Penumpang berjalan menuju ruang tunggu keberangkatan pesawat di Terminal keberangkatan 1C Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (11/11/2025). PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) akan kembali mengoperasikan Terminal 1 C dengan wajah baru yang memadukan desain modern dan sentuhan tradisional khas Indonesia pada Rabu (12/11) untuk penerbangan domestik.
REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG — PT Angkasa Pura Indonesia atau InJourney Airports menyatakan kesiapan untuk mengelola Bandara Ibu Kota Nusantara (IKN) apabila pemerintah memberikan penugasan sebagai operator bandara tersebut pada tahun depan. Direktur Utama InJourney Airports Mohammad R. Pahlevi mengatakan kesiapan ini sejalan dengan tugas InJourney Airports sebagai operator kebandarudaraan di Indonesia.
“Kami sebagai operator bandara yang memang diberikan kewenangan untuk itu menyatakan siap. Kami telah menyampaikan bahwa jika diminta untuk mengoperasionalkan Badan Usaha Bandar Udara, kami siap,” ujar Pahlevi usai konferensi pers kesiapan bandara-bandara InJourney Airports selama periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025–2026 di Terminal III Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Rabu (17/12/2025).
Pahlevi menjelaskan hingga saat ini pembahasan pengelolaan Bandara IKN telah masuk dalam sejumlah program persiapan ke depan. Menurutnya, transformasi bandara dari yang sebelumnya berfungsi sebagai bandara VIP menuju bandara komersial membutuhkan perencanaan yang matang.
“Sejauh ini pembahasannya sudah masuk dalam beberapa program yang ke depan harus dipersiapkan. Artinya, pada akhirnya nanti kami sudah melakukan pemetaan kebutuhan, apa saja yang diperlukan ketika bandara yang sebelumnya berfungsi sebagai bandara VIP bertransformasi menjadi bandara komersial. Tentu setup-nya berbeda dan InJourney Airports menyatakan siap,” kata Pahlevi.
Pahlevi menilai prospek Bandara IKN tidak dapat dilihat hanya dari kondisi saat ini. Ia menekankan pentingnya melihat pengembangan IKN dalam jangka menengah hingga panjang, termasuk dari sisi konektivitas penerbangan dan jaringan maskapai.
“Saya kira jejaring kegiatan kebandarudaraan dan maskapai saat ini menjadi salah satu pertimbangan. Setiap destinasi, termasuk IKN ke depan, harus dilihat prospeknya dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan,” lanjut Pahlevi.
Menurut Pahlevi, keberadaan master plan pengembangan IKN akan menjadi acuan penting bagi bandara dan maskapai dalam menentukan strategi operasional dan bisnis ke depan.
“Saya kira kita tidak bisa memotret IKN hanya dari kondisi hari ini. Tentu ada master plan lima sampai sepuluh tahun ke depan. Itu yang akan menjadi dasar bagi bandara dan maskapai dalam melihat pemetaan pengembangannya,” kata Pahlevi.

2 weeks ago
41

















































