
Oleh: Dr. CA. Jamaluddin, LC, Ms.J, Pemerhati Hubungan Indonesia – Timur Tengah dan Isu-isu Global
REPUBLIKA.CO.ID, Kunjungan Putra Mahkota dan Perdana Menteri Kerajaan Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) ke Prancis pada tanggal 23-24 Agustus 2026, merupakan peristiwa yang sangat signifikan di tengah krisis regional yang kompleks dan ketegangan yang terus berlangsung antara AS dan Iran yang juga menyeret negara-negara di kawasan Teluk Arab.
Dalam konteks hubungan bilateral, kunjungan tersebut bertujuan untuk memperluas kerja sama di bidang pertahanan, energi, investasi, dan kecerdasan buatan, serta membahas de-eskalasi regional dan keamanan maritim. Selain itu, Riyadh dan Paris berupaya mengkoordinasikan posisi diplomatik untuk mengurangi ketegangan di Timur Tengah, khususnya mengenai Lebanon, Suriah, dan Palestina. Kunjungan tersebut mencerminkan pendekatan Arab Saudi untuk mendiversifikasi kemitraan internasionalnya dan menghindari ketergantungan pada satu negara adidaya.
Prancis, dengan kemampuan nuklirnya dan keanggotaan tetap di Dewan Keamanan PBB, mewakili alternatif Eropa yang independen, mendukung kemampuan persenjataan dan pertahanan Arab Saudi yang fleksibel. Karena itu, kepentingan timbal balik Saudi –Prancis telah diformulasikan dalam sebuah kemanisme, yaitu “Dewan Kemitraan Strategis” yang pertemuan pertamanya menjadi rangkain penting dalam jadwal kunjungan MBS ke Prancis kali ini.
Lantas apa makna strategis dari kunjungan MBS kali ini di tengah dinamika Timur Tengah di satu sisi, dan terus meruncingnya ketegangan AS-Iran di sisi lain? Bagaimana Prancis – Saudi melihat berbagai isu regional dan internasional yang terus berkembang saat ini?
Dalam kunjungannya kali ini, Pangeran MBS telah dijamu dengan gegap gempita oleh Presiden Prancis, Emmanuel Macron. Melansir pernyataan Istana Élysée, kunjungan ini mencerminkan "vitalitas dialog" antara Arab Saudi dan Prancis dan merupakan kesempatan untuk memperkuat kemitraan strategis antara kedua negara, mencakup isu-isu ekonomi dan strategis, serta masalah regional.
Paris menganggap koordinasi dengan mitra-mitranya di Teluk Arab sangat penting untuk mempromosikan stabilitas dan perdamaian di kawasan tersebut. Kedekatan kedua negara juga diterjemahkan bahkan melampaui hubungan bilateral biasa, dimana Presiden Macron dan Putra Mahkota Arab Saudi juga ikut hadir dalam upacara penutupan Piala Dunia Esports FIFA, yang diadakan di Paris untuk pertama kalinya di luar Arab Saudi sejak turnamen ini dimulai.
Menurut catatan Élysée, penyelenggaraan event global ini mencerminkan daya tarik Prancis yang semakin meningkat sebagai tujuan untuk acara olahraga internasional, khususnya setelah keberhasilan Olimpiade dan Paralimpiade Paris 2024. Kunjungan resmi pertama MBS ke Prancis adalah pada Juni 2015, ketika MBS masih menjabat sebagai Wakil Putra Mahkota dan Menteri Pertahanan, atas undangan pemerintah Prancis. Kunjungan pertamanya setelah menjadi Putra Mahkota adalah pada April 2018, atas undangan Presiden Emmanuel Macron.
Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan Saudi-Prancis telah meluas melampaui bidang kerja sama pertahanan dan energi tradisional. Selama kunjungan Macron ke Arab Saudi pada Desember 2014, kedua pihak menegaskan komitmennya untuk memperluas kerja sama di bidang pertahanan dan keamanan, transformasi energi, konektivitas ekonomi dan teknologi, budaya dan pariwisata, serta kecerdasan buatan dan keamanan siber.
Peningkatan hubungan bilateral kedua negara terus mengalami kemajuan dengan saling tukar menukar kunjungan antara kedua pemimpin di kedua negara. Presiden Macron melakukan kunjungan ke Arab Saudi, yang pertama pada November 2017 dan yang kedua pada Desember 2014, ketika ia mengunjungi kota kuno Al-Ula dan meluncurkan proyek budaya bersama. Badan Prancis untuk Pengembangan Al-Ula dipimpin oleh Jean-Yves Le Drian, seorang politikus Prancis yang sebelumnya memegang beberapa posisi, termasuk Menteri Pertahanan dan utusan Prancis untuk Lebanon.
Selanjutnya MBS melakukan kunjungan resmi ke Prancis pada 23-24 Agustus 2026 ini atas undangan Presiden Emmanuel Macron, yang sebelumnya melakukan kunjungan kenegaraan ke Arab Saudi pada Desember 2024. Kunjungan tersebut menghasilkan penandatanganan berbagai perjanjian dan nota kesepahaman, terutama peluncuran Dewan Kemitraan Strategis Saudi-Prancis. Ini adalah kunjungan ketiga MBS ke Paris, setelah kunjungan sebelumnya pada Juli 2022 dan Juni 2023.
Putra Mahkota berangkat ke Prancis pada hari Jumat lalu. Istana Kerajaan Saudi menyatakan kunjungan tersebut dilakukan atas arahan Pelayan Dua Kota Suci, Raja Salman bin Abdulaziz Al-Saud, dan sebagai balasan atas undangan yang disampaikan oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron beberapa waktu lalu.
Kunjungan ini dilakukan setelah kedua negara mencapai lompatan yang signifikan dalam hubungan bilateral, pasca penandatanganan perjanjian kemitraan, yang diikuti sejumlha MoU yang merupakan "roadmap" untuk kemitraan ini. Kemitraan ini mencakup berbagai bidang politik, ekonomi, budaya, seni, dan olahraga, yang keseluruhannya tercantum dalam pernyataan bersama yang dikeluarkan pada kesempatan kunjungan Macron baru-baru ini ke Arab Saudi beberapa waktu lalu.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

1 hour ago
16















































