INFO TEMPO - Alunan gendang dan gong bertalu memecah kesunyian di Pesisir Pulau Obi. Malam itu, warga Desa Soligi, Kecamatan Obi Selatan, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara, melaksanakan Pagelaran Kesenian Ngibi.
Pertunjukan seni ini menampilkan Tari Ngibi, tarian tradisional berpasangan dari tanah Buton, Sulawesi Tenggara, yang dibawa oleh leluhur melintasi lautan hingga berakar kuat di Pulau Obi. Tari Ngibi sarat nilai filosofis. Setiap gerakannya menyiratkan rasa syukur atas ditiupkannya roh ke dalam raga.
Dalam gerak gemulai Ngibi, penari laki-laki pantang menyentuh penari perempuan, sebuah simbol penghormatan tertinggi bagi perempuan sebagai perawat kehidupan. Tokoh adat Desa Soligi, Imam La Puasa mengatakan, setiap gerak dan tahapan dalam kesenian Ngibi mengandung pesan moral, nilai hayat, serta jejak sejarah perjalanan masyarakat Buton yang diwariskan dari generasi ke generasi.
“Ngibi bukan sekadar hiburan. Di dalamnya ada nasihat, sejarah, dan identitas yang diwariskan leluhur kami. Karena itu, tradisi ini harus dijaga agar anak cucu tidak melupakan asal-usulnya,” kata dia. Dulu, Tari Ngibi menjadi wujud syukur pascapanen raya. Kini, kesenian tersebut bertransformasi mewarnai berbagai perhelatan sosial.
Pertunjukan Tari Ngibi rutin digelar setelah Hari Raya Idul Adha. Sebelum memulai tarian, imam desa merapal doa sebagai penanda Tari Ngibi berkelindan erat dengan spiritualitas Islam yang dianut masyarakat setempat. Setelah itu, tokoh adat membuka gelanggang lewat entakkan pencak silat, seolah meretas jalan bagi penerusnya.
Sejalan dengan alur kehidupan, sebelum Tari Ngibi dipentaskan, ada Tari Cungka yang dibawakan oleh penari perempuan. Tari Cungka mencerminkan siklus awal denyut manusia di dalam kandungan.
Seusai perenungan filosofis lewat tarian, gelanggang kembali bergemuruh. Kali ini giliran anak-anak sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA) beradu pencak silat. Diiringi sorak-sorai ratusan penonton, adu ketangkasan ini bukan sebagai ajang untuk saling melukai, melainkan simbol sportivitas dan semangat kesatria generasi muda Soligi.
Demi memastikan tradisi tetap melenggang, anak-anak tidak hanya menjadi penonton, namun juga pelaku yang terlibat langsung dalam menjaga warisan budaya tetap eksis. Itu sebabnya, selama beberapa tahun terakhir, masyarakat Desa Soligi melibatkan pelajar dalam Pargelaran Kesenian Ngibi.
"Alhamdulillah setelah ada pagelaran, minat anak-anak semakin berkembang. Dulu mereka hanya berlatih tetapi tidak ditampilkan," kata Guru Tari, Musniati Mahulette. “Acara Pagelaran Kesenian Ngibi dari Harita ini menjadi wadah untuk menampilkan apa yang mereka latih di sanggar.”
Seorang anak Desa Soligi, Desmita Musli, 16 tahun, mengaku sangat suka berlatih tari Cungka di sanggar. Dia jadi lebih percaya diri untuk menampilkan tarian daerahnya. "Awalnya deg-degan, tapi lama-lama tidak. Setelah acara ini saya akan terus berlatih menari," ujarnya.
Kesadaran akan pentingnya regenerasi membuat Ngibi memiliki makna lebih dari sebuah festival budaya. Sebab, sebuah tradisi tidak hilang ketika orang berhenti membicarakannya, melainkan tradisi perlahan memudar ketika tidak lagi dipraktikkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dalam menjaga dan melestarikan budaya leluhur masyarakat Soligi, Harita Nickel sebagai perusahaan teknologi pemrosesan nikel terintegrasi dan berkelanjutan yang beroperasi di Pulau Obi, turut mendukung dalam merawat warisan budaya tersebut. Melalui program tanggung jawab sosialnya, Harita Nickel membantu menghadirkan ruang bagi masyarakat untuk merawat warisan budayanya.
"Kegiatan (Pagelaran Kesenian Ngibi) ini didukung Harita dan merupakan kerja sama pemerintah desa dan tokoh adat,” kata Kepala Desa Soligi, Madaisi La Siriali. “Mari kenali dan lestarikan identitas kita untuk membina generasi muda agar selalu menjaga budayanya.”
Tokoh Adat, Nurwydi Ladqmani mengatakan, dulu tarian kesenian Ngibi hanya ditampilkan untuk persembahan atau pelestarian budaya. Sekarang dibuat seperti lomba karena banyak yang belajar tari dan silat. “Tak hanya turut melestarikan budaya, adanya perusahaan (Harita) membuat perjalanan dari Soligi ke Kawasi lebih lancar," kata dia.
Dukungan dari Harita Nickel menjadi wujud nyata bahwa laju industri hilirisasi tidak mencabut sebuah daerah dari akar kulturalnya. Kehadiran industri justru mengambil peran sebagai katalisator yang memastikan kearifan lokal tetap bernapas.
Community Relation Supervisor Harita Nickel, Wigit Yan Sukmawan mengatakan, perusahaan bersandar pada penghormatan terhadap kearifan lokal. "Bagi kami, merawat kelestarian budaya sama pentingnya dengan menjalankan laju operasional. Tari Ngibi adalah identitas luhur masyarakat Soligi. Perusahaan hadir bukan sekadar menggugurkan kewajiban sosial, tetapi ingin memastikan keberlangsungan tradisi ini ke tangan generasi penerus," kata Wigit.
Pelajar di Desa Soligi, Muhammad Aliyadi, 17 tahun, yang menampilkan silat berharap Harita dapat menggelar acara tersebut setiap tahun. "Kami jadi berani tampil di depan banyak orang. Kalau dari Harita juga biasanya ada lomba dan kemarin tim kami juara 1, dapat sertifikat dan uang untuk membeli sepatu," ujarnya.
Harita Nickel bersama warga Desa Kawasi menggelar kegiatan Jelajah Warisan Budaya di Benteng De Brill, Pulau Obi, Maluku Utara, pada Sabtu, 23 Mei 2026. DOK. HARITA NICKEL
Merawat Peninggalan dan Jelajah Warisan
Benteng De Brill, peninggalan kolonial Belanda yang dibangun pada 1674 di pesisir barat Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara, tak luput dari perhatian Harita Nickel. Benteng De Brill yang sempat tertutup rimbunnya hutan telah berubah menjadi cagar budaya di bawah pengelolaan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Maluku Utara bersama Harita Nickel.
Head of Technical Support Harita Nickel, Dian Kristiyanto mengatakan, perusahaan sangat menyadari nilai kultural lokasi-lokasi tersebut. "Kami menetapkan perimeter khusus agar Danau Karo dan Benteng De Brill aman dari aktivitas pertambangan maupun smelter," ujarnya. Proteksi bahkan diperkuat melalui Chance Find Procedure, yakni protokol wajib penghentian sementara seluruh aktivitas kerja jika sewaktu-waktu ditemukan potensi cagar budaya baru di lapangan.
Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Kawasi, Reinhard Siar mengapresiasi transparansi perusahaan yang membuka akses menuju situs bersejarah dan kawasan ekologis. "Kami telah membuktikan, alam di sekitar Danau Karo tak rusak seperti isu yang beredar. Danau terawat dan kehadirannya (Harita Nickel) turut menyumbang pajak air permukaan bagi pembangunan daerah," ucapnya.
Dua pemuda setempat, Jofi Cako dan Teo Jurumudi memandu sekitar 30 warga desa dalam "Jelajah Warisan Budaya" yang berkolaborasi dengan Harita Nickel. Mereka mengajak masyarakat menelusuri kembali jejak leluhur yang kini berada dalam Kawasan Industri Obi.
Ketua Adat Desa Kawasi, Otniel Datang yang turut serta dalam rombongan jelajah menceritakan orang tua mereka menamai perairan itu Talaga Diki-Diki atau Talaga Ma Hilo dalam bahasa Tobelo, suku pertama yang mendiami Pulau Obi. Artinya, Danau Damar, merujuk pada kebiasaan warga lampau yang kerap mencari getah damar di sekitarnya sebagai pelita malam. "Suasananya tak banyak berubah. Pulau kecil itu tetap ada, airnya pun jernih dan hijau. Ini warisan yang harus kita jaga bersama," ujar Otniel.
Secercah harapan muncul dari Pulau Obi. Sebuah pertanda bahwa deru mesin pembangunan tidak mengikis jejak sejarah dan warisan para leluhur. Melalui berbagai upaya pelestarian tradisi, Harita Nickel turut mendukung pewarisan nilai-nilai dan peninggalan budaya Pulau Obi kepada generasi berikutnya, sehingga identitas lokal tetap terjaga dan hidup di tengah arus perubahan zaman. (*)

















































