REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (Ipemi) membahas penguatan ekonomi keluarga dalam audiensi dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA). Kolaborasi tersebut mencakup pemberdayaan ekonomi perempuan, penguatan kapasitas keluarga, serta edukasi perlindungan perempuan dan anak.
Ketua Umum Ipemi Ingrid Kansil bersama Sekretaris Jenderal Nurwahidah Saleh dan sejumlah pengurus Ipemi bertemu dengan Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi di Jakarta, Selasa (1/9/2026). Pertemuan tersebut turut dihadiri jajaran eselon I Kementerian PPPA.
Dalam pertemuan itu, kedua pihak membahas tiga bidang kerja sama. Pertama, pemberdayaan ekonomi yang mencakup peningkatan kapasitas usaha, literasi keuangan, digitalisasi dan kecerdasan artifisial (AI), akses pasar, serta pendampingan usaha.
Kedua, pemberdayaan keluarga melalui literasi pengasuhan, manajemen waktu bagi ibu yang menjalankan usaha, dan edukasi pembagian peran dalam keluarga. Ketiga, perlindungan anak melalui edukasi pencegahan kekerasan terhadap anak, literasi digital, serta pengenalan mekanisme pelaporan apabila terjadi kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Ingrid mengatakan, penguatan ekonomi perempuan perlu berjalan beriringan dengan ketahanan keluarga dan perlindungan anak. Menurut dia, jaringan pengusaha perempuan yang dimiliki Ipemi dapat digunakan untuk menyebarkan edukasi tersebut di tingkat komunitas.
"Program ini dapat mendorong ketahanan ekonomi yang dimulai dari keluarga," ujar Ingrid dalam siaran persnya di Jakarta, Rabu (2/9/2026).
Ia mengatakan, anggota Ipemi tidak hanya diarahkan sebagai pelaku usaha, tetapi juga dapat berperan sebagai penggerak edukasi mengenai keluarga dan perlindungan anak di lingkungan masing-masing.
"Ada peluang agar anggota Ipemi tidak hanya menjadi entrepreneur, tetapi juga menjadi Women Family & Child Protection Champion di komunitasnya," kata Ingrid.
Menurut Ingrid, peran tersebut bukan untuk menggantikan tenaga profesional atau lembaga perlindungan anak. Jaringan Ipemi dapat berfungsi sebagai agen edukasi, penghubung informasi, dan penggerak komunitas agar masyarakat mengetahui akses bantuan ketika menghadapi persoalan perempuan dan anak.
Ipemi juga membahas konsep Women-Friendly & Family-Friendly Entrepreneurship. Konsep tersebut antara lain dapat diterapkan melalui kegiatan pelatihan usaha yang menyediakan ruang ramah anak serta memasukkan edukasi pengasuhan dalam kegiatan kewirausahaan.
Ingrid mengatakan, anggota Ipemi juga dapat memperoleh literasi mengenai pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak serta keamanan anak di ruang digital.
"Dengan demikian, pemberdayaan ekonomi tidak membuat ibu semakin terbebani, tetapi justru memperkuat kemampuan ibu menjalankan perannya," pesan Ingrid.
Sementara itu, Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi menyambut gagasan kolaborasi tersebut. Ia mengatakan, kerja sama dengan Ipemi dapat diarahkan untuk memperkuat kemandirian ekonomi perempuan. "Audiensi ini guna memperkuat sinergi kemandirian ekonomi perempuan," ujarnya.
Kementerian PPPA menilai jaringan Ipemi yang tersebar di berbagai daerah dapat menjadi salah satu mitra dalam penguatan kapasitas usaha perempuan. Kerja sama yang dibahas mencakup peningkatan kapasitas UMKM, literasi keuangan, perluasan akses pasar, serta penguatan kemandirian ekonomi sebagai salah satu faktor yang berkaitan dengan ketahanan keluarga.
Di sisi lain, penguatan ekonomi juga akan dikaitkan dengan edukasi pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak serta perlindungan anak di ruang digital. "Saya berharap, ke depannya Ipemi bisa menjadi UMKM perempuan yang ramah keluarga dan anak," tutur Ingrid.

3 hours ago
11

















































