REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Perjalanan sepotong kemasan bekas tidak selalu berakhir di tempat sampah. Tanpa sistem pemilahan dan pengumpulan yang memadai, material yang sebenarnya masih memiliki nilai dapat terlepas ke lingkungan, terbawa aliran sungai, hingga berakhir di laut.
Di negara kepulauan seperti Indonesia, persoalan tersebut tidak berhenti pada urusan kebersihan. Menjaga laut berarti pula membangun sistem pengelolaan sampah yang bekerja dari hulu hingga hilir—mulai dari kebiasaan memilah di rumah, sekolah, dan komunitas, hingga tersedianya jaringan pengumpulan serta fasilitas daur ulang yang mampu mengolah material tersebut.
Berangkat dari kebutuhan itu, SIG bersama para mitra proyeknya, Plastic Bank, Wuppertal Institute for Climate, Environment and Energy, serta Decision Context, memperluas program “Recycle for Good” di Indonesia.
Perluasan tersebut merupakan bagian dari proyek regional “Recycle for Good – Prevent Marine Litter”, yang didanai melalui ZUG atas nama Kementerian Federal Jerman untuk Lingkungan, Aksi Iklim, Konservasi Alam, dan Keselamatan Nuklir.
Setelah sebelumnya berjalan di Jakarta dan sekitarnya, program kini menjangkau lebih banyak wilayah, antara lain Jawa Barat, Surabaya dan Malang di Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, serta Bali.
Ekspansi ini diarahkan untuk memperkuat ekosistem daur ulang melalui pemilahan, pengumpulan, dan pemrosesan sampah, sekaligus memperluas keterlibatan masyarakat dan para pemangku kepentingan di sepanjang rantai nilai limbah kemasan.
Dari Kebiasaan Memilah hingga Infrastruktur Daur Ulang
Membangun kebiasaan memilah sampah merupakan langkah penting, tetapi bukan satu-satunya jawaban. Sampah yang telah dipilah membutuhkan sistem pengumpulan yang dapat diandalkan dan fasilitas yang mampu mengolahnya agar kembali memiliki nilai guna.
Karena itu, “Recycle for Good – Prevent Marine Litter” dirancang untuk menjangkau berbagai tahapan dalam sistem pengelolaan sampah.
Program ini mencakup edukasi dan dorongan untuk melakukan pemilahan serta pembuangan sampah secara bertanggung jawab di tingkat rumah tangga, sekolah, dan komunitas. Di saat yang sama, program memperkuat sistem pengumpulan, mendukung pengembangan infrastruktur daur ulang, serta mendorong kolaborasi antara pengumpul sampah, pelaku daur ulang, pelaku usaha, institusi, dan komunitas.
Hingga saat ini, inisiatif tersebut telah dilaksanakan di 389 lokasi, dengan dukungan jaringan mitra yang beragam, mulai dari sekolah, komunitas, kafe, pelaku usaha, lembaga keagamaan, hingga pengumpul sampah.
Keterlibatan mereka menjadi bagian penting untuk memperluas akses masyarakat terhadap daur ulang sekaligus membawa praktik pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan ke dalam kehidupan sehari-hari.
“Recycle for Good – Prevent Marine Litter bertujuan membuat daur ulang lebih mudah diakses, praktis, dan memberikan manfaat bagi masyarakat di Indonesia. Masalah sampah laut tidak dapat diatasi hanya melalui peningkatan kesadaran. Namun, diperlukan pula pemilahan yang lebih baik, jaringan pengumpulan yang lebih kuat, infrastruktur daur ulang yang mumpuni, serta partisipasi berkelanjutan dari masyarakat dan para mitra di sepanjang value chain,” ujar Noer Wellington, Commercial Director Asia Pacific South, Japan and Korea di SIG.
Menurut dia, kolaborasi menjadi bagian penting agar lebih banyak kemasan bekas dapat masuk ke jalur pemulihan dan daur ulang yang tepat.
“Bersama para mitra, SIG berupaya memastikan lebih banyak kemasan bekas masuk ke alur pemulihan dan daur ulang yang tepat, sekaligus mendorong kebiasaan daur ulang yang dapat memberikan manfaat lingkungan dan sosial secara berkelanjutan,” katanya.
Memperkuat Mata Rantai yang Selama Ini Bekerja di Balik Layar
Dalam ekosistem daur ulang, pengumpul sampah dan jaringan pengumpulan lokal memegang peranan penting. Mereka menjadi penghubung antara material yang dibuang masyarakat dan industri daur ulang yang membutuhkan bahan baku.
Melalui program ini, SIG dan para mitra berupaya memperkuat konektivitas antara sistem pengumpulan berbasis komunitas dengan saluran daur ulang yang lebih formal.
Pendekatan tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan pemulihan material, tetapi juga mendukung mata pencaharian masyarakat yang bergantung pada ekosistem daur ulang.
Program ini turut memanfaatkan perangkat digital, kegiatan yang melibatkan masyarakat, serta mekanisme berbasis insentif untuk memperluas partisipasi. Tujuannya bukan sekadar menghadirkan kegiatan sesaat, melainkan membantu membangun kebiasaan daur ulang yang lebih konsisten dan berkelanjutan.
Upaya memperkuat sistem di tingkat pengumpulan juga berjalan beriringan dengan investasi pada infrastruktur daur ulang.
Sebagai bagian dari pengembangan tersebut, SIG bekerja sama dengan Eco-Paper untuk meningkatkan peralatan pulping di fasilitas daur ulangnya. Peningkatan ini ditujukan untuk memperkuat kapasitas pemrosesan karton minuman bekas pakai sekaligus membantu menciptakan alur pemulihan yang lebih efektif bagi kemasan yang telah terkumpul.
Dengan demikian, perjalanan kemasan tidak berhenti ketika konsumen membuangnya. Ada upaya untuk memastikan material tersebut tetap berada dalam sebuah siklus—dikumpulkan, diproses, dan kembali dimanfaatkan secara produktif.
Sejalan dengan Penguatan Ekonomi Sirkular
Pengembangan “Recycle for Good – Prevent Marine Litter” juga sejalan dengan arah Indonesia dalam mendorong pengurangan sampah, pencegahan pencemaran laut, penerapan Extended Producer Responsibility (EPR), serta pengembangan ekonomi sirkular.
Pendekatan program mencakup berbagai tahapan pengelolaan sampah, mulai dari perubahan perilaku dan pemilahan di sumber, pengumpulan, penguatan infrastruktur daur ulang, hingga kolaborasi antarpemangku kepentingan.
Melalui pendekatan tersebut, program diharapkan dapat melengkapi berbagai upaya dalam memperkuat sistem pengelolaan sampah di Indonesia, terutama agar material yang masih memiliki nilai daur ulang tidak terlepas ke lingkungan.
Pelaksanaan proyek ini juga diharapkan menghasilkan pengalaman dan wawasan praktis yang dapat menjadi masukan bagi pengembangan kolaborasi berkelanjutan antara industri, komunitas, dan pemangku kepentingan lainnya.
Belajar Bersama Indonesia, Thailand, dan Filipina
Indonesia merupakan salah satu dari tiga negara pelaksana proyek regional “Recycle for Good – Prevent Marine Litter”, bersama Thailand dan Filipina. Proyek di ketiga negara tersebut akan berlangsung hingga Desember 2028.
Secara regional, proyek ini menargetkan pencegahan sedikitnya 10.000 ton limbah kemasan agar tidak masuk ke laut serta melibatkan sedikitnya 100.000 rumah tangga di tiga negara peserta.
Kerja sama lintas negara tersebut membuka ruang bagi Indonesia, Thailand, dan Filipina untuk berbagi pengalaman, data, metodologi, serta praktik implementasi.
Setiap negara tentu memiliki karakteristik sistem persampahan dan kebutuhan masyarakat yang berbeda. Karena itu, pertukaran pengalaman di tingkat regional diharapkan dapat membantu menemukan pendekatan yang dapat disesuaikan dan dikembangkan berdasarkan konteks masing-masing negara.
Pada akhirnya, persoalan sampah laut tidak hanya berbicara tentang apa yang terjadi di laut. Ia bermula jauh sebelumnya—di rumah ketika sebuah kemasan dipilah, di komunitas ketika sampah dikumpulkan, di fasilitas ketika material diproses, dan di sepanjang rantai nilai ketika berbagai pihak memilih untuk bekerja bersama.
Melalui pengembangan jaringan pengumpulan, investasi pada fasilitas daur ulang, serta kolaborasi dengan para mitra di sepanjang value chain, SIG berupaya memperkuat sistem yang memungkinkan kemasan bekas dikumpulkan, dipulihkan, dan kembali dimanfaatkan secara produktif.

2 hours ago
22















































