REPUBLIKA.CO.ID, ISLAMABAD – Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, menyatakan bahwa sudah saatnya untuk mengaktifkan Pakta Pertahanan Makkah dengan Arab Saudi dan Turki. Ini ia sampaikan menyusul saling serang Saudi dan kelompok Ansarallah Houthi di Yaman baru-baru ini.
Dalam wawancara dengan saluran televisi Pakistan, Geo News, Asif mengatakan bahwa Islamabad tetap berkomitmen untuk melindungi Arab Saudi dan situs-situs sucinya, seraya menambahkan bahwa perlindungan tersebut merupakan suatu kewajiban bahkan tanpa adanya perjanjian sekalipun.
Ia menyebutkan bahwa Pakistan telah menyampaikan pesan dari Arab Saudi kepada Iran di tengah kekhawatiran mengenai serangan yang dilakukan oleh pasukan Houthi terhadap negara tersebut.
"Menurut saya, Iran sebagai sebuah negara tidak akan membuka front baru," ujar Asif, seraya menambahkan bahwa mereka sudah terlibat dalam konflik di kawasan tersebut. Sang menteri menambahkan bahwa Pakistan akan terus berupaya mencegah meluasnya konflik tersebut.
Menurut Reuters, kemajuan Angkatan Bersenjata Yaman di sepanjang pesisir Laut Merah Yaman dan keberhasilan mereka merebut kembali posisi-posisi yang menghadap Selat Bab al-Mandab telah memberikan pukulan telak bagi agresi Arab Saudi terhadap Yaman, sekaligus menyingkap kegagalan intelijen, runtuhnya kekuatan yang didukung Saudi, serta keterbatasan perlindungan AS.
Perkembangan di sekitar jalur maritim strategis—yang merupakan rute vital bagi pasokan minyak global dan pelayaran internasional—ini membuat Riyadh berupaya mencari dukungan di tengah meluasnya pengaruh regional Iran dan sekutunya.
Para pejabat serta sumber senior dari Barat, kawasan tersebut, dan Yaman yang dikutip oleh Reuters menyatakan bahwa terobosan Angkatan Bersenjata Yaman didorong oleh beberapa faktor, termasuk perpecahan di antara faksi-faksi yang didukung Saudi, kelemahan dalam struktur komando pimpinan Saudi yang menggantikan pengawasan Uni Emirat Arab, terbatasnya dukungan udara Saudi, serta peremehan terhadap persiapan lawan.
Seorang diplomat mengatakan kepada Reuters bahwa Angkatan Bersenjata Yaman secara diam-diam telah mengumpulkan sekitar 100.000 petempur—jumlah yang jauh melampaui kekuatan lawan—seraya menambahkan: "Semua pihak, termasuk Saudi, tidak menyadari adanya pengerahan kekuatan ini dan salah menilai niat kelompok Houthi."
Neil Quilliam, seorang peneliti di lembaga pemikir Chatham House yang berbasis di London, menggambarkan perkembangan tersebut sebagai kegagalan intelijen, dengan mengatakan: "Mereka sama sekali tidak menangkap sinyalnya. Mereka tidak melihat tanda-tandanya."
Analis politik Yaman, Farea Al-Muslimi, mengatakan bahwa Arab Saudi telah dikejutkan oleh perkembangan situasi di Yaman.

2 hours ago
17
















































