CANTIKA.COM, Jakarta - Dee Lestari kembali ke musik dan merilis lagu (Jangan) Jatuh Cinta sebagai pembuka dari album solo ketiganya. Lewat lirik khasnya yang lugas namun puitis, Dee mengangkat tema tentang pertarungan antara logika dan hati. Lagu ini berbicara tentang upaya manusia melindungi diri dari luka dengan berbagai alasan masuk akal, sementara perasaan justru berjalan tanpa bisa dikendalikan. Di sini jatuh cinta digambarkan sebagai sesuatu yang hadir tanpa perhitungan, tak menunggu waktu yang tepat, dan kerap datang di saat yang tak ideal.
Kolaborasi Hangat bersama Rendy Pandugo
Dalam prosesnya Dee menggandeng Rendy Pandugo sebagai arranger, dengan Teddy Adhitya sebagai vocal director. Kolaborasi ini menghadirkan aransemen yang terasa hangat dan intim, dipenuhi lapisan gitar yang lembut serta harmoni vokal yang membius. Nuansa musiknya pun mengalir tenang, seolah membiarkan lirik bekerja perlahan menyentuh emosi pendengar.
Beberapa waktu sebelum perilisannya, Dee sempat memperdengarkan cuplikan lagu-lagu barunya dalam showcase bertajuk Bocor Tipis yang digelar di Jakarta dan Yogyakarta. Melalui single ini, Dee berharap kembalinya ia ke dunia musik dapat menjadi awal yang segar, sekaligus pengingat bahwa perjalanan seorang seniman tak selalu berjalan lurus.
Tentang Dee Lestari
Nama Dee Lestari telah lama lekat dengan dunia musik Indonesia. Jauh sebelum dikenal luas sebagai penulis buku ternama, Dee lebih dulu menapaki karier sebagai penyanyi dan pencipta lagu. Kiprahnya bermula bersama grup Rida Sita Dewi pada periode 1995–2003, lalu berlanjut lewat album solo Out of Shell pada 2006. Proyek Rectoverso yang ia rilis pada 2007 bahkan meninggalkan jejak panjang dalam industri musik Tanah Air, dengan lagu “Malaikat Juga Tahu” yang kini telah menjadi karya legendaris dan dinyanyikan lintas generasi.
Selama bertahun-tahun, Dee tetap aktif menulis lagu untuk banyak musisi papan atas Indonesia, mulai dari Marcell, Raisa, Ariel NOAH, Andien, hingga Titi DJ. Ia juga terlibat dalam berbagai kolaborasi besar, termasuk proyek Rapijali Book Soundtrack pada 2021 yang mempertemukannya dengan nama-nama seperti Iwan Fals, Bunga Citra Lestari, Adikara, Mikha Angelo, hingga Barsena Bestandhi.
Namun, kesuksesannya sebagai penulis membuat perjalanan Dee sebagai penyanyi solo seolah berada di balik layar. Selama 17 tahun, ia tak pernah lagi merilis album solo secara utuh, karena memilih fokus menekuni dunia kepenulisan. Hingga sebuah peristiwa personal di tahun 2024 menjadi titik balik yang mengubah arah perjalanannya.
Bernyanyi sebagai Jalan Pulang
Kepergian sang ayah di tahun 2024 meninggalkan duka mendalam bagi Dee. Di tengah kesunyian rumah dan perasaan kehilangan, ia mencoba menghibur diri dengan bernyanyi dengan peralatan sederhana berupa laptop dan speaker, ia menggelar “karaoke” kecil di rumahnya dan dari momen itu, sesuatu kembali hidup dalam dirinya.
Bernyanyi hampir setiap malam selama berminggu-minggu, Dee merasakan proses penyembuhan yang tak terduga. Ritual tersebut bukan hanya membantunya melewati masa berduka, tetapi juga menumbuhkan kembali cinta lamanya pada musik. Dari sanalah tekad itu muncul. Dee ingin kembali bernyanyi dan berkarya, bukan sekadar sebagai penulis lagu, tetapi sebagai seorang penyanyi.
Pilihan Editor: Jadi Pembicara di Doha International Book Fair 2024, Dee Lestari Ungkap Isu Pembajakan Buku
Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

















































