Harga Emas Diprediksi Menguat, Berpotensi Tembus Rp 2,59 Juta per Gram

3 weeks ago 30

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Harga emas atau logam mulia diprediksi akan terus bergerak fluktuatif, tetapi cenderung melanjutkan tren kenaikan pada periode 15–19 Desember 2025. Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan pada pekan ini pergerakan harga emas berpotensi menuju level Rp 2,59 juta per gram.

Pada akhir pekan lalu, harga emas dunia diketahui ditutup di level 4.300 dolar AS per troy ons, sedangkan harga logam mulia berada di posisi Rp 2,462 juta per gram. Menurut Ibrahim, jika harga emas dunia mengalami penurunan, kemungkinan support pertama berada di level 4.255 dolar AS per troy ons dan support kedua di 4.219 dolar AS per troy ons. Adapun harga logam mulia berpeluang turun ke kisaran Rp 2,39 juta per gram apabila harga emas dunia melemah.

Namun, jika harga emas dunia mengalami kenaikan, resistance pertama diperkirakan berada di level 4.329 dolar AS per troy ons dan harga logam mulia di kisaran Rp 2,477 juta per gram.

“Dalam satu minggu, kemungkinan besar harga emas dunia berada di level 4.380 dolar AS per troy ons, dan untuk harga logam mulia di Rp 2,59 juta per gram,” kata Ibrahim dalam keterangannya, dikutip Senin (15/12/2025).

Ibrahim menjelaskan terdapat sejumlah faktor yang memengaruhi pergerakan harga emas atau logam mulia yang diprediksi cenderung menguat.

“Apa yang menyebabkan harga emas dunia maupun logam mulia terus bergerak fluktuatif dengan kecenderungan menguat? Salah satunya adalah rilis data pengangguran di Amerika,” tuturnya.

Laporan ketenagakerjaan terbaru dari Biro Statistik Tenaga Kerja (Bureau of Labor Statistics/BLS) yang sempat tertunda akibat penutupan pemerintahan menunjukkan nonfarm payrolls naik 119 ribu pada September 2025 setelah mengalami penurunan pada bulan sebelumnya.

Diprediksi, angka tersebut akan kembali melanjutkan tren penurunan. Kondisi itu pada gilirannya berpotensi mendorong The Federal Reserve dalam pertemuan FOMC Januari 2026 mendatang untuk kembali membahas penurunan suku bunga.

Di sisi lain, pergantian Gubernur The Fed diperkirakan terjadi pada April atau Mei mendatang. Hal itu berarti kekuatan Gubernur The Fed Jerome Powell pada awal tahun berpotensi melemah dan cenderung mengikuti keinginan Presiden AS Donald Trump yang menginginkan lebih banyak penurunan suku bunga.

Sebelumnya, terdapat kemungkinan penurunan suku bunga hanya satu kali pada 2026. Namun, dengan adanya perubahan kepemimpinan di bank sentral AS, kebijakan penurunan suku bunga diperkirakan dapat terjadi lebih dari satu kali, seperti yang terjadi pada 2025.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |