
Oleh: Nana Sudiana, Wakil Ketua IV BAZNAS Jawa Barat
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Waktu adalah kurator yang tidak pernah tidur, secara perlahan menyeleksi apa yang kita sukai dan meninggalkan apa yang terasa usang. Dalam bentang layar gawai yang berkilat, selera publik terus berpindah—seperti angin yang enggan berdiam di satu sudut.
Kita melihat bagaimana alur panjang drama Korea yang dulu begitu mengikat, kini mulai bersaing ketat dengan estetika megah drama Tiongkok atau kepraktisan mikrodrama yang selesai dalam hitungan detik di sela sesaknya waktu istirahat.
Fakta pergeseran ini tecermin nyata dalam lanskap hiburan Tanah Air. Berdasarkan survei bertajuk Pergeseran Perilaku Konsumsi dan Daya Beli Masyarakat Kelas Menengah, drama Asia mengokohkan posisinya sebagai tontonan paling difavoritkan publik Indonesia dengan proporsi mencapai 46,6 persen.
Angka yang terpaut jauh dari jenis tayangan lain ini memperlihatkan dominasi luar biasa. Popularitas drakor dan dracin (drama Cina) lahir dari perpaduan cerita memikat, kualitas produksi apik, serta kemudahan akses melalui berbagai platform streaming seperti Netflix, Viu, dan iQIYI.
Dracin secara khusus mulai menunjukkan peningkatan signifikan setelah era kejayaan drama Korea. Daya pikat dracin tak lepas dari alur cerita ringan dan mudah diikuti, terutama kisah romansa klise tentang tokoh sederhana yang tiba-tiba terhubung dengan sosok CEO kaya raya.
Racikan cerita semacam ini terbukti efektif menghadirkan hiburan eskapistik—membuat penonton tersenyum, larut dalam alur, dan berandai-andai sejenak berharap mendapat nasib manis serupa di tengah himpitan realitas.
Kepopuleran dracin yang kian digandrungi ini makin tak terbendung berkat kemudahan aksesnya di aplikasi ponsel pintar. Format micro-drama atau drama vertikal yang ditawarkannya hadir dengan durasi supersingkat—hanya 90 detik hingga 2 menit per episode.
Saking singkatnya, penonton tak perlu lagi meluangkan banyak waktu dibandingkan saat menikmati drama pada umumnya, menjadikannya santapan visual yang amat praktis di sela-sela padatnya aktivitas.
Masyarakat hari ini tidak sekadar mengonsumsi konten; mereka mencari sensasi visual yang segar, variasi rasa yang tidak monoton, dan kepraktisan yang ramah pada dinamika keseharian.
Keputusan jemari untuk mengetuk satu video dan mengusir video lainnya bukan sekadar perubahan algoritma, melainkan cermin dari jiwa zaman yang mendamba kecepatan, keindahan yang kasatmata, hiburan yang menghibur hati, dan relevansi langsung dengan realitas kehidupan mereka.
Menatap Cermin Kemanusiaan dan Resonansi Bagi Dunia Zakat
Lantas, bagaimana jika cermin perubahan selera digital ini kita hadapkan pada wajah dunia pemuliaan kemanusiaan? Kedermawanan dan niat berbagi masyarakat Indonesia memang tidak pernah padam, namun wadah serta cara mereka menyalurkannya mengalami pergeseran yang persis sama.
Kesadaran menyumbang tak lagi bergerak semata karena kewajiban formal melainkan keterikatan emosional, kejelasan dampak, dan kemudahan akses yang ditawarkan di ujung jari.
Besarnya potensi kedermawanan ini terekam jelas dalam survei nasional terbaru pada Juni 2026 dari STF UIN Jakarta.
Penelitian yang melibatkan 8.360 responden Muslim di 34 provinsi tersebut mencatat potensi ZISWAF (Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf) di Indonesia kini menembus angka fantastis Rp 343,08 triliun.
Menariknya, sekitar 98,5 persen masyarakat menunjukkan dorongan kedermawanan yang sangat kuat pada instrumen amal langsung dan rutin, dengan mayoritas mutlak mendukung pemanfaatan dana ZISWAF untuk program pemberdayaan ekonomi.
Namun, di balik tingginya potensi tersebut, survei STF UIN menyimpan temuan mendasar yang cukup mengejutkan: penyaluran ZISWAF secara digital ternyata masih sangat rendah dan berjalan lambat.
Sebagian besar transaksi derma masyarakat masih bertumpu pada cara-cara konvensional secara tunai dan offline. Sebanyak 95,9 persen infak/sedekah, 93,6 persen zakat maal, dan 95,5 persen wakaf tunai tercatat masih disalurkan secara non-digital.
Realitas ini menunjukkan jurang pemisah yang lebar antara perilaku konsumsi hiburan digital masyarakat yang serba cepat dengan kematangan ekosistem filantropi Islam nasional.
Temuan ini menegaskan penguatan kanal digital, kemudahan transaksi, serta peningkatan literasi masyarakat masih menjadi agenda mendesak yang harus diselesaikan. Fenomena kesenjangan digital di dunia filantropi ini harus menjadi perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan filantropi Islam.
Kementerian Agama sebagai regulator, para pimpinan BAZNAS dan LAZ, serta seluruh amil di lapangan tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri. Kesadaran kolektif ini juga harus melibatkan muzaki dan mustahik agar terbentuk ekosistem digital yang kokoh dan inklusif.
Ekosistem ini idealnya memadukan seluruh kepentingan para pihak secara terintegrasi—mulai dari tata kelola aspek perencanaan, pengumpulan, pendistribusian, pendayagunaan, hingga tahap evaluasinya. Lembaga pengelola zakat, baik BAZNAS maupun LAZ, tidak lagi bisa berdiri tegak hanya berbekal narasi tunggal dan cara-cara konvensional.
Ketika donatur hari ini adalah penonton yang sama dengan penikmat mikrodrama, mereka mengharapkan transparansi visual yang riil, kisah dampak kemanusiaan yang cepat dipahami, dan variasi program pemberdayaan yang menyentuh persoalan konkret.
Pesan kebaikan yang terlalu panjang dan rumit sering kali tenggelam sebelum sempat mengetuk pintu hati. Pelajaran besar dari industri hiburan digital adalah keberanian untuk bertransformasi tanpa kehilangan kedalaman makna.
Seperti halnya dracin yang memikat lewat kemegahan visual dan format yang adaptif, lembaga zakat harus memoles cara berkomunikasi: mengemas cerita para mustahik menjadi narasi yang segar, estetis, dan akuntabel.
Program pendayagunaan perlu disajikan bagai variasi genre—fleksibel, inovatif, dan relevan dengan tantangan zaman. Kemudahan bertransaksi kini menjadi jembatan utama kedermawanan; jika penikmat hiburan digital menuntut akses instan tanpa jeda, maka donatur juga mendambakan pengalaman berdonasi yang lancar, personal, dan tanpa hambatan teknis.
Di atas semua adaptasi kemasan itu, zakat dasarnya memiliki peran ganda yang sangat strategis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Zakat bukan sekadar kewajiban ibadah ritual, melainkan instrumen kebangsaan yang sangat ampuh untuk mempererat tali persaudaraan, merekatkan kebhinekaan, serta menyejahterakan umat secara adil dan merata.
Maka, setiap gubahan program dan saluran digital yang diperbarui hendaknya bermuara pada penguatan nilai-nilai kebangsaan, persaudaraan, dan gotong royong sebagai ikhtiar bersama menopang kemajuan bangsa.
Agar gerakan ini benar-benar dicintai dan senantiasa dinantikan kehadirannya oleh masyarakat—layaknya panggung drama yang selalu memikat hati penontonnya—BAZNAS dan LAZ perlu merajut kembali langkah-langkah strategisnya.
Segalanya dimulai dari keterbukaan yang menenteramkan hati, di mana transparansi keuangan dipublikasikan secara terbuka, akurat, dan mudah diakses di ruang digital hingga rasa percaya tumbuh menjadi cinta yang kokoh.
Dari sana, lahir jejak pemberdayaan yang menghidupkan harapan melalui program zakat produktif, memberikan bantuan modal usaha dan pelatihan kerja agar mustahik mampu mandiri hingga bertransformasi menjadi muzaki.
Langkah pemberdayaan tersebut kemudian disempurnakan oleh keluasan layanan dalam satu sentuhan lewat platform digital yang seamless serta respon tanggap darurat sosial yang cepat bagi warga yang membutuhkan.
Pada akhirnya, seluruh ikhtiar strategis ini dibalut narasi kemanusiaan yang memikat jiwa, di mana edukasi zakat disampaikan secara masif melalui kisah-kisah nyata perubahan hidup penerima manfaat demi menyalakan empati, membangun rasa percaya, dan menggerakkan kepedulian publik.
Pada akhirnya, zakat dan infak memang berakar pada keimanan yang abadi, namun perahunya harus terus menyesuaikan kayuhan dengan gelombang selera zaman. BAZNAS dan LAZ yang mampu membaca perubahan ini tidak hanya akan bertahan, juga akan terus dicintai.
Sebab kedermawanan, ketika dikemas dengan indah dan disampaikan dengan tepat, akan selalu menemukan jalannya menuju hati yang ingin berbagi.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

4 hours ago
13

















































