Konten Candaan “Chicken Katsu” Viral, Pegawai SPPG Dlingo Bantul Akhirnya  Resmi Dipecat

5 hours ago 22
Ilustrasi pemecatan | freepik

BANTUL, JOGLOSEMARNEWS.COM – Sebuah konten singkat tentang seporsi chicken katsu yang semula diklaim hanya dibuat untuk bersenang-senang justru berujung petaka bagi seorang pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Muntuk, Dlingo, Bantul.

Video tersebut memicu polemik setelah kalimat tentang “hilang ingatan 70 persen” dianggap publik sebagai sindiran terhadap korban keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG). Badan Gizi Nasional (BGN) Regional Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) akhirnya menjatuhkan sanksi pemberhentian kepada pegawai tersebut.

Koordinator Regional BGN DIY, Wirandita Gagat Widyatmoko, mengatakan keputusan itu diambil setelah pihaknya melakukan penanganan sesuai ketentuan yang berlaku.

Menurut Gagat, persoalan tersebut bukan semata-mata menyangkut isi sebuah unggahan di media sosial. Ada persoalan etika, kepatutan, empati, serta tanggung jawab komunikasi yang dinilai tidak dapat dipisahkan dari tugas sebagai bagian dari penyelenggara Program MBG.

“Kami menyayangkan adanya pernyataan tersebut. Setelah dilakukan penanganan sesuai ketentuan, yang bersangkutan telah diberhentikan. Ini menjadi pelajaran bagi seluruh jajaran bahwa bekerja dalam Program MBG tidak hanya dituntut memiliki kemampuan teknis, tetapi juga memiliki etika, empati, sensitivitas, dan tanggung jawab dalam berkomunikasi,” ujar Gagat.

Berawal dari Video Makan Sisa Katsu

Polemik bermula ketika sebuah video yang dibuat oleh pegawai SPPG Muntuk beredar luas di media sosial. Dalam video tersebut, yang bersangkutan tampak sedang menyantap makanan katsu yang disebutnya merupakan sisa hidangan hari sebelumnya.

Saat mencicipi makanan tersebut, ia kemudian mengucapkan kalimat yang belakangan menjadi sorotan.

“Gua makan chicken katsu masakan kemarin apakah masih enak oh tidak. Ingatanku hilang tujuh puluh persen.”

Potongan video itu kemudian menyebar dan menuai reaksi keras dari masyarakat. Kalimat tersebut dikaitkan dengan kasus seorang siswi SMK Bersama Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, yang diberitakan mengalami gangguan kesehatan setelah insiden keracunan dalam program MBG.

Di tengah sorotan terhadap keamanan pangan MBG, unggahan tersebut dianggap tidak sensitif terhadap kondisi korban. Namun, pegawai yang bersangkutan membantah memiliki maksud untuk mengejek korban ataupun mengaitkan videonya dengan persoalan MBG.

Klaim Hanya untuk Bersenang-senang

Dalam klarifikasinya sebelum pemberhentian, pegawai tersebut mengakui membuat video ketika menyantap hidangan katsu pada Jumat pekan sebelumnya. Ia menjelaskan, konten itu dibuat karena ingin bersenang-senang dan menurutnya makanan yang disantap masih terasa enak.

Ia juga membantah ucapan mengenai “kehilangan ingatan 70 persen” berkaitan dengan korban keracunan MBG.

Menurut penjelasannya, kalimat tersebut merujuk pada kondisi penglihatannya yang berkaitan dengan ukuran minus kacamata. Ia juga menegaskan tidak pernah menyebut nama program pemerintah ataupun identitas korban dalam video tersebut.

Menurut dia, persoalan kemudian melebar setelah video yang semula dibuat untuk lingkup terbatas tersebut disebarluaskan oleh orang lain. Video itu, menurut klarifikasinya, awalnya diunggah melalui fitur story WhatsApp dengan pengaturan penonton yang dibatasi. Namun, seseorang yang masuk dalam daftar penerima unggahan tersebut kemudian mengunduh dan menyebarkannya kembali.

Ia pun menyampaikan permintaan maaf dan menegaskan tidak pernah berniat mencari popularitas, menyindir program pemerintah, ataupun melukai perasaan siapa pun.

BGN Tetap Menilai Ada Pelanggaran Etika

Namun demikian, klarifikasi dan permintaan maaf tersebut tidak mengubah keputusan BGN Regional DIY. Lembaga tersebut tetap menilai tindakan pegawai itu telah melewati batas kepatutan, terutama karena dilakukan ketika isu keamanan pangan MBG tengah mendapat perhatian luas masyarakat.

Gagat mengatakan persoalan keamanan pangan seharusnya ditempatkan sebagai masalah serius yang membutuhkan empati dan sikap saling menghormati. Ia meminta seluruh personel SPPG tidak sembarangan memberikan komentar, baik melalui media sosial maupun ruang publik.

“Kita harus memahami sensitivitas persoalan yang sedang dihadapi masyarakat. Jangan sampai persoalan yang seharusnya menjadi pembelajaran bersama justru dikomentari dengan cara yang tidak tepat. Empati dan saling menghormati harus menjadi bagian dari budaya kerja kita,” tegasnya.

Menurut Gagat, setiap unggahan maupun pernyataan personel SPPG dapat berdampak lebih luas karena mereka merupakan bagian dari program pemerintah yang saat ini menjadi perhatian publik.

Karena itu, ia meminta seluruh jajaran BGN Regional DIY tidak terjebak dalam polemik, tetapi menjadikan kasus tersebut sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki kualitas pelayanan.

“Kami mengarahkan seluruh jajaran untuk fokus bekerja. Tingkatkan kualitas pelayanan, pastikan keamanan pangan, laksanakan SOP, perkuat pengawasan, dan berikan pelayanan terbaik kepada penerima manfaat. Saat ini masyarakat memberikan perhatian yang besar terhadap Program MBG, maka jawab perhatian tersebut dengan kinerja yang semakin baik,” instruksinya.

BGN Perketat Pengawasan SPPG

Langkah pemberhentian pegawai tersebut juga disebut sejalan dengan upaya BGN memperkuat tata kelola SPPG secara nasional. Kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP), termasuk dalam aspek keamanan pangan dan profesionalitas personel, menjadi perhatian utama.

BGN menyatakan dapat memberikan sanksi tegas apabila ditemukan persoalan serius yang berpotensi membahayakan penerima manfaat ataupun merusak kepercayaan terhadap penyelenggaraan MBG. Sanksi tersebut dapat berupa penghentian sementara operasional hingga pencopotan kepala SPPG.

Gagat menegaskan bahwa persoalan di Bantul tersebut harus menjadi pengingat bagi seluruh unsur yang terlibat dalam pelaksanaan program.

Mulai dari koordinator wilayah, koordinator kecamatan, kepala SPPG, pengawas gizi, pengawas keuangan, hingga personel dapur diminta menjaga perilaku, integritas, dan profesionalitas.

“Jangan sampai satu perilaku menghapus kerja baik banyak orang. Mari kita jadikan ini pelajaran. Bekerja dengan benar, berkomunikasi dengan baik, dan tetap memiliki empati. Kita hadir untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat, bukan untuk merendahkan pihak lain,” pungkas Gagat. [*]  Disarikan dari sumber berita media daring

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |