Koreografer senior Wa Ode Siti Marwiyah Sipala atau dikenal sebagai Wiwik Sipala,73 tahun, baru saja menghadirkan kisah legenda Romeo and Juliet ala Bugis dalam balutan sastra, koreografi, musik di panggung. Wiwik menghadirkan Sastra Lisan Bugis, Makassar dan Sumbawa Datu Museng dan Maipa Deapati berjudul “Pilihan Maipa Deapati”, di Gedung Kesenian Jakarta 18 Juni 2026. Meski judulnya menyinggung sastra lisan, namun berisi koreografi yang memadukan seni tradisi dan kontemporer.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
“Saya membuka ruang tafsir secara simbolik dalam pentas ini, saya menggarap kisah ini dengan interpretasi karya ini selama hampir 14 tahun,” ujar Wiwik kepada Tempo, Ahad 21 Juni 2026.
Lakon ini merupakan interpretasi cinta, kehormatan dan pilihan dalam perpektif dialog antara tradisi masa lalu yang mengikat dan masa kini yang membebaskan. Di panggung, Wiwik menghadirkan Rizki D. Manippi yang berperan sebagai Maipa Deapati. Wajahnya ditutup kain saat kisah dimulai. Sambil duduk, ia menggesek rebab yang menghadirkan suara sendu kemudian menarikan gerakan yang lembut di awal cerita. Suasana sendu untuk menggambarkan suasana pinangan Maipa Deapati dengan I Mangalaksa dari Kerajaan Selaparang Lombok di Istana Kesultanan Sumbawa.
Sejatinya hati Maipa Deapati tertambat pada Datu Museng (diperankan Idol Daeng Mappuji, Deka Putra), kesatria dan pengobat dari Kerajaan Gowa. Ia kecewa karena ayahnya, Datu Taliwang (Firlandika Dea Panca Kuling) menerima pinangan pangeran I Mangalassa. Maipa Deapati jatuh sakit karena kekecewaan tadi.
Di panggung, Rizky terlihat berdiri, membuka kain panjang yang menutup wajahnya dan menggesek rebab dengan frustasi dengan iringan gendang atau gandrang Bugis- Makassar yang intens. Ia kemudian masuk di bawah selubung kain dalam posisi tidur. Dikisahkan sakit Maipa makin parah dan Datu Taliwang mengizinkan Datu Museng mengobati putrinya. Saat itu iringan musik perkusi berhenti dan menghadirkan dialog dari tiga tokoh.
Datu Taliwang tak memberikan restu kepada Datu Museng namun mengizinkan untuk mengobati putrinya. Sang ksatria pun dengan tegas menyatakan misinya hanya untuk mengobati saja. "Datu Museng, pemuda cerdas dan satria dari tanah seberang, tambatan hati Maipa, restu tidak saya beri, restu hanya untuk pengobatan Maipa," ujar Datu Taliwang.
Datu Museng mengatakan pengobatan mengharuskan Maipa Deapati mandi di telaga di saat bulan purnama. Jika kemudian terjadi hujan deras disertai petir menyambar itu merupakan pertanda kesembuhannya.
Sang ayah pun terpaksa mengizinkan putrinya mandi di telaga dengan pesan untuk tetap menjaga adat. Maipa Deapati pun naik kuda menuju telaga, diperlihatkan dengan gerakan seperti orang naik kuda mengitari panggung disertai bunyi derap kaki kuda. Di akhir cerita, nyanyian Maipa Deapati pun mengalun meneguhkan sikap dan pilihan hatinya.
Romeo and Juliet Bugis - Sumbawa, Antara Tradisi dan Kontemporer
Kisah cinta Datu Museng dan Maipa Deapati dikatakan sebagai kisah Romeo and Julietnya dari Makassar-Bugis. Kisah tragis Maipa, tewas di tangan kekasihnya namun kemudian Datu Museng pun menyusul ajal Maipa. Kisah mereka berlangsung dengan balutan cerita saat penjajahan Belanda di wilayah Sulawesi tersebut. Beragam versi tentang cerita atau kisah cinta kedua sejoli ini. Namun pada intinya, kedua sejoli Datu Museng dan Maipa Deapati memilih untuk lari bersama menyelamatkan cinta mereka, dikenal dengan silariang atau minggat. Keduanya tewas, cinta mereka berakhir tragis.
Kisah ini didasarkan pada tradisi sastra lisan yang masih hidup di Bugis- Makassar. Wiwik, koreografer asal Raha, Sulawesi Tenggara ini menghadirkan lakon ini dengan balutan seni kontemporer. Tidak hanya dalam unsur visual tapi juga audio untuk menggelitik panca Indera. Ia menggambarkan suasana kesedihan, keheningan dengan tata lampu yang berwarna sendu, dan gelap.
Demikian pula saat di adegan mandi di telaga, ia bahkan menggelapkan panggung tetapi kemudian menghadirkan titik-titik cahaya dari sisi penonton dengan lampu -lampu kecil seperti lilin. Awalnya agak susah untuk melihat adegan karena cukup gelap. Di sini, penonton diajak berimajinasi dalam kegelapan di panggung dengan unsur suara gemericik air yang ditonjolkan. Saat adegan hujan dan halilintar, panggung dan area penonton tetap gelap, sesekali kerjap-kerjap lampu yang menyerupai kilat dan suara gelegar petir memenuhi ruangan.
Wiwik tidak menghadirkan semua tokoh di panggung secara utuh. Hanya peran Maipa Deapati yang mendominasi panggung, sementara dua tokoh lain hanya hadir melalui suara dan bayangan. Panggung juga dihadirkan sederhana dengan tirai dan kain-kain yang menjuntai dan sesekali digulung naik untuk mendukung suasana dan cerita. Para pemusik juga beberapa kali ditonjolkan. Mereka menghadirkan musik musik tradisi Lombok, Bugis- Makassar yang mengiringi koreografi berdasar gerak tari Pakarena.
Dari sisi koreografi, ia mendasarkannya pada tari Pakarena yang pelan, halus namun diiringi dengan perkusi yang sangat dinamis. Tapi kemudian ia pun menghadirkan gerak tari yang melompat, mengangkat kaki tinggi, yang tidak ditemukan di Pakarena.
Pilihan editor:
Seni Peran Lintas Gender
Wiwik menjelaskan ide menghadirkan Rizky, mengingatkan pada beberapa budaya tradisi Indonesia yang menggunakan peran lintas gender. Rizky, lulusan Institut Kesenian Jakarta didapuk menjadi putri Maipa Deapati. Kebetulan dia merupakan putra dari keluarga Kesultanan Sumbawa. Ia cukup mumpuni memerankan Maipa Deapati, memainkan musik rebab, menari dan menyanyikan senandung.
Wiwik mengatakan tradisi lintas gender ini bukan hal baru. Baginya Rizki memenuhi semua aspek yang diinginkan untuk berperan sebagai Maipa Deapati. Ia sudah mengamati kemampuan Rizki sebelum akhirnya memantapkan pilihannya. “Bagi saya, Rizki ini bermain peran. Dia bisa menari, memainkan musik, menyanyi,” ujar Wiwik kepada Tempo pada Ahad, 21 Juni 2026.
Bagi Wiwik peran lintas gender di pementasan ini memang sengaja dimunculkan. Hal ini juga untuk mengigatkan dan menghidupkan kembali tradisi seni budaya Indonesia dengan lintas gender ini sudah berlangsung sejak lama. Ia mencontohkan tradisi tari Lengger Lanang, tari Remo, tari Alusan klasik Jawa dan masih banyak lagi. “Ini cara saya mendekonstruksi ya, tafsir peran, lalu juga melibatkan penonton yang juga sebenarnya sudah ada juga,” ujarnya lagi.
Ia juga menekankan pentasnya ini menggarisbawahi dengan kata sastra. Hal ini karena kisah ini didasarkan pada sastra lisan yang mulai luntur. Ia menggunakan kisah sastra ini dan tetap menjaga konsistensi adegan demi adegan.
“Untuk dialog, saya tetap memakai bahasa Bugis-Makassar yang saya padatkan dari cerita,” ujar Wiwik lagi. Ia hanya mengambil sepotong kisah dua sejoli ini dari cerita panjang mereka.
Pilihan editor:

















































