CANTIKA.COM, Jakarta - Penampilan Emma Stone di ajang BAFTA Awards 2026 lalu sempat mencuri perhatian publik. Aktris pemenang Oscar tersebut tampil elegan dengan gaun hitam ramping di karpet merah pada 23 Februari. Namun, di balik pujian terhadap gaya penampilannya, seorang ilmuwan nutrisi justru menyoroti hal lain yang dianggap lebih penting dari sekadar estetika.
Ahli nutrisi anti-diet, Jess Baker, mengungkapkan kekhawatirannya melalui sebuah video di Instagram yang diunggah pada 4 Maret. Dalam analisisnya, Baker menilai ada indikator klinis yang berpotensi mengarah pada kondisi kekurangan gizi yang terlihat dari penampilan tubuh Stone saat menghadiri acara tersebut.
Menurut Baker, salah satu tanda yang ia perhatikan adalah tulang selangka yang tampak sangat menonjol hingga ke area proses akromion, yaitu titik tertinggi bahu tempat tulang selangka bertemu dengan tulang belikat. Ia menjelaskan bahwa dalam kondisi tubuh yang mendapatkan nutrisi cukup, area tersebut biasanya tidak terlihat terlalu jelas atau menonjol.
“Secara klinis, ketika seluruh tulang selangka hingga proses akromion terlihat sangat jelas, itu bisa menjadi indikator bahwa tubuh tidak mendapatkan cukup nutrisi,” jelas Baker. Ia menambahkan bahwa pernyataannya bukan dimaksudkan untuk mempermalukan siapa pun, melainkan untuk menyoroti bagaimana standar kecantikan di industri hiburan sering kali mengarah pada tubuh yang sangat kurus.
Emma Stone/Foto: Instagram/BAFTA
Baker juga menyinggung tren penggunaan obat penurun berat badan berbasis GLP-1 receptor agonists yang belakangan semakin populer, termasuk di kalangan selebriti. Menurutnya, ada kekhawatiran bahwa sebagian orang yang sebenarnya sudah berada dalam rentang berat badan sehat tetap menggunakan obat tersebut demi mencapai tubuh yang lebih kurus.
Ia mengkritik praktik medis yang meresepkan obat penurun berat badan kepada individu yang sudah sangat kurus, karena hal itu dapat memperkuat standar tubuh yang tidak realistis dan berpotensi berbahaya bagi kesehatan.
Lebih jauh, Baker menekankan bahwa kekurangan gizi bukan hanya soal berat badan. Kondisi ini bisa berdampak serius pada kesehatan tubuh, mulai dari rambut menipis, rasa lapar berlebihan, peningkatan risiko Insulin Resistance, penurunan massa tulang, kelelahan kronis, hingga melemahnya sistem imun. Dalam kasus yang lebih parah, kekurangan nutrisi juga dapat memengaruhi kesuburan, meningkatkan risiko komplikasi kehamilan, bahkan berujung pada kondisi yang mengancam jiwa.
Ia pun mengingatkan bahwa mengejar standar kecantikan yang terlalu ekstrem tidak sebanding dengan risiko kesehatan yang harus ditanggung. Menurut Baker, standar kecantikan yang sering ditampilkan di media sosial maupun industri hiburan sebenarnya bukanlah standar yang realistis bagi kebanyakan orang. “Standar kecantikan yang kita lihat saat ini bukan benar-benar standar, melainkan sebuah ekstrem,” ujarnya.
Diskusi ini kembali membuka perdebatan lama tentang tekanan tubuh ideal di industri hiburan, sekaligus menjadi pengingat bahwa kesehatan seharusnya tetap menjadi prioritas utama dibanding sekadar mengejar penampilan.
ECKA PRAMITA | HINDUSTAN TIMES
Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.


















































