Beda Ikan Sapu-Sapu di Surabaya dan Jakarta

5 hours ago 13

POPULASI ikan sapu-sapu ditemukan berkembang pesat di sungai-sungai di Jakarta hingga dianggap mengancam keberadaan ikan lokal. Pakar Budidaya Perairan Universitas Airlangga (Unair), Veryl Hasan, menyebut bahwa ikan sapu-sapu juga terdapat di berbagai sungai perkotaan yang memiliki tingkat pencemaran tinggi. “Surabaya juga banyak sapu-sapu, tapi karena sungainya tidak tercemar seberat Jakarta, jumlahnya relatif sedikit,” ucap dosen akuakultur Unair itu kepada Tempo, Senin 20 April 2026.

Menurut Veryl, keberadaan ikan sapu-sapu di sungai Surabaya masih bisa dihitung jari dalam sekali pengambilan sampel. Sebab, ikan lain di sungai Surabaya masih cukup beragam, tidak seperti Sungai Ciliwung yang mulai didominasi sapu-sapu.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Namun, Veryl menyatakan bahwa kondisi ini tidak boleh dianggap sepele. Jika air di sungai Surabaya semakin tercemar, jumlah ikan sapu-sapu diprediksi akan meningkat drastis. “Kalau sungainya semakin tercemar dan ikan lokal punah, maka nasib sungai di Surabaya akan seperti Jakarta yang full sapu-sapu,” ucap alumnus Universitas Brawijaya itu.

Bagaimana Ikan Sapu-Sapu Bisa Mendominasi

Veryl mengatakan bahwa sapu-sapu menjadi sangat dominan di sungai tercemar karena memiliki daya tahan tinggi terhadap kondisi lingkungan buruk. Sementara, pada sungai dengan kualitas air yang rusak, banyak ikan lokal tidak mampu bertahan hidup. “Singkatnya, ketika sungai tercemar berat, ikan lain mati, sementara sapu-sapu tetap bertahan. Itu yang membuat populasinya tampak meledak,” ujar Veryl.

Warga menangkap ikan sapu-sapu di sungai Ciliwung, Cililitan, Kramat Jati, Jakarta Timur, 17 April 2026. Gerakan tangkap ikan sapu-sapu ini bertujuan mengendalikan populasi ikan invasif yang mengancam ekosistem kali Ciliwung. Tempo/Ilham Balindra

Veryl menuturkan bahwa ikan sapu-sapu berasal dari Amerika Selatan. Di sana, ikan sapu-sapu merupakan ikan lokal biasa yang bahkan aman dikonsumsi masyarakat setempat. Persoalan muncul ketika spesies tersebut masuk ke perairan Indonesia sebagai spesies asing tanpa predator alami yang memadai.

Selain tahan terhadap lingkungan buruk, ikan sapu-sapu juga dikenal sebagai predator oportunis. Ikan ini memanfaatkan hampir seluruh sumber daya yang tersedia di sungai, mulai dari tumbuhan air hingga hewan berukuran kecil. Kehadirannya membuat persaingan semakin berat bagi ikan lokal dalam memperoleh makanan maupun ruang hidup.

“Ketika berada di luar habitat aslinya, sapu-sapu dapat menggeser keberadaan ikan lokal," ujarnya sambil menjelaskan, "Karena sedikit organisme yang memangsa, populasinya tumbuh tanpa hambatan berarti.”

Rekomendasi Kendalikan Ikan Sapu Sapu

Oleh karena itu, Veryl menawarkan tiga solusi pencegahan agar populasi sapu-sapu dapat dikendalikan. Pertama, pemerintah harus menindak tegas pelaku pelepasan ikan asing ke sungai. “Aturannya harus ada dan tidak boleh berhenti sebagai slogan, tetapi diikuti pengawasan dan tindakan nyata di lapangan.”

Kedua, pemberantasan sapu-sapu secara langsung untuk menghambat siklus perkembangannya. Veryl mendukung yang telah dilakukan di Jakarta sesuai instruksi Gubernur. Ketiga adalah pengembalian sungai  ke ekosistem awal yang bebas pencemaran. Menurut dia, jika kondisi sungai membaik, lebih banyak ikan lokal dapat hidup dan kembali menyeimbangkan ekosistem. “Kunci utamanya bukan hanya menangkap sapu-sapu, tetapi juga memperbaiki habitat sungainya,” tuturnya.

Sebagai langkah tambahan, Veryl menyarankan pemberantasan manual dengan menangkap ikan sapu-sapu dan memanfaatkannya sebagai bahan baku tepung ikan untuk pakan ikan hias. Veryl juga mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan melepas ikan eksotik ke alam bebas. “Jika tidak mampu merawat, lebih baik dijual kepada penghobi yang bertanggungjawab atau dimusnahkan dengan benar, jangan dilepas ke sungai."

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |