Puluhan Negara Dikenai Tarif Trump yang Tinggi Kecuali 4 Negara Ini, Ada Apa?

15 hours ago 16

TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi memberlakukan kebijakan tarif impor baru, yang dikenal pula tarif Trump, yang menggegerkan pasar global.

Melalui Perintah Eksekutif yang diumumkan pada "Hari Pembebasan" di Rose Garden, Gedung Putih, Trump menetapkan tarif dasar sebesar 10 persen untuk hampir semua negara, dengan tarif lebih tinggi dikenakan kepada sekitar 60 negara yang dinilai memiliki hubungan dagang "paling tidak adil" dengan AS. Namun, di tengah kebijakan yang luas tersebut, terdapat empat negara yang justru dikecualikan dari tarif ini adalah Rusia, Korea Utara, Belarusia, dan Kuba.

“Kuba, Belarusia, Korea Utara, dan Rusia tidak termasuk dalam Perintah Eksekutif Tarif Resiprokal karena mereka sudah menghadapi tarif yang sangat tinggi dan sanksi yang telah kami jatuhkan sebelumnya menghalangi perdagangan dengan negara-negara itu,” kata seorang pejabat Gedung Putih yang berbicara secara anonim seperti dilansir Antara.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Menurut seorang pejabat AS yang memberikan keterangan kepada wartawan sebelum pengumuman resmi, impor barang dari sekitar 60 negara akan dikenakan tarif di atas 10 persen. Dokumen yang dibagikan kepada wartawan menunjukkan beberapa tarif resiprokal yang ditetapkan, termasuk tarif 34 persen untuk barang dari Cina, 20 persen untuk Uni Eropa, 46 persen untuk Vietnam, dan 44 persen untuk Sri Lanka.

Menariknya, beberapa negara seperti Inggris, Kenya, Islandia, Panama, Ethiopia, Lebanon, dan Togo termasuk di antara negara-negara yang dikenakan tarif minimal 10 persen. Singapura juga tercatat dalam daftar negara yang dikenakan tarif dasar 10 persen.

Tarif Trump ini dikenakan secara umum pada hampir semua negara yang melakukan perdagangan dengan AS. Negara-negara seperti Singapura, Inggris, dan beberapa negara lainnya masuk dalam kategori ini. Kemungkinan, tarif 10 persen ini dianggap sebagai tarif awal atau "standar" yang diberlakukan untuk menciptakan kesetaraan yang lebih besar dalam hubungan dagang secara global.

Dilansir dari Aljazeera, tarif yang lebih tinggi dikenakan pada negara-negara yang dianggap AS memiliki praktik perdagangan yang "tidak adil" atau mengenakan tarif yang lebih tinggi pada barang-barang AS.

Contohnya adalah Cina (34 persen), Uni Eropa (20 persen), Vietnam (46 persen), dan Sri Lanka (44 persen). Besaran tarif yang lebih tinggi ini kemungkinan didasarkan pada analisis perbandingan tarif yang diberlakukan oleh negara-negara tersebut terhadap produk AS.

Kebijakan ini langsung mengguncang pasar global. Indeks Nasdaq merosot lebih dari 5,3 persen, sementara Dow Jones jatuh 3,3 persen dalam perdagangan menjelang siang. Investor khawatir akan terjadinya inflasi akibat kenaikan harga barang impor, dan para pakar memperingatkan risiko resesi atau bahkan stagflasi di AS.

Perusahaan-perusahaan AS khawatir akan dampak yang lebih luas dari langkah ini: biaya yang lebih tinggi akan dibebankan kepada pelanggan mereka. "Apa yang kami dengar dari berbagai perusahaan dari berbagai skala, di semua industri, dari seluruh negeri adalah bahwa tarif yang luas ini adalah kenaikan pajak yang akan menaikkan harga bagi konsumen Amerika dan melukai perekonomian," kata Neil Bradley, kepala kebijakan di Kamar Dagang Amerika, kelompok lobi perusahaan.

Axios melansir, para pakar melihat peluang resesi ekonomi yang lebih kuat tahun ini, di samping harga-harga yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih lemah akibat perang dagang. Ketidakpastian kebijakan perdagangan membuat bisnis berada dalam ketidakpastian dan pasar saham gelisah. Survei ekonomi terbaru menunjukkan bahwa konsumen berencana untuk mengurangi belanja dan bersiap-siap menghadapi harga yang lebih tinggi.

Jika cukup meluas, penurunan permintaan dan kenaikan harga yang stabil akan menghasilkan hasil yang ditakuti oleh orang Amerika: "stagflasi" ekonomi. Stagflasi dapat dipahami sebagai situasi ekonomi yang ditandai dengan pertumbuhan yang lambat dan tingkat pengangguran yang tinggi disertai dengan inflasi.

Sita Planasari dan Ida Rosdalina turut berkontribusi dalam penulisan artikel ini.
Pilihan editor: Respons Tarif Impor AS Dinaikkan Tinggi, Ini Sederet Langkah Balasan dari Cina

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |