BMKG Prediksi Dampak El Nino Mulai Berkurang pada Pertengahan Oktober 2026

2 days ago 27

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi dampak El Nino terhadap Indonesia mulai berkurang pada pertengahan Oktober 2026 seiring datangnya musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia. Meski fenomena El Nino diperkirakan masih bertahan hingga sekitar Mei 2027, pengaruhnya terhadap kondisi cuaca nasional diperkirakan tidak lagi sebesar saat musim kemarau berlangsung.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan masyarakat perlu memahami El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomena yang berbeda. Menurut dia, musim kemarau merupakan siklus tahunan yang secara alami terjadi bergantian dengan musim hujan. Adapun El Nino merupakan anomali iklim yang menjadi ancaman ketika terjadi bersamaan dengan musim kemarau karena membuat kondisi menjadi lebih kering, curah hujan menurun, serta memperpanjang durasi kekeringan di berbagai daerah.

"Ketika memasuki musim hujan, diperkirakan pada minggu ketiga Oktober, El Nino sudah tidak begitu memengaruhi Indonesia meski masih aktif hingga sekitar Mei 2027," kata Faisal dalam konferensi pers usai rapat koordinasi kesiapsiagaan menghadapi El Nino di Kantor Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Selasa (4/8/2026).

Ia mengatakan BMKG telah mengeluarkan prediksi sejak Maret 2026 bahwa Indonesia akan menghadapi musim kemarau yang berlangsung bersamaan dengan El Nino berkekuatan moderat. Perkembangan selanjutnya menunjukkan intensitas fenomena tersebut terus meningkat. Pada 2 Juni 2026, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menetapkan El Nino telah aktif. Hasil pemantauan sepanjang Mei hingga Juli menunjukkan fenomena tersebut kini telah memasuki fase kuat.

Menurut Faisal, fase kuat bukan berarti seluruh wilayah Indonesia akan mengalami dampak yang sama. Indonesia memiliki karakteristik iklim yang sangat beragam karena merupakan negara kepulauan dengan bentang alam pegunungan, lembah, hingga kawasan pesisir. BMKG membagi Indonesia ke dalam 699 zona musim sehingga dampak El Nino maupun langkah mitigasi dapat dipetakan secara lebih spesifik.

Ia melanjutkan wilayah di selatan garis khatulistiwa diperkirakan menerima dampak paling besar, meliputi Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, sebagian besar Pulau Jawa, terutama wilayah pesisir, Sumatra bagian selatan, hingga Papua Selatan. Sebaliknya, sejumlah wilayah di bagian barat Pegunungan Bukit Barisan, sabuk utara Kalimantan, sebagian Papua, hingga Maluku memiliki karakteristik iklim yang berbeda sehingga dampak El Nino tidak selalu sama.

Faisal menambahkan setiap kejadian El Nino memiliki karakteristik yang berbeda sehingga tidak bisa disamakan dengan peristiwa pada 2015, 2019, maupun 2023. Meski El Nino pada 2015 tergolong sangat kuat, besarnya dampak yang dirasakan Indonesia tetap bergantung pada dinamika atmosfer dan kondisi suhu muka laut di sekitar wilayah Indonesia. Suhu muka laut yang lebih hangat, misalnya, masih dapat memicu pembentukan awan hujan sehingga mengurangi dampak kekeringan di sejumlah daerah.

Karena itu, BMKG terus memperbarui analisis dan prakiraan cuaca sebagai dasar mitigasi bagi kementerian, pemerintah daerah, dan masyarakat. Menurut Faisal, informasi tersebut diperlukan agar berbagai sektor, terutama pertanian, sumber daya air, hingga penanggulangan kebakaran hutan dan lahan, dapat menyesuaikan langkah antisipasi sebelum dampak El Nino mencapai puncaknya.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |