MMA Marketing Talk 2026 Satukan Pemimpin Industri Bahas Masa Depan Marketing Indonesia

1 day ago 25

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Marketing + Media Alliance (MMA) Indonesia mempertemukan pemimpin industri marketing dan periklanan paling berpengaruh di Tanah Air dalam MMA Marketing Talk 2026, Kamis (16/7/2026). Konferensi dengan tema 'Lead with Innovation, Grow with Purpose' ini menghadirkan lebih dari 35 pemimpin industri, termasuk Chief Marketing Officer, Chief Technology Officer, serta Head of Brand, Marketing, Technology, dan Digital dari berbagai merek, agensi, perusahaan media, penerbit, penyedia telekomunikasi, dan penyedia teknologi periklanan.

Konferensi ini membahas isu-isu strategis yang membentuk fase pertumbuhan bisnis Indonesia berikutnya. Program berlangsung seharian penuh dengan tujuh jalur diskusi: Leadership and Growth Mindset, Generative and Agentic AI, Creativity and Storytelling, Social Marketing, Retail Media and E-Commerce, Data and Measurement, serta Transformative Innovation. Tema-tema diskusi ini memberikan gambaran menyeluruh atas kekuatan-kekuatan yang kini membentuk ulang praktik marketing di Indonesia.

Rangkaian acara dibuka dengan sambutan dari Chief Guest, Ilham Akbar Habibie, Commissioner PT. Ilthabi Rekatama, tokoh dalam bidang teknologi, inovasi, dan kemajuan bangsa. Ilham selama kariernya konsisten meyakini bahwa masa depan Indonesia bertumpu pada kekuatan gagasan dan keberanian untuk mewujudkannya.

Diskusi berpijak pada kondisi pasar yang jarang ditemui negara lain pada skala ini. Ekonomi digital Indonesia tumbuh 13% secara tahunan menjadi 90 miliar dolar AS pada 2024, didukung oleh usia median penduduk 29 tahun dan pendapatan rumah tangga yang terus meningkat. Pertumbuhan ini dibangun di atas kepercayaan konsumen yang nyata. Trust Index Indonesia berada di angka 73, dan 80% masyarakat Indonesia percaya pada dunia usaha sebagai institusi.

Sejumlah pembicara menegaskan sepanjang hari bahwa kepercayaan semacam inilah yang menjadi fondasi bagi setiap angka pertumbuhan lain di Indonesia. Ilham mengatakan Indonesia bukan sekadar pasar terbesar di kawasan, namun Indonesia adalah ladang uji yang paling menentukan.

"Ketika para pemimpin marketing memahami bahwa teknologi adalah instrumen dan tujuan (purpose) adalah strategi, mereka berhenti sekadar membangun kampanye dan mulai membangun kepercayaan. Ayah saya percaya bahwa penguasaan teknologi adalah fondasi kedaulatan sebuah bangsa. Hari ini, saya percaya bahwa penguasaan teknologi yang berorientasi tujuan adalah fondasi bagi merek-merek yang bertahan lama," ujar Ilham yang merupakan putra dari alm BJ Habibie, presiden keempat Indonesia.

Menurutnya, konferensi seperti ini penting karena mempertemukan para pemimpin yang tidak hanya membahas apa yang dapat dilakukan teknologi, tetapi juga untuk siapa teknologi itu dikembangkan dan mengapa. Inilah standar yang siap ditetapkan Indonesia.

Kepercayaan tersebut tercermin langsung pada skala pasar. Sektor ritel Indonesia bernilai 60,09 miliar dolar AS pada 2026 dan diproyeksikan mencapai 79,11 miliar dolar AS pada 2031, tumbuh dengan CAGR 5,65%.

Nilai transaksi bruto (GMV) e-commerce, yang telah melampaui 75 miliar dolar AS pada 2024, diperkirakan menembus 100 miliar dolar AS pada 2026, tumbuh hampir 19% per tahun. Belanja iklan digital mengikuti tren serupa, bernilai 3,41 miliar dolar AS pada 2026 dan diproyeksikan mencapai 4,51 miliar dolar AS pada 2031.

Pertumbuhan commerce dan belanja media kini berjalan beriringan. Ini adalah poin yang berulang kali diangkat pembicara di berbagai sesi. Skala ini juga mengubah cara merek memandang retail media, yang tak lagi sekadar kanal iklan berdiri sendiri, melainkan sistem pertumbuhan yang saling terhubung dan menyalurkan wawasan konsumen kembali ke keputusan produk dan pengalaman pelanggan.

Momen ini ditandai dengan peluncuran Retail Media Network Ideas Lab (RMNIL), dewan baru MMA APAC yang menjembatani teori dan praktik bagi para marketer dan peritel di Indonesia serta kawasan yang lebih luas. RMNIL dirancang untuk menjawab dinamika unik Indonesia—mulai dari rendahnya penetrasi modern trade hingga dominannya social commerce.

RMNIL memberi pelaku industri ruang kolaborasi untuk bereksperimen dan mempercepat inovasi. Inisiatif ini juga menyalurkan wawasan lokal ke dalam pemikiran kepemimpinan MMA di tingkat APAC seputar retail media.

AI Leadership Council dan Peluncuran Riset Regional

Sesi AI Leadership Council (ALC) menyoroti bagaimana era AI mengubah cara brand membangun visibilitas dan menjangkau konsumen. Melanjutkan diskusi tersebut, MMA bersama Decision Lab meluncurkan The State of AI in Marketing 2026, sebuah riset regional Asia Tenggara yang memetakan tingkat adopsi AI, tantangan, serta peluang bagi pemasar di kawasan.

Berdasarkan survei terhadap 143 organisasi di kawasan ini, riset tersebut menemukan bahwa 80% marketer kini memasukkan AI ke dalam rencana marketing mereka pada tingkat moderat atau lebih tinggi. Sebanyak 58% menyebut inovasi sebagai dampak bisnis utama dari adopsi AI.

Country Head s Board Director MMA Indonesia, Shanti Tolani mengatakan industri marketing Indonesia telah memasuki era baru. Disiplin untuk membangun kepercayaan secara masif menjadi sama pentingnya dengan semangat untuk memimpin.

"Merek yang bersedia menghubungkan seluruh kanalnya—alih-alih mengelola masing-masing secara terpisah—adalah mereka yang mendefinisikan seperti apa kepemimpinan di dekade mendatang. Apa yang kita saksikan hari ini pada intinya adalah komitmen bersama untuk membentuk arah pertumbuhan kawasan ini selama bertahun-tahun ke depan. Keberhasilan ke depan tidak akan diukur dari seberapa cepat industri ini bergerak, melainkan seberapa besar pertumbuhan itu diterjemahkan menjadi nilai yang bertahan lama bagi masyarakat yang dilayaninya," ujar Shanti Tolani.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |