Trump dan PM Irak Bahas Kerja Sama Bilateral di Gedung Putih

8 hours ago 22

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa 14 Juli 2026 menerima kunjungan resmi Perdana Menteri Irak yang baru Ali al-Zaidi di Gedung Putih. Pertemuan kedua pemimpin itu bertujuan untuk mengukuhkan hubungan bilateral sembari menjaga stabilitas hubungan dengan negara-negara kawasan.

“Kunjungan ini akan berfokus pada isu-isu keamanan, investasi, dan energi,” kata Al-Zaidi dilansir dari Asharq Al-Awsat.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Pertemuan dengan Trump menjadi kunjungan resmi pertama setelah menjadi perdana menteri. Al-Zaidi mengatakan bahwa Irak tidak lagi mengizinkan pihak eksternal memasukan senjata ke wilayahnya, setelah Amerika mengakhiri misinya pada 30 September mendatang. 

Washington mendesak Baghdad agar menerapkan kontrol penuh atas kepemilikan senjata, sekaligus memberangus faksi-faksi militer yang berafiliasi dengan Teheran.

Seturut dengan arahan Gedung Putih, Al-Zaidi mengatakan bahwa otoritas keamanan Irak telah menyita sejumlah senjata dari beberapa faksi militer. 

“Setelah 30 September, kami tidak mengizinkan pihak manapun di luar negara bagian untuk membawa senjata,” dia menegaskan.  

Sementara itu, Trump memuji Al-Zaidi dengan mengatakan bahwa dia adalah “sosok pemimpin hebat”,dia pun optimis AS dan Irak akan memiliki hubungan yang langgeng.

Di sela-sela pertemuan resmi mereka, Washington menyatakan akan menandatangani memorandum kerja sama pada pekan depan di sektor energi dengan Baghdad. 

“Irak memiliki cadangan minyak yang luar biasa, mereka memiliki potensi kekayaan yang luar biasa,” ujar Presiden AS ke-47. 

Tak berhenti di situ, Trump terus menyanjung Al-Zaidi karena telah berhasil mengubah citra Amerika di mata publik Irak. Lebih lanjut, Trump menegaskan bahwa AS akan selalu berada di pihak Irak dalam mendukung maupun memberikan perlindungan jika dibutuhkan. 

“Kami di sana untuk membantu mereka (Irak). Kami di sana untuk melindungi mereka, jika perlu, tetapi kami rasa itu tidak akan diperlukan. Musuh utama mereka, akan jadi musuh Amerika juga. Mereka mungkin menganggapnya sebagai teman, tetapi saya menganggapnya sebagai lawan, yaitu Iran, yang merupakan beban besar bagi Irak karena mereka adalah pengganggu di Timur Tengah,” ujar Trump. 

Kerja Sama Ekonomi AS-Irak

Dalam laporan tersebut, Al-Zaidi mengatakan bahwa situasi ekonomi di Irak menuntut pemerintahannya untuk bersinergi dengan dengan AS. Menurutnya, kemitraan tersebut merupakan upaya Baghdad untuk mengubah hubungan bilateral dari manajemen krisis menjadi peluang ekonomi dan investasi.

“Saya akan menyampaikan pesan bahwa Irak, sebagai negara berdaulat, berada pada jarak yang sama dari konflik regional dan memilih untuk menempuh jalan pembangunan, sambil mengulurkan tangan kepada teman-teman dalam prosesnya,” ujar perdana menteri terpilih Irak. 

Saat ditanya wartawan, Al-Zaidi menghindari pertanyaan perihal dalang dibalik pembunuhan Jenderal Iran Qassem Soleimani pada  2020 silam kepada Trump. 

Selain sowan dengan Trump, menurut televisi pemerintah Irak menyebutkan Al-Zaidi juga akan bertemu dengan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, pejabat senior Pentagon, anggota Kongres, dan Kepala Bank Dunia Ajay Banga.

Kemudian, ia dijadwalkan akan mengunjungi Houston untuk bertemu dengan para pejabat dari Halliburton, Chevron, Exxon Mobil, dan Kepala Kamar Dagang AS Suzzane Clarke.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |