WALI Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menyatakan akan menyiapkan anggaran untuk memperbanyak populasi becak listrik dalam upaya mentransformasi moda transportasi di Kota Yogyakarta yang ramah lingkungan.
Hal ini akan dilakukan bertahap setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X secara resmi meluncurkan becak listrik kepada publik di Yogyakarta, Kamis, 16 Juli 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
"Kalau untuk memenuhi kebutuhan di kawasan Malioboro saja, sebenarnya masih kurang sekitar 700 unit becak listrik lagi, karena saat ini baru tersedia 320 unit," kata Hasto, Jumat, 17 Juli 2026.
Untuk mengatasi kekurangan moda tersebut, pemerintah kota belakangan gencar menjalin kerja sama dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) agar bersedia memberikan bantuan armada pendukung tambahan.
Pemkot Yogyakarta juga akan menyiapkan dana cadangan yang bersumber dari anggaran daerah untuk memastikan program transformasi moda ramah lingkungan ini berjalan lancar. Mengingat saat ini populasi becak motor di Yogya kian tinggi.
"Kami sebenarnya juga telah mengajukan proposal ke beberapa mitra untuk bisa menambah becak listrik ini, tetapi kami juga siapkan backup melalui APBD 2027," kata dia. "Jadi seandainya bantuan dari mitra-mitra itu belum mencukupi, kami backup dari APBD."
Mantan Bupati Kulon Progo dua periode itu mengkalkulasi setidaknya dibutuhkan anggaran sekitar Rp 10-15 miliar untuk mendekati target populasi 1000 becak listrik tahun depan. Kalkulasi itu berasal dari harga per unit becak listrik yang kini berkisar Rp 35 juta .
Selain menambah unit armada, Hasto menjelaskan bahwa pemerintah juga membangun ekosistem penunjang secara menyeluruh agar operasional di lapangan dapat berkelanjutan. Infrastruktur yang disiapkan meliputi 12 titik stasiun pengisian daya serta tiga armada layanan servis (bengkel) bergerak atau mobile. Jika ada unit yang bermasalah pun bisa segera diperbaiki sehingga tidak mangkrak.
Lokasi penempatan fasilitas pengisian daya pun akan didiskusikan dengan para pengayuh becak agar posisinya tepat sasaran.
Upaya elektrifikasi transportasi tradisional di Yogya ini sebelumnya juga mendapat bantuan Kementerian Keuangan, berupa hibah 80 unit becak listrik melalui Pusat Investasi Pemerintah (PIP).
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan seluruh rantai produksi modernisasi moda transportasi ini melibatkan 100 persen tenaga lokal Yogyakarta melalui program teaching factory di SMK Negeri 3 Yogyakarta. "Saya titip, stasiun pengisian daya harus benar-benar menyala, mudah digunakan, dan dirawat dengan baik," kata Purbaya, Kamis lalu.
Presiden Direktur PT Langit Biru Istimewa (LBI) Ary Tjahyono selaku produsen becak listrik itu mengatakan unit ini bukan untuk menyingkirkan pengayuh tradisional, melainkan untuk membantu meningkatkan produktivitas serta pendapatan mereka agar mampu bersaing dengan kendaraan bermotor bensin.
"Selama ini pengayuh becak bekerja sangat keras, bahkan seringkali harus bersaing dengan becak motor bensin yang lebih cepat. Unit ini sebagai kaki tangan yang meringankan beban tenaga sekaligus meningkatkan pendapatan mereka," kata Ary.
Secara teknis, pengembangan becak listrik ini menerapkan metode reverse engineering untuk menjamin standar keamanan prima dan telah mengacu pada Surat Edaran Dirjen Hubdar/Kemenhub Nomor AJ. 005/3/5/DJPD/2019 sehingga legal beroperasi di jalur pariwisata.
Kendaraan ini dibekali motor listrik berkekuatan 750 Watt dengan torsi 100 NM yang mampu mengangkut beban hingga 300 kilogram serta melewati tanjakan dengan tingkat kemiringan hingga 15 persen.
Menggunakan sistem kelistrikan tegangan rendah 48 Volt dengan sertifikasi tahan debu dan air kelas IP67, becak listrik ini ditopang baterai LiFePo4 yang memiliki daya jelajah hingga 50 kilometer dengan kecepatan maksimal mencapai 20 kilometer per jam untuk satu kali pengisian daya. Dari sudut kelestarian alam, penggunaan becak listrik ini diklaim mampu menekan emisi karbon secara signifikan.


















































