INFO TEMPO - Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama Republik Indonesia kembali menyelenggarakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Nusantara VI Perguruan Tinggi Keagamaan Se-Indonesia Tahun 2026.
Mengusung tema "Merawat Ekoteologi, Menjaga Tradisi: Meneguhkan Iman, Melestarikan Alam", program berskala nasional ini mendapuk UIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten sebagai tuan rumah. Rangkaian acara dibuka secara resmi oleh Menteri Agama (Menag) RI, Nasaruddin Umar, di Auditorium Gedung Rektorat UIN SMH Banten, pada Rabu, 15 Juli 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Ratusan delegasi KKN Nusantara diberangkatkan pada Kamis, 16 Juli 2026, menuju lokasi pengabdian di desa-desa sekitar Kecamatan Leuwidamar dan Cirinten, Kabupaten Lebak. Kawasan tersebut dipilih karena beririsan langsung dengan wilayah dan kearifan lokal Suku Baduy.
Jadi Cendikiawan Arif yang Bersahabat dengan Alam
Kehadiran Menag Nasaruddin Umar memberikan suntikan filosofis yang mendalam bagi para peserta. Ia mengingatkan bahwa mahasiswa delegasi ini bukan sekadar anak biologis bangsa, melainkan "anak-anak spiritual" perguruan tinggi yang memikul beban ekspektasi tinggi dari masyarakat. Mengibaratkan kampus sebagai bahtera Nuh, mahasiswa adalah mereka yang diselamatkan oleh ilmu pengetahuan.
Menteri Agama (Menag) KH. Nasaruddin Umar memukul bedug meresmikan KKN Nusantara VI Perguruan Tinggi Keagamaan Se-Indonesia 2026 di Auditorium Gedung Rektorat UIN SMH Banten. Dok. PTKI
Dalam arahannya, ia membedah hierarki keilmuan manusia. Ia membedakan antara ilmuwan yang menguasai teori, intelektual yang mempraktikkan teori), dan cendekiawan yang ilmunya berdampak langsung pada masyarakat.
"Di perguruan tinggi umum, masyarakat mungkin hanya melihat 'undzur ma qala' (lihat apa yang dikatakan). Tetapi tuntutan untuk alumni UIN dan Perguruan Tinggi Keagamaan tidak cukup itu, masyarakat akan melihat 'undzur man qala' (siapa yang mengatakan). Ada muruah yang harus kita perhatikan. Jangan menjadi cendekiawan yang cerdas tapi egois menutup pintu dari lingkungannya," tegasnya.
Terkait tema ekoteologi, Nasaruddin mewanti-wanti mahasiswa untuk menanggalkan arogansi akademik setibanya di lokasi KKN. Masyarakat desa adalah laboratorium kehidupan tempat kearifan lokal telah teruji oleh waktu.
"Orang tua kita dulu tidak pernah ditipu oleh alam karena mereka bersahabat dengan alam. Kalian nanti akan melihat ada jarak antara apa yang Anda ketahui di bangku kuliah sebagai kebenaran, dengan apa yang diamalkan masyarakat lokal. Jangan gampang menyalahkan orang lain. Kalian dituntut bukan hanya menjadi orang pintar, tapi harus menjadi orang arif," pesan Nasaruddin.
Sebagai panduan dalam berbaur dengan masyarakat, ia menitipkan delapan nilai karakter yang ia rangkum dalam akronim ISTIQAMAH, yakni: Ikhlas, Sabar, Tawaduk, Ihsan (menebar kebajikan), Qanaah (merasa cukup), Akhlak, Muruah (menjaga kepantasan diri), dan Al-haya' (memiliki rasa malu). Ia juga mencontohkan metode dakwah kultural Wali Songo yang merangkul tradisi seperti penggunaan bedug sebagai sarana harmoni tanpa harus membenturkan keyakinan.
Di sisi lain, Rektor UIN SMH Banten, Muhammad Ishom memaparkan kesiapan institusinya sebagai tuan rumah. Tahun ini antusiasme pengabdian terbilang masif. UIN Banten menerjunkan total 1.400 mahasiswa, di mana 1.200 di antaranya telah lebih dulu dilepas di berbagai kecamatan. Sementara itu, 240 mahasiswa lainnya merupakan delegasi khusus KKN Nusantara dari 42 Perguruan Tinggi Keagamaan (PTK) se-Indonesia.
Pemilihan wilayah Kabupaten Lebak, khususnya kawasan masyarakat Baduy, memiliki nilai strategis yang sangat relevan dengan pesan Menteri Agama. Menurut Ishom, kawasan ini adalah episentrum pembelajaran ekoteologi yang sesungguhnya.
Peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) Nusantara VI Perguruan Tinggi Keagamaan Se-Indonesia 2026 di Auditorium Gedung Rektorat UIN SMH Banten. Dok. PTKI
"Kita sengaja memilih tema merawat ekoteologi, karena pada dasarnya orang Baduy itu memiliki nilai-nilai ekoteologis yang luar biasa. Di Baduy ada kampung Baduy Dalam yang menolak modernisasi demi menjaga kemurnian alam, dan Baduy Luar yang meski terbuka, tetap ketat menjaga kelestarian lingkungannya," ungkap Ishom.
Banten yang lekat dengan julukan daerah "Seribu Kiai, Seribu Pesantren" juga menjadi rumah bagi penganut kepercayaan Sunda Wiwitan. "Artinya, mahasiswa nanti akan belajar secara langsung tentang bagaimana merawat tradisi sekaligus membangun harmoni dengan penganut kepercayaan lain di lapangan," tambahnya.
Menjawab Krisis Melalui Agen Pemberdayaan
Sejalan dengan visi filosofis dan realitas lapangan tersebut, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Sahiron menegaskan bahwa KKN Nusantara adalah langkah konkret Perguruan Tinggi Keagamaan dalam merespons tantangan zaman, khususnya isu lingkungan dan sosial.
Paradigma ekoteologi, menurut Sahiron, menempatkan manusia sebagai khalifah fil ardh (wakil Tuhan di bumi) yang memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kelestarian bumi sebagai rumah bersama.
"KKN Nusantara merupakan salah satu program strategis Kementerian Agama RI. Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya melaksanakan pengabdian sebagai bagian dari tridarma, tetapi juga hadir sebagai agen pemberdayaan masyarakat yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan, kearifan lokal, dan inovasi dalam menjawab tantangan pembangunan," katanya.
Ia juga menekankan bahwa ekoteologi adalah bentuk nyata dari semangat wasathiyyah (moderasi beragama). Moderasi tidak lagi sekadar membangun harmoni antarmanusia, melainkan menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam. Untuk mewujudkan hal ini, mahasiswa dibekali ragam metodologi kontekstual, seperti Asset Based Community Development (ABCD), Participatory Action Research (PAR), Community Based Research (CBR), hingga Service Learning (SL) yang berfokus pada potensi desa.
Untuk memastikan seluruh gagasan besar mulai dari kearifan alam hingga moderasi beragama ini tidak menguap sekadar sebagai euforia seremonial, Kasubdit Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Diktis Kemenag RI, Nur Kafid menegakan bahwa KKN Nusantara VI harus menghasilkan luaran akademik dan sosial yang terukur.
“Kehadiran mahasiswa delegasi se-Indonesia di tengah masyarakat Baduy dan sekitarnya ini tidak boleh hanya untuk sekadar menggugurkan kewajiban SKS. Lebih dari itu, kami menargetkan adanya rekam jejak pengabdian berupa artikel jurnal ilmiah, policy brief yang bisa direkomendasikan kepada pemerintah daerah, serta modul-modul pemberdayaan masyarakat yang adaptif,” ujarnya.
Ia menegaskan, transformasi sosial di Banten harus terdokumentasi dengan baik, agar model penerapan ekoteologi ini bisa menjadi purwarupa yang dapat direplikasi oleh perguruan tinggi lain di masa mendatang.
Dengan kolaborasi multikultural dari 42 PTK se-Indonesia ini, KKN Nusantara VI bukan sekadar menjadi perjalanan akademik biasa. Selama 40 hari ke depan, para mahasiswa mengemban tugas berat namun mulia: melakukan ziarah ekologis, merunduk pada kearifan alam Baduy, sekaligus menebarkan benih harmoni di Bumi Nusantara. (*)















































