Salah satu sudut Dusun Bakagung Desa Petirsari Kecamatan Pracimantoro Wonogiri yang berdiri di atas bekas aliran Bengawan Solo Purba. Joglosemarnews.com/Aris Arianto WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Tak banyak yang tahu, di sudut selatan Wonogiri ada sebuah dusun kecil yang menyimpan jejak geologi jutaan tahun silam. Namanya Dusun Bakagung, berada di Desa Petirsari, Kecamatan Pracimantoro.
Uniknya, permukiman ini berdiri tepat di bekas aliran Bengawan Solo purba, satu jalur dengan wilayah Wotawati di Gunungkidul, DIY. Lanskapnya serupa, suasananya hening, dan kisah alamnya panjang.
Dusun Bakagung bukan sekadar desa biasa. Secara geografis, wilayah ini dulunya dilalui Bengawan Solo purba yang mengalir ke arah selatan dan bermuara di Pantai Sadeng, Gunungkidul. Namun, akibat pergerakan dan pengangkatan lempeng bumi di kawasan Gunungkidul, Wonogiri, hingga Pacitan, arah aliran sungai raksasa itu berubah drastis. Bengawan Solo yang semula mengalir ke selatan, akhirnya berbalik ke utara seperti yang dikenal saat ini.
Jejak aliran lamanya masih jelas terlihat di Bakagung berupa lembah memanjang, cekungan tanah luas, serta deretan perbukitan yang mengurung dusun layaknya mangkuk raksasa.
Nama Bakagung sendiri seolah menjadi penanda alam. “Bak” berarti wadah, “agung” bermakna besar. Dusun ini memang berada di cekungan panjang bekas sungai purba, dikelilingi perbukitan hijau seperti Song Abang dan Song Mur.
Panorama sepanjang perjalanan menuju lokasi menjadi daya tarik tersendiri. Dari Kota Kecamatan Pracimantoro, perjalanan dilanjutkan ke selatan menuju Balai Desa Sumberagung, lalu mengikuti papan penunjuk arah. Jaraknya sekitar tiga kilometer dengan suguhan lembah, bukit kapur, dan bentang alam khas kawasan karst plus sisa kemegahan aliran Bengawan Solo Purba.
Meski pemandangan menawan, akses jalan menuju Bakagung masih menjadi tantangan. Jalan cor beton tersedia, namun sempit dan sebagian rusak. Kendaraan roda empat pribadi masih bisa melintas dengan hati-hati, tetapi sulit jika harus berpapasan. Kendaraan besar praktis tak bisa masuk.
Kondisi ini membuat Bakagung terasa seakan menyendiri, namun sekaligus menjaga ketenangan dan nuansa slow living yang jarang ditemui.
Setibanya di dusun, pengunjung akan disambut puluhan rumah warga dengan suasana yang nyaris tanpa hiruk-pikuk. Keramahan penduduk begitu terasa, bahkan kepada warga yang belum dikenal sekalipun.
Menurut Kepala Dusun Bakagung, Eko Arianto, dusun ini dihuni 46 kepala keluarga dengan jumlah sekitar 220 jiwa. Mayoritas warga berprofesi sebagai petani tadah hujan. Padi dan jagung ditanam sekali dalam setahun, sementara kacang tanah bisa dua kali masa tanam.
Karena berada di jalur Bengawan Solo purba, struktur tanah Bakagung menyimpan keunikan tersendiri. Banyak terdapat luweng atau lubang alami khas kawasan karst yang berfungsi sebagai drainase alami. Pada 2017, hujan deras yang turun selama tiga hari tiga malam sempat menggerus lahan pertanian warga hingga membentuk sinkhole.
“Meski demikian, permukiman tetap aman dan hingga kini Bakagung tak pernah tersentuh banjir,” ujar dia, Selasa (20/1/2026).
Soal air bersih, warga sempat mengalami kesulitan hingga akhirnya sejak 2018 terbantu dengan pemanfaatan sumber air dari Luweng Songo di wilayah Sumberagung, Pracimantoro. Air kini dapat dialirkan langsung ke rumah-rumah warga, menjadi penopang utama kehidupan di dusun tersebut.
Keunikan Bakagung mulai menarik perhatian orang luar. Sejumlah pengunjung datang karena penasaran dengan dusun yang berdiri di bekas aliran Bengawan Solo purba. Bahkan, ada yang ingin menginap untuk merasakan langsung suasana tenang di tengah cekungan alam. Apalagi Bakagung telah masuk dalam kawasan geowisata dan menjadi bagian dari Geopark Gunung Sewu, menjadikannya destinasi wisata minat khusus berbasis geologi dan budaya lokal.
Potensi ekonomi warga sebenarnya cukup besar. Hasil bumi seperti singkong bisa diolah menjadi utri, getuk, jemblem, hingga keripik. Jagung dan kacang tanah pun dapat dikembangkan menjadi berbagai produk olahan.
Namun, keterbatasan infrastruktur masih menjadi kendala utama. Hingga kini, Bakagung belum memiliki balai dusun maupun papan informasi, sehingga cukup menyulitkan ketika menerima tamu atau wisatawan yang ingin menginap.
Harapan warga sederhana namun krusial. Mereka ingin pemerintah memberikan perhatian untuk kemajuan Bakagung, memahami potensinya, sekaligus menjawab kekurangannya. Prioritas utama adalah perbaikan dan pelebaran akses jalan agar kendaraan kecil bisa bersimpangan, bahkan jika memungkinkan bus kecil dapat masuk.
“Dengan infrastruktur yang lebih layak, Bakagung diyakini mampu berkembang sebagai destinasi geowisata unggulan tanpa kehilangan karakter alaminya,” jelas dia.
Dusun Bakagung adalah contoh nyata bagaimana sejarah bumi, kehidupan manusia, dan ketenangan alam berpadu dalam satu ruang. Di balik jalan sempit dan fasilitas terbatas, tersimpan cerita Bengawan Solo purba yang pernah mengalir ke selatan, sebelum bumi bergerak dan mengubah arah sejarahnya.
Jadi, sempatkan untuk berkunjung ke Bakagung. Dijamin, ada pelajaran berharga bisa dipetik, plus ada kerinduan untuk segera mendatanginya lagi. Aris Arianto
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.


















































