Burj Al Arab Ditutup Selama 18 Bulan

5 hours ago 15

SALAH satu bangunan paling ikonik di dunia, Jumeriah Burj Al Arab tutup sementara. Keputusan ini menandai pertama kalinya hotel berbentuk layar dhow tersebut berhenti beroperasi secara total sejak pertama kali menyambut tamu pada Desember 1999. Selama 18 bulan ke depan, bangunan yang telah menjadi simbol ambisi Uni Emirat Arab ini akan direnovasi untuk memastikan statusnya sebagai standar emas kemewahan global.

CEO Jumeirah, Thomas B. Meier, menekankan bahwa program restorasi ini telah melewati perencanaan jangka panjang yang sangat matang. "Jumeirah Burj Al Arab adalah simbol ambisi dan keunggulan yang abadi. Program ini menandai babak baru yang akan dengan hati-hati melestarikan warisan dari properti edisi terbatas kami," katanya seperti dilansir dari Condé Nast Traveller.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Renovasi properti mewah ini dipimpin oleh arsitekt interior ternama asal Prancis, Trsiatan Auer. Auer bukan sosok asing dalam dunia arsitektur. Ia adalah perancang kemegahan Hôtel de Crillon di Paris dan Carlton Cannes. Dalam wawancaranya dengan Condé Nast Traveller, Auer mengungkapkan bahwa mendekati Burj Al Arab adalah sebuah tantangan yang membutuhkan ketelitian sains sekaligus sensitivitas seni.

Filosofi Haute Decoration"

Auer mengusung konsep "Haute Decoration", yaitu sebuah pendekatan yang mirip dengan Haute Couture dalam dunia mode. Artinya, setiap detail dalam renovasi ini dibuat secara khusus (bespoke) hanya untuk satu tujuan dan satu tempat. Auer juga menegaskan bahwa ia tidak akan mengubah bentuk asli hotel yang dicetuskan oleh Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum. Warna-warna berani yang menjadi identitas hotel seperti biru safir, merah delima, emas, dan hijau zamrud tetap dipertahankan. Namun, diperbarui dengan teknik pengerjaan yang lebih canggih.

"Kemewahan sejati adalah kemampuan untuk memiliki sesuatu yang hanya dibuat untuk Anda di tempat itu saja," kata Auer. Ia bahkan sedang mengembangkan kain dan sulaman khusus yang tidak akan digunakan di properti mana pun di dunia selain di dalam unit suite Burj Al Arab.

Mempertahankan Material dan Teknologi

Burj Al Arab dikenal karena penggunaan material bermutu tinggi yang membuat bangunan ini tampak megah. Di dalamnya terdapat sekitar 1.790 meter persegi lembaran emas 24 karat yang menghiasi berbagai sudut interior. Selain itu, terdapat 86.500 kristal Swarovski yang dipasang secara manual dengan tangan, serta lebih dari 30 jenis marmer Statuario. Menariknya, marmer ini adalah jenis yang sama dengan yang digunakan oleh seniman legendaris Michelangelo untuk memahat karyanya.

Restorasi ini bertujuan untuk membersihkan, melestarikan, dan menjaga kualitas material tersebut. Namun, fokusnya tidak hanya pada estetika. Seperti dilansir dari Euronews, salah satu alasan penting di balik renovasi ini adalah modernisasi teknologi. Setelah 27 tahun beroperasi terus-menerus tanpa henti, infrastruktur digital dan sistem mekanis di dalam gedung perlu diperbarui agar sejalan dengan perkembangan zaman. Di tengah munculnya ikon-ikon modern di Dubai seperti Museum of the Future, Burj Al Arab memastikan bahwa fasilitas di dalam 198 unit suite duplex-nya tetap menjadi andalan.

Dampak Operasional dan Estimasi Pembukaan

Meskipun tanggal pasti penutupan tidak diumumkan secara mendadak, hotel ini diperkirakan baru akan buka kembali untuk umum pada Oktober 2027, seperti dilansir dari Travel + Leisure. Melalui pesan di situs resminya, Jumeirah menawarkan bantuan bagi para tamu yang sudah memiliki rencana menginap untuk dialihkan ke properti mewah lainnya di bawah naungan perusahaan tersebut. Data dari Khaleej Times juga menunjukkan bahwa hotel ini sudah tidak tersedia di berbagai platform pemesanan pihak ketiga setidaknya hingga Juni 2027. 

Imanda Zahwa berkontribusi dalam penulisan artikel ini

Pilihan editor: Permintaan Aneh Para Tamu Hotel Mewah di Dubai

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |