REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Perkembangan teknologi cloud computing membawa perubahan besar dalam cara individu dan organisasi menyimpan serta mengelola data. Di balik kemudahan akses, fleksibilitas, dan efisiensi yang ditawarkan, keamanan data pribadi menjadi tantangan yang semakin penting di era digital saat ini.
Penggunaan layanan berbasis cloud terus meningkat seiring berkembangnya aktivitas digital, mulai dari transaksi online, media sosial, hingga berbagai layanan aplikasi. Kondisi ini membuat data pribadi menjadi aset yang harus dijaga dari berbagai ancaman, seperti kebocoran data, akses tidak sah, dan serangan siber.
Ketua Program Studi (Prodi) Teknologi Informasi Cyber University, Dicky Haryanto mengatakan keamanan data tidak hanya menjadi tanggung jawab penyedia layanan teknologi, tetapi juga pengguna.
“Banyak orang masih menganggap keamanan data sepenuhnya menjadi tanggung jawab penyedia layanan cloud. Padahal, pengguna juga memiliki peran penting melalui kebiasaan digital yang aman, seperti menggunakan kata sandi yang kuat dan mengaktifkan autentikasi dua faktor,” kata Dicky.
Ia menambahkan, penyedia layanan cloud umumnya telah menerapkan berbagai sistem perlindungan, seperti enkripsi data, autentikasi berlapis, dan teknologi deteksi ancaman. Namun, langkah tersebut perlu didukung oleh kesadaran pengguna dalam menjaga informasi pribadi yang mereka miliki.
Selain aspek teknis, regulasi juga menjadi bagian penting dalam perlindungan data pribadi. Pemerintah di berbagai negara, termasuk Indonesia, telah mengembangkan berbagai kebijakan dan aturan untuk memastikan pengelolaan data dilakukan secara bertanggung jawab.
Dicky menilai regulasi yang kuat dapat memberikan perlindungan hukum bagi masyarakat sekaligus mendorong penyedia layanan untuk menerapkan standar keamanan yang lebih baik.
“Keamanan data bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga menyangkut tata kelola, regulasi, dan kesadaran pengguna. Ketiga aspek ini harus berjalan bersama agar ekosistem digital dapat berkembang secara aman dan berkelanjutan,” ujarnya.
Di sisi lain, organisasi juga perlu menerapkan strategi keamanan yang menyeluruh. Langkah tersebut dapat dilakukan melalui penerapan framework keamanan informasi, audit sistem secara berkala, serta pelatihan kesadaran keamanan bagi karyawan.
Paparnya, pendekatan tersebut penting untuk meminimalkan risiko sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan digital yang digunakan setiap hari.
Sejalan dengan perkembangan teknologi cloud dan kebutuhan keamanan digital, Cyber University sebagai Shaping Digital Future Leader terus mengembangkan kompetensi mahasiswa melalui Program Studi Teknologi Informasi. Mahasiswa dibekali kemampuan di bidang sistem informasi, data analytics, artificial intelligence (AI), serta manajemen teknologi digital.
Melalui kurikulum berbasis proyek dan pendekatan praktis yang terintegrasi dengan kebutuhan industri, mahasiswa didorong untuk memahami cara merancang, mengelola, dan mengamankan sistem berbasis data secara profesional.
“Kebutuhan akan talenta digital yang memahami keamanan siber dan pengelolaan data akan terus meningkat. Karena itu, mahasiswa perlu dibekali kompetensi yang relevan agar mampu menghadapi tantangan transformasi digital di masa depan,” kata Dicky.

1 day ago
27













































