Romo Fransiscus Anggras Prijatno, MSF, mempersembahkan Misa Suci dalam rangka Pesta Nama Pelindung Lingkungan St. Matius di Aula Panti Asuhan Karuna, Songgolangit, Gentan, Sukoharjo, Senin (21/9/2026) | Foto: SuhamdaniSUKOHARJO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kisah hidup St. Matius menjadi pengingat bahwa masa lalu bukanlah akhir dari perjalanan seseorang. Dari seorang pemungut cukai yang dipandang sebelah mata dan dianggap sebagai sampah oleh masyarakat, Matius berubah menjadi salah satu murid Yesus dan kemudian dikenal sebagai penulis Injil.
Pesan tersebut disampaikan Romo Fransiscus Anggras Prijatno, MSF saat memimpin Misa Suci dalam rangka Pesta Nama Pelindung Lingkungan St. Matius, Songgolangit, Gentan, Sukoharjo, Senin (21/9/2026) petang.
Misa yang berlangsung di Aula Panti Asuhan Karuna, Jalan Jaka Tingkir, mulai pukul 18.00 WIB tersebut mengangkat tema “Dari Meja Cukai ke Meja Perjamuan: Membuka Hati, Membangun Kebersamaan”, yang dikutip dari Matius 9:10-13.
Dalam khotbah Misa yang dihadiri umat lingkungan St. Matius, para suster MASF serta anak-anak Panti Asuhan Karuna, Romo Anggras mengajak umat melihat perjalanan hidup St. Matius sebagai contoh nyata bahwa seseorang selalu memiliki kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik.
Matius, kata Romo, pada masa lalu dikenal sebagai pemungut cukai. Profesi tersebut membuatnya dipandang buruk oleh masyarakat pada zamannya. Namun, ketika Yesus memanggilnya, Matius memilih meninggalkan kehidupan lamanya dan langsung mengikuti Yesus.
“Dari Matius kita mengenal Yesus. Matius yang dahulu memiliki masa lalu yang kelam sebagai pemungut cukai, kemudian berubah dan menjadi murid Yesus,” ujar Romo Anggras.
Seorang umat menyampaikan pertanyaan kepada Romo Fransiscus Anggras Prijatno, MSF, dalam sesi wawan hati seusai Misa Suci Pesta Nama Pelindung Lingkungan St. Matius di Aula Panti Asuhan Karuna, Songgolangit, Gentan, Sukoharjo, Senin (21/9/2026) | Foto: SuhamdaniUntuk menghidupkan suasana misa, di awal misa, Romo Anggras mengadakan kuis bagi umat Lingkungan St. Matius. Sejumlah pertanyaan berkaitan dengan sosok Matius dilontarkan kepada umat. Mereka yang mampu menjawab dengan tepat mendapatkan hadiah berupa rosario yang telah didoakan oleh seorang suster.
Pertanyaan pertama berkaitan dengan asal nama Matius. Seorang bapak menjawab bahwa nama tersebut berasal dari bahasa Yunani. Jawaban itu ternyata belum tepat. Romo menjelaskan bahwa nama Matius berasal dari bahasa Ibrani.
Pertanyaan berikutnya adalah mengenai arti nama Matius. Seorang ibu menjawab, “Hadiah dari Tuhan.” Jawaban tersebut dinyatakan benar dan ibu itu pun mendapatkan sebuah rosario.
Suasana semakin menarik ketika pertanyaan berikutnya dilontarkan. Romo bertanya, setelah menjadi pemungut cukai, Matius akhirnya menjadi apa? Di tengah umat, tiba-tiba terdengar jawaban lantang dari seorang anak yang masih berada dalam gendongan.
“Murid Yesus!”
Jawaban tersebut ternyata benar, dan bocah kecil itu pun mendapatkan hadiah rosario dari Romo Anggras.
Di sela-sela penjelasan dalam kotbahnya, Romo Anggras juga mengangkat ungkapan Latin “Nomen est omen”, yang dimaknai sebagai nama adalah doa.
Menurutnya, nama Matius yang diberikan orang tuanya mengandung doa dan harapan agar anak tersebut menjadi hadiah dari Tuhan. Dan dalam perjalanan hidupnya, doa tersebut seakan menemukan maknanya ketika Matius benar-benar menjadi pribadi yang membawa kebaikan dan dipanggil menjadi murid Yesus.
“Nama Matius diberikan dengan doa dan harapan agar ia menjadi hadiah dari Tuhan. Nomen est omen, doa dari orang tua yang diselipkan dalam nama,” ujarnya.
Romo Anggras kemudian mengajak umat mengambil pelajaran dari perjalanan hidup St. Matius. Menurutnya, setiap orang harus memiliki kemauan untuk berubah, terutama berubah dari keadaan sebelumnya menuju kehidupan yang lebih baik.
Pesan tersebut sejalan dengan tema Pesta Nama St. Matius yang mengajak umat tidak hanya membuka hati terhadap Tuhan, tetapi juga membangun kebersamaan dengan sesama.
Usai Misa Suci, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Lingkungan St. Matius, Ibu Yuli. Ia menyampaikan terima kasih kepada Romo Anggras yang telah hadir dan memimpin misa. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada seluruh umat atas dukungan dan kebersamaan yang selama ini diberikan sehingga terbangun lingkungan yang hangat.
Sementara itu, mewakili Ketua Wilayah Andreas, Irfan menyampaikan ucapan selamat atas terselenggaranya Pesta Nama Lingkungan St. Matius. Ia berharap perayaan tersebut semakin memperkuat kehidupan iman umat dan mendorong warga lingkungan untuk meneladani perjalanan hidup St. Matius.
“Semoga Tuhan memberikan anugerah-Nya dengan tumbuhnya iman di Lingkungan St. Matius dan warga dapat meneladani kisah hidup St. Matius,” katanya.
Setelah sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan makan bersama sebelum memasuki sesi wawan hati. Dalam sesi tersebut, umat diberi kesempatan menyampaikan berbagai pertanyaan dan berbincang langsung dengan Romo Anggras.
Salah satu pertanyaan yang muncul berkaitan dengan pembagian Gereja Katolik ke dalam struktur organisasi yang bertingkat-tingkati mulai dari paroki, wilayah, hingga lingkungan.
Romo menjelaskan, pembagian tersebut bukan untuk memisahkan umat, melainkan sebagai upaya agar umat dapat semakin saling mengenal dan memiliki peran dalam pelayanan. Dengan lingkup yang lebih kecil, pastor sebagai gembala umat juga diharapkan dapat semakin dekat dengan umat yang dilayaninya.
“Agar tidak ada umat yang tidak mendapat perhatian dari gereja, semua harus mendapat perhatian yang sama,” ujarnya.
Pertanyaan lain disampaikan seorang bapak yang sudah sepuh, yang tinggal di Lingkungan St. Matius. Ia mengaku sejak awal terbiasa mengikuti Misa Suci di Kapel St. Yusuf, Cemani, Banaran. Ia kemudian bertanya apakah kebiasaan tersebut diperbolehkan meskipun dirinya tinggal di lingkungan St. Matius.
Romo Anggras menjawab bahwa umat tidak diwajibkan mengikuti Misa Suci hanya di gereja atau kapel yang secara administratif sesuai dengan lingkungan tempat tinggalnya.
Menurutnya, umat dapat mengikuti misa di tempat yang membuatnya merasa nyaman dalam menjalankan kehidupan imannya.
“Yang penting, dibuat mana yang paling nyaman di hati,” ungkapnya.
Romo Fransiscus Anggras Prijatno, MSF, berfoto bersama pengurus wilayah, pengurus Lingkungan St. Matius, dan umat usai perayaan Pesta Nama Pelindung Lingkungan St. Matius di Aula Panti Asuhan Karuna, Songgolangit, Gentan, Sukoharjo, Senin (21/9/2026) | Foto: SuhamdaniRangkaian Pesta Nama Lingkungan St. Matius tersebut kemudian ditutup dengan foto bersama. Romo Anggras berfoto bersama pengurus wilayah, pengurus lingkungan, serta seluruh umat Lingkungan St. Matius.
Perayaan itupun tidak sekadar menjadi seremoni memperingati santo pelindung lingkungan, tetapi juga menjadi ruang bagi umat untuk mempererat kebersamaan, memperdalam iman, sekaligus belajar dari perjalanan St. Matius tentang keberanian meninggalkan masa lalu dan memilih jalan hidup yang lebih baik. [*]
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.
















































