berdampak besar bagi gerakan siswa atas kelayakannya memerankan 5 peran siswa itu sendiri. Akibatnya, celah kecil itu menjadi peluang bagi massa media untuk memonopoli narasi atas gerakan mahasiswa.

Senin malam 15 Juni 2026 bertepatan dengan awal bulan muharam, Nusron Wahid, Sudaryono dan Budiman Sudjatmiko menghadiri acara diskusi yang bertajuk “Kopdar Bareng Mas Dar” kegiatan tersebut dipandu oleh media Total Politik berakhir ricuh dan dibubarkan setelah Aliansi Mahasiswa UGM menilai forum yang menyelesaikan Nusron Wahid, Sudaryono, dan Budiman Sudjatmiko tersebut tidak berimbang dan hanya menjadi ajang pamer mencapai puncak.

Ketegangan memuncak ketika Budiman Sudjatmiko melontarkan pernyataan yang dianggap menyindir kritik mahasiswa di media sosial, memicu puluhan mahasiswa merangsek naik ke panggung membawa spanduk kecaman serta berpartisipasi dalam yel-yel "Revolusi". Budiman langsung dievakuasi lewat pintu belakang, sementara Nusron Wahid dan Sudaryono yang mobil dinasnya dihadang massa akhirnya memilih turun ke jalan untuk duduk lesehan dan berdialog langsung dengan mahasiswa di aspal Bundaran UGM sebelum akhirnya meninggalkan lokasi dengan pengawalan polisi.

Kejadian ini menimbulkan banyak perubahan terhadap pandangan publik terhadap pelajar peran, hingga akhirnya media massa lainnya memiliki narasi sendiri untuk menjatuhkan bahkan memutarbalikkan fakta atas gerakan pelajar yang akan dibawa ke mana. Hal ini menjadi salah satu cara pemerintah untuk menghancurkan gerakan mahasiswa dari bawah, mereka merenggut dan memobilisasi media massa untuk menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap gerakan mahasiswa.

Pemerintah saat ini tidak hanya pintar untuk melanggengkan dan memperkaya kekuasaan, ia juga mampu menghabisi dan membunuh para pembangkang yang tidak sejalan dengan mereka. Negara ini sudah tidak layak disebut sebagai negara demokrasi, karena suara terus dibungkam dengan berbagai cara, kesalahan terus dibenarkan dan keadilan hanya untuk mereka yang mempunyai jabatan. Otoritarianisme menjadi senjata utama untuk melindungi kegagalan demokrasi, sehingga massa media pun ikut termobilisasi dengan mendukung bahwasanya gerakan mahasiswa saat ini antidemokrasi.

Tidak ada yang perlu disalahkan dalam hal ini, gerakan pelajar harus terus berlanjut karena di tangan pelajarlah yang tergenggam ke arah bangsa. Bukan ketakutan yang harus dipendam, namun keberanian yang terus disatukan untuk melawan rezim saat ini. Jika mereka bisa membuat kita berhati-hati dalam bergerak, maka artinya gerakan pelajar saat ini berhasil membuat pemerintah harus memikirkan segala cara untuk menghentikan gerakan pelajar.

Pada akhirnya, tantangan terbesar gerakan mahasiswa hari ini bukan hanya menghadapi berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai bermasalah, tetapi juga melawan upaya pembentukan opini publik yang berpotensi menimbulkan legitimasi perjuangan mereka. Di tengah derasnya arus informasi dan dominasi narasi media massa, pelajar dituntut untuk kembali pada esensi kemahasiswaannya sebagai agen perubahan, penjaga nilai, kekuatan moral, generasi penerus bangsa, dan pengontrol sosial.

Gerakan mahasiswa tidak boleh berhenti hanya karena tekanan, stigma, ataupun upaya delegitimasi yang terus dilancarkan. Justru dalam situasi seperti inilah keberanian, kesadaran kritis, dan solidaritas antarmahasiswa harus semakin diperkuat. Sejarah telah membuktikan bahwa perubahan besar dalam perjalanan bangsa tidak pernah lahir dari sikap diam, melainkan dari keberanian sekelompok anak muda yang memilih berdiri di pihak kebenaran. Oleh karena itu, selama ketidakadilan masih terjadi dan suara rakyat masih membutuhkan ruang untuk diperjuangkan, gerakan mahasiswa akan tetap relevan sebagai penjaga hati nurani demokrasi dan mengingatkan bahwa kekuasaan tidak boleh berjalan tanpa keberpihakan kepada rakyat.

Galuh Tirta Permana, Kader PMII Wahid Hasyim UII

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |