Ekonomi AS Tangguh, China Tertekan, Diversifikasi Aset Jadi Tren Global

3 weeks ago 44

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Chief Economist PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Sumual menilai perekonomian Amerika Serikat masih menunjukkan kinerja lebih baik dari perkiraan banyak analis, sementara China justru mengalami perlambatan. Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi salah satu faktor pendorong perubahan strategi bank sentral global dalam mengelola cadangan devisa.

“Amerika Serikat sebenarnya lebih bagus. Pertumbuhannya lebih tinggi dari perkiraan, masih bisa tumbuh di kisaran 3,6–3,8 persen. Ini masih oke, masih di atas perkiraan banyak analis. Yang justru sedikit turun itu China, dari 5,2 persen ke 4,8 persen, memang cenderung melambat. Di dalam negeri juga banyak persoalan domestik, konsumsi menurun, pengangguran meningkat, dan produksi industri melemah. Jadi secara keseluruhan, China sedang agak kesulitan,” jelas David saat berbicara dengan media di Jakarta, Senin (15/12/2025).

Ia menambahkan, selama ini China dapat mengandalkan pasar ASEAN untuk menampung kelebihan produksinya. Namun, dengan melambatnya negara-negara emerging market, termasuk kawasan ASEAN, strategi tersebut tidak lagi sepenuhnya bisa diandalkan.

Selain itu, David menyoroti perubahan struktural dalam strategi bank sentral global pascapandemi. Jika sebelumnya mayoritas cadangan devisa ditempatkan di surat utang pemerintah Amerika Serikat (US Treasury), kini tren diversifikasi semakin menguat.

“Dulu porsinya bisa sampai 70 persen di US Treasury. Setelah pandemi, porsinya naik lagi, sekarang sudah hampir 30 persen dan kemungkinan masih akan bertambah. Tapi yang menarik, kepemilikan emas juga meningkat. Ini diperparah setelah Amerika Serikat menggunakan dolar sebagai weapon dalam perang Rusia–Ukraina, ketika aset Rusia dibekukan. Banyak bank sentral global akhirnya khawatir aset mereka bisa bernasib sama,” paparnya.

David menilai kondisi ini membuka peluang bagi Indonesia. Negara-negara emerging market dapat menawarkan Surat Berharga Negara (SBN) sebagai alternatif diversifikasi cadangan devisa. “Indonesia juga bisa melakukan diversifikasi dengan menjual SBN ke negara-negara yang ingin mendiversifikasi asetnya. Mood bank sentral global sekarang memang ingin diversifikasi, salah satunya ke emas dan surat berharga negara lain,” ujarnya.

Dari sisi kebijakan moneter, David melihat adanya kemungkinan penurunan suku bunga oleh Federal Reserve, sementara Bank Indonesia cenderung menahan BI Rate. “Kalau kita lihat hitung-hitungan variabel makro, kemungkinan BI Rate stay. Bisa saja diturunkan lagi, tetapi kita lihat nanti bagaimana perkembangannya,” katanya.

Sementara itu, nilai tukar rupiah sepanjang tahun melemah sekitar 3,5 persen terhadap dolar AS. Namun, indeks dolar justru melemah sekitar 8,5 persen terhadap enam mata uang utama dunia, termasuk euro, yen, dan pound sterling.

“Kalau rupiah terhadap euro, pelemahannya sekitar 12–13 persen. Sedangkan mata uang yang justru menguat itu dolar Singapura dan yuan,” jelas David.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |