ovo Nordisk Indonesia bekerjasama dengan Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) menggelar serangkaian kegiatan edukasi dan sosialisasi teekait penyakit diabetes, Minggu (30/11/2025), di De Tjolomadoe. IstimewaKARANGANYAR, JOGLOSEMARNEWS.COM — Angka diabetes di Indonesia berada di tingjat atas dewasa ini. Berdasarkan data kesehatan nasional, sekitar 10 persen masyarakat Indonesia hidup dengan diabetes dan 20 persen lainnya telah masuk kategori obesitas.
Peningkatan angka obesitas yang menjadi pemicu awal diabetes kini mendapat perhatian serius dari berbagai kalangan. Dibutuhkan oeran berbagai pihak untuk mengedukasi masyarakat terkait penanganan diabetes dan pencegahanya sejak dini.
Terkait itu, Novo Nordisk Indonesia bekerjasama dengan Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) menggelar serangkaian kegiatan edukasi dan sosialisasi teekait penyakit diabetes, Minggu (30/11/2025), di De Tjolomadoe.
People & Organisation Director Novo Nordisk Indonesia, Adhika Widya Sena, mengungkapkan, penanganan diabetes tidak hanya bertumpu pada pengobatan. Melainkan juga harus dibarengi perubahan perilaku masyarakat.
“Kami ingin memasyarakatkan bukan hanya penanggulangannya, tetapi bagaimana pola hidup sehat itu dijalani. Banyak orang diabetes tidak merasa dirinya sakit, jadi edukasi jauh lebih penting,” bebernya.
Menurutnya, kesadaran masyarakat untuk memantau kondisi tubuh terutama untuk mencegah diabetes masih rendah. Termasuk melakukan pencegajan dini terkait munculnya penyakit diabetes.
“Kalau obesitas terlihat, diabetes tidak selalu terlihat. Karena itu kita harus mulai dari kesadaran diri, cek berat badan, cek indeks massa tubuh, cek gula darah kalau punya risiko. Di sinilah perubahan dimulai,” imbuhnya.
Dalam kesempatan yang sama, Novo Nordisk juga memperkenalkan platform digital yang dapat membantu masyarakat menghitung BMI, mengukur risiko diabetes, hingga mengakses tenaga kesehatan secara daring maupun luring.
“Kami ingin masyarakat bisa mengetahui angka tubuhnya sendiri dan bertindak sebelum terlambat. Satu klik saja di novocal.id, sudah mendapat gambaran risiko serta dukungan yang dibutuhkan,” tukasnya.
Sementara itu, Pengurus Besar Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia), Heri Nugroho mengatakan, pola hidup masyarakat modern menjadi faktor utama yang memperparah situasi. Ia menjelaskan, angka diabetes terus meningkat dari tahun ke tahun.
“Semuanya berawal dari gaya hidup tidak sehat dan obesitas. Satu dari 10 orang Indonesia mengidap diabetes, dan satu dari lima sudah masuk kategori obesitas. Ini situasi serius bagi kesehatan bangsa,” terangnya.
Menurut Heri, menekan angka obesitas akan memberikan dampak besar dalam pencegahan diabetes sekaligus mengurangi beban pembiayaan kesehatan akibat komplikasinya. Diabetes diketahui sebagai salah satu penyakit dengan biaya penanganan tertinggi lantaran dapat memicu penyakit jantung, stroke, dan gangguan ginjal kronis.
“Diabetes itu ibunya penyakit. Dampaknya melebar ke komplikasi lain. Kalau angka obesitas turun, angka diabetes turun, dan secara otomatis beban pembiayaan kesehatan juga berkurang,” tandasnya.
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.















































