Gelombang Bencana Sumut: 166 Warga Tewas, Aktivis Soroti Kerusakan Hutan Hulu

13 hours ago 12
ilustrasi banjir / pixabay

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Bencana banjir dan tanah longsor yang menghantam sejumlah wilayah di Sumatera Utara terus menunjukkan skala kerusakan yang mengkhawatirkan. Selain melumpuhkan akses darat, bencana yang terjadi sejak akhir pekan lalu juga memakan korban dalam jumlah besar.

Data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat angka kematian mencapai ratusan.

“Sumatera Utara sekarang menjadi 166 jiwa meninggal dunia,” ujar Kepala BNPB Letnan Jenderal Suharyanto dalam konferensi pers daring yang ditayangkan melalui kanal YouTube BNPB, Minggu (30/11/2025).

Suharyanto menyampaikan, penambahan korban meninggal terjadi sangat cepat. Dalam kurun waktu satu hari terakhir saja, tim gabungan yang dipimpin Basarnas berhasil menemukan 60 jenazah dari berbagai titik terdampak. Upaya pencarian masih berlanjut di tengah medan yang sulit dan cuaca yang tidak menentu.

Selain ratusan korban meninggal, jumlah warga yang belum ditemukan juga masih tinggi. “Kemudian ada 143 jiwa yang masih hilang,” lanjut dia.

Dijelaskan, sebagian besar titik pencarian berada di wilayah yang aksesnya terputus akibat jalan tertimbun material longsor ataupun jembatan yang hanyut.

Ribuan warga di berbagai kabupaten kini terpaksa mengungsi karena rumah dan fasilitas umum terkena dampak langsung bencana. Bantuan logistik mulai disalurkan, namun distribusi berjalan lambat karena infrastruktur rusak dan banyak rute yang tertutup total.

Rentetan bencana yang terjadi serentak di beberapa provinsi Sumatera pada penghujung November 2025 menciptakan tekanan besar, terutama di Sumatera Utara. Daerah terdampak meliputi Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Sibolga, Humbang Hasundutan, Pakpak Barat, Tapanuli Utara, hingga sebagian kawasan Kota Medan.

Direktur Kelompok Studi Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM) Rocky Pasaribu menilai situasi ini tidak hanya ekstrem dari sisi jumlah kejadian, tetapi juga luas dampak yang ditimbulkan. “Dalam tiga dekade terakhir, inilah bencana dengan dampak terluas dan jumlah kejadian terbanyak dalam satu waktu,” kata Rocky melalui keterangan tertulis, Minggu (30/11/2025).

Rocky menegaskan bahwa kawasan Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan menjadi titik dengan kondisi paling parah. Gelombang banjir dan longsor tidak hanya merusak permukiman, tetapi juga memporak-porandakan infrastruktur vital seperti jalan, jembatan, dan jaringan listrik.

Di tengah suasana berkabung ini, diskusi mengenai penyebab bencana kembali mencuat. Para aktivis lingkungan menilai tragedi tersebut berkaitan erat dengan kerusakan kawasan hulu. Banyak gelondongan kayu berukuran besar terlihat hanyut terbawa arus banjir di wilayah terdampak, terutama di Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan. Fenomena itu, menurut Rocky, mengindikasikan persoalan serius di daerah tangkapan air. “Pemandangan ini menguatkan kesimpulan bahwa kerusakan hutan di hulu DAS telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan,” ujarnya.

Pemerintah pusat dan daerah kini terus mengintensifkan upaya evakuasi, penanganan darurat, serta pendataan korban. Namun hingga kini, skala bencana yang besar menjadikan prosesnya berjalan tidak mudah. [*] Disarikan dari sumber berita media daring

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |