Kenali Stockholm Syndrome dalam Hubungan Pacaran: Tanda dan Cara Mengatasinya

22 hours ago 13

CANTIKA.COM, JakartaStockholm Syndrome adalah kondisi psikologis yang terjadi ketika korban kekerasan secara emosional terikat dengan pelaku. Ikatan ini bisa berupa perasaan cinta, keinginan untuk melindungi pelaku, menyalahkan diri sendiri atas kekerasan yang dialami, serta menyangkal atau menganggap remeh perlakuan buruk yang diterimanya.

Kondisi ini sering kali membuat korban sulit keluar dari hubungan yang tidak sehat, bahkan cenderung membela pasangannya meskipun mengalami kekerasan atau pelecehan.

Fenomena ini menjadi perhatian serius karena dapat mempengaruhi kesehatan mental dan emosional korban. Oleh karena itu, penting untuk memahami apa itu Stockholm Syndrome, bagaimana tanda-tandanya dalam hubungan pacaran, serta langkah-langkah yang bisa diambil untuk mengatasinya.

Asal-usul Stockholm Syndrome

Istilah ini pertama kali digunakan untuk menggambarkan reaksi psikologis para sandera dalam perampokan bank di Stockholm, Swedia, pada tahun 1973. Dalam insiden tersebut, para sandera justru merasa simpati dan bahkan membela para perampok setelah mereka dibebaskan. Fenomena ini kemudian diadopsi dalam berbagai konteks, termasuk dalam hubungan romantis yang tidak sehat.

Stockholm Syndrome dalam Hubungan Pacaran

Dalam hubungan pacaran, Stockholm Syndrome dapat muncul ketika korban terus bertahan dalam hubungan yang penuh dengan kekerasan fisik, emosional, atau psikologis. Hal ini dapat berujung pada kecenderungan toxic relationship. Berikut beberapa tanda yang mungkin menunjukkan seseorang mengalami Stockholm Syndrome dalam hubungan:

  1. Membela pasangan yang melakukan kekerasan
    Korban cenderung membenarkan atau membela tindakan pasangan meskipun jelas-jelas merugikan dirinya.

  2. Takut untuk meninggalkan hubungan
    Korban merasa takut atau cemas untuk mengakhiri hubungan, meskipun sadar bahwa hubungan tersebut merugikannya.

  3. Mewajarkan pelecehan
    Korban menganggap perlakuan kasar atau manipulatif sebagai sesuatu yang wajar dan dapat diterima dalam sebuah hubungan.

  4. Menyalahkan diri sendiri
    Korban percaya bahwa perilaku buruk pasangan terjadi karena kesalahannya sendiri dan berusaha mengubah dirinya agar kekerasan tidak terjadi lagi.

  5. Mengalami kecemasan atau depresi
    Korban dapat menunjukkan gejala stres, kecemasan, atau depresi akibat tekanan emosional yang terus-menerus dari hubungan yang tidak sehat.

Cara Mengatasi Stockholm Syndrome dalam Hubungan

Jika kamu atau seseorang yang kamu kenal mengalami tanda-tanda Stockholm Syndrome dalam hubungan, berikut beberapa langkah yang bisa diambil:

  • Sadari bahwa hubungan tersebut tidak sehat
    Langkah pertama adalah mengenali bahwa hubungan penuh kekerasan bukanlah bentuk cinta yang sehat.

  • Cari dukungan dari orang terdekat
    Berbicaralah dengan teman, keluarga, atau orang yang dipercaya untuk mendapatkan perspektif lain dan dukungan emosional.

  • Konsultasi dengan profesional
    Menghubungi psikolog atau konselor dapat membantu mengatasi dampak emosional dan mencari strategi untuk keluar dari hubungan yang beracun.

  • Bangun kembali kepercayaan diri
    Fokus pada aktivitas yang membuat kamu bahagia dan memperkuat harga diri.

Stockholm Syndrome di dalam hubungan pacaran bisa sangat berbahaya jika tidak disadari. Penting untuk mengenali tanda-tandanya sejak dini dan mengambil langkah untuk melindungi diri. Jika kamu merasa terjebak dalam hubungan yang tidak sehat, jangan ragu untuk mencari bantuan agar bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan lebih bahagia.

Pilihan Editor: Bahaya Love Bombing dan Breadcrumbing yang Kamu Wajib Tahu!

JOURNAL UNAIR | NIH | TAYLOR AND FRANCIS

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi dan Inspirasi Perempuan di Telegram Cantika

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |