TEMPO.CO, Jakarta - Di hari ketiga perayaan Idul Fitri, apakah Anda mengalami kenaikan tekanan darah akibat kurang mengontrol konsumsi makanan? Idul Fitri 2025 sudah dirayakan pada 31 Maret 2025 namun hingga 1-2 hari sesudahnya, hidangan Lebaran masih tersisa di meja makan, begitu juga kue-kue manis. Hidangan Lebaran yang bersantan dan berlemak serta beberapa kali dipanaskan tak baik buat kesehatan, salah satunya risiko hipertensi atau tekanan darah tinggi.
"Saat Lebaran, berbagai makanan yang sering dikonsumsi seringkali merupakan olahan dari santan serta minim serat sehingga tidak jarang keluhan seperti tekanan darah tinggi, diare, bahkan kolesterol," ujar dokter spesialis penyakit dalam di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta, Faisal Parlindungan, dikutip dari Antara, Senin, 31 Maret 2025.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Menurut laman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni www.who.int, hipertensi adalah kondisi medis di mana tekanan darah konstan berada di atas angka normal, yaitu lebih dari 140/90 mmHg. Tekanan darah yang terlalu tinggi bisa merusak dinding pembuluh darah dan organ vital seperti ginjal, jantung, dan otak. Dalam jangka panjang, hipertensi yang tidak ditangani dapat memicu terjadinya serangan jantung, stroke, atau gagal ginjal.
Tekanan darah tinggi termasuk masalah kesehatan utama di seluruh dunia. Kondisi ini sering disebut sebagai pembunuh senyap karena banyak yang tidak merasakan gejala pada awalnya. Padahal, hipertensi dapat menyebabkan komplikasi serius seperti penyakit jantung, stroke, hingga kerusakan ginjal.
Karena itu, penting untuk segera melakukan penanganan yang tepat, termasuk minum obat hipertensi. Dikutip dari pafikabmalinau.org ini, berikut cara mengatasi tekanan darah tinggi dengan obat. Pahami jenis obat yang biasa digunakan untuk atasi hipertensi dan cara kerjanya, serta tips mengelola tekanan darah tinggi agar tetap terkontrol.
Perlunya Minum Obat Hipertensi
Untuk mengendalikan tekanan darah tinggi, selain menerapkan pola hidup sehat, obat-obatan tertentu sangat diperlukan. Obat hipertensi bertujuan untuk menurunkan dan mengontrol tekanan darah agar tetap berada dalam rentang normal. Meski tidak ada obat yang dapat menyembuhkan hipertensi secara permanen, pengelolaan yang baik dapat mengontrol tekanan darah dan mencegah dampak negatifnya.
Ada berbagai jenis obat yang digunakan untuk menurunkan tekanan darah tinggi. Setiap jenis obat bekerja dengan cara yang berbeda untuk menurunkan tekanan darah. Berikut beberapa jenis obat hipertensi yang sering diresepkan dokter.
Diuretik
Diuretik adalah obat penurun tekanan darah dengan mengeluarkan cairan, misalnya Hidroklorotiazid, Furosemid. Obat ini bekerja dengan cara meningkatkan produksi urine yang dikeluarkan ginjal, yang pada gilirannya akan mengurangi volume darah dalam tubuh dan membantu menurunkan tekanan darah dengan mengurangi beban pada jantung dan pembuluh darah. Obat ini dapat menimbulkan efek samping seperti pusing, dehidrasi, kenaikan kadar gula darah.
Beta-blocker
Beta-blocker merupakan obat yang menurunkan denyut jantung. Obat ini juga dapat menghalangi efek hormon adrenalin pada jantung sehingga menurunkan denyut jantung, mengurangi beban kerjanya, dan membantu menurunkan tekanan darah dengan memperlambat jantung dan mengurangi volume darah yang dipompa. Obat beta-blocker misalnya Atenolol, Metoprolol. Efek sampingnya dapat mengakibatkan kelelahan, penurunan denyut jantung, pusing.
ACE Inhibitor
ACE inhibitor adalah obat penghambat enzim angiotensin-converting. Obat ini bekerja dengan cara menghambat enzim yang menyebabkan penyempitan pembuluh darah sehingga menjadi lebih rileks dan tekanan darah turun. Contoh obatnya Enalapril, Lisinopril, yang juga bisa menghasilkan efek samping seperti batuk kering, peningkatan kadar kalium, pusing.
Angiotensin II Receptor Blockers (ARB)
ARB bekerja dengan cara memblokir reseptor angiotensin II, yang merupakan hormon yang menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Dengan memblokir efek hormon ini, ARB membantu menurunkan tekanan darah. Contoh obatnya Losartan, Valsartan. Efek sampingnya pusing, kelelahan, gangguan fungsi ginjal.
Calcium Channel Blockers
Calcium channel blockers menghalangi kalsium masuk ke dalam sel-sel otot pembuluh darah, yang menyebabkan pembuluh darah melebar dan tekanan darah turun. Contoh obatnya Amlodipin, Verapamil. Efek samping yaitu pusing, pembengkakan pada kaki, gangguan pencernaan.
Alpha-blocker
Alpha-blocker bekerja untuk menghalangi efek norepinefrin pada pembuluh darah, yang menyebabkannya melebar dan tekanan darah turun. Contoh obat yaitu Doxazosin, Prazosin. Obat ini dapat menimbulkan efek samping seperti pusing, penurunan tekanan darah mendadak, dan kelelahan. Demikian dilansir dari Antara.