Bagaimana Mitigasi Dampak Pelemahan Rupiah ke Harga Pangan

12 hours ago 20

MENTERI Koordinator Pangan Zulkifli Hasan menyatakan pemerintah akan mengucurkan subsidi jika harga bahan pangan melonjak imbas pelemahan rupiah terhadap dolar.

“Ada anggaran untuk bencana tidak terduga. Jadi disubsidi,” kata Zulkifli, di Jakarta, Rabu, 13 Mei 2026.

Zulkifli mencontohkan, intervensi itu dapat berupa subsidi ongkos pengiriman bahan pangan. Politikus PAN yang juga disapa Zulhas itu mengatakan subsidi urusan pangan akan diberikan pemerintah pusat, provinsi, hingga daerah.  

Sementara Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan harga bahan pangan saat ini belum terpengaruh pelemahan rupiah. “Selama ini kan normal, tidak ada masalah,” ujarnya. 

Data Kementerian Perdagangan per 12 Mei 2026 menunjukkan sejumlah komoditas bahan pangan mengalami fluktuasi harga. Adapun kenaikan harga terjadi pada minyak goreng sawit curah yakni Rp 19.560 per liter atau melonjak 0,17 persen dibandingkan pada 11 Mei 2026. 

Untuk harga komoditas impor seperti kedelai pun semakin naik. Harga kedelai per 12 Mei 2026 tercatat Rp 13.607 per kilogram. Selain naik hingga 0,19 persen secara harian, harga kedelai impor saat ini bergerak menjauhi harga acuan pembelian (HAP) yang ditetapkan Rp 11.400–12.000 per kilogram. 

Nilai tukar rupiah pada Selasa pagi, 12 Mei 2026 mencapai level psikologis baru dengan bergerak di atas 17.500 terhadap dolar Amerika Serikat. Data Google menunjukkan hingga pukul 11.00 rupiah melemah mencapai 17.509 per dolar sedangkan data Bloomberg menyatakan rupiah spot di waktu yang sama tercatat 17.512 per dolar atau melemah 98 poin.

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menyatakan tekanan di pasar keuangan Indonesia terutama pelemahan nilai tukar rupiah disebabkan faktor global dan domestik. 

Josua menyatakan, dari sisi global, pelemahan kurs rupiah dipicu oleh inflasi energi, ekspektasi suku bunga global dan juga permintaan dolar AS. “Pada akhirnya akan ada shifting ataupun perpindahan dari investor yang sebelumnya menempatkan aset di negara berkembang, akan memindahkannya kepada aset-aset yang aman,” ucapnya pada Selasa, 12 Mei 2026.

Kondisi tersebut membuat rupiah dan juga mata uang Asia secara keseluruhan cenderung mengalami pelemahan. Karena itu, rupiah bukan satu-satunya mata uang yang jeblok terhadap dolar AS bila melihat faktor global saat ini.

Tekanan terhadap rupiah bukan hanya masalah sisi moneter tapi juga dipicu penilaian lembaga internasional. Di antaranya penilaian Morgan Stanley Capital International (MSCI) soal kepemilikan dan jumlah saham. Dengan begitu, sejak awal tahun sampai dengan April lalu, terjadi aliran modal asing keluar atau capital outflow dari pasar keuangan RI.

Selain MSCI, lembaga pemeringkat internasional yakni Moody's dan Fitch Ratings di awal tahun ini yang memangkas prospek utang negara dari stabil menjadi negatif. Penilaian lembaga-lembaga internasional tersebut berkaitan dengan kredibilitas dari bauran kebijakan pemerintah.

Rentetan dari risiko global, ditambah penilaian atau peringatan dari lembaga-lembaga terhadap Indonesia memberi dampak signifikan bagi nilai tukar. “Sehingga ini memberikan dampak yang cukup masif terhadap risk appetite dari investor asing khususnya terhadap aset-aset berdenominasi rupiah kita,” ucapnya.

Aliran modal keluar mulai Januari sampai dengan awal Mei menyebabkan rupiah terus melemah. Di pasar saham modal asing keluar sekitar US$ 2,2 miliar USD di pasar obligasi aku juga hampir US$ 0,7 miliar USD, namun masih ditopang oleh inflows di SRBI jangka pendek. 

Berdasarkan catatan PIER, rupiah telah mengalami pelemahan 3,9 persen dibanding awal tahun atau secara year to date. Sampai perdagangan Selasa sore, 12 Mei 2026, mata uang rupiah ditutup di level 17.529 per US$ atau melemah 115 poin.

Ilona Estherina berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

Pilihan Editor: Mengapa Harga Bahan Pokok Selalu Naik Menjelang Ramadan

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |