REPUBLIKA.CO.ID, JEMBER -- Universitas Jember (Unej) membekali mahasiswa agar semakin waspada terhadap penipuan dan pencurian identitas digital. Modus kejahatan tersebut kini semakin beragam, mulai dari pencatutan identitas melalui akun palsu dan lowongan kerja hingga manipulasi foto, video, dan suara.
Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi Unej Prof. Bambang Kuswandi mengatakan dirinya bahkan pernah menjadi sasaran pencatutan identitas. Pelaku membuat akun WhatsApp dengan menggunakan foto formal dirinya mengenakan jas dan toga.
“Tujuan saya tidak pernah memakai foto formal di akun harian adalah supaya bisa membedakan bahwa kalau ada akun berfoto formal, itu berarti bukan saya,” kata Bambang di Jember, Selasa.
Menurut Bambang, pelaku penipuan digital kerap memanfaatkan kepercayaan sekaligus kondisi psikologis calon korban. Karena itu, mahasiswa diminta tidak mudah memenuhi permintaan uang ataupun menyerahkan data pribadi sebelum memastikan kebenaran sumber yang menghubungi mereka.
Upaya meningkatkan kewaspadaan itu dilakukan Unej bersama Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Jawa Timur melalui pelatihan Cerdas Digital. Kegiatan bertajuk “Smart Student, Safe Data: Amankan Identitasmu dari Ancaman Scam dan Manipulasi Digital Kekinian” tersebut digelar di kampus Unej, Selasa.
Ketua Tim Kerja Tata Kelola Persandian dan Keamanan Informasi Diskominfo Jawa Timur Aulia Bahar Pernama mengatakan penipuan digital saat ini tidak lagi sebatas pesan mencurigakan atau tautan palsu. Perkembangan teknologi membuat pelaku memiliki semakin banyak cara untuk meyakinkan calon korban.
Modus yang digunakan antara lain penyamaran identitas, pembuatan akun palsu, tawaran pekerjaan dan investasi, hingga manipulasi foto, video, maupun suara. Kondisi tersebut membuat kemampuan mengenali identitas seseorang di ruang digital menjadi semakin penting.
Informasi yang sering dianggap sederhana juga dapat menjadi bagian penting dari identitas digital seseorang. Data itu mencakup nama, nomor telepon, alamat surat elektronik, nomor induk kependudukan (NIK), foto, data akademik, hingga berbagai informasi yang diunggah melalui media sosial.
“Menjadi smart student berarti tidak hanya cakap memanfaatkan teknologi, tetapi juga cerdas dalam mengambil keputusan di ruang digital,” kata Aulia.
Ancaman menjadi semakin kompleks ketika potongan informasi dari berbagai sumber dapat digunakan untuk membangun profil seseorang. Data yang terlihat tidak sensitif ketika berdiri sendiri dapat menjadi lebih bernilai ketika digabungkan dengan informasi lain yang tersebar di ruang digital.
Karena itu, kewaspadaan tidak cukup hanya dilakukan ketika menerima pesan yang terlihat mencurigakan. Pengguna juga perlu membiasakan diri mengendalikan informasi yang dibagikan melalui media sosial, aplikasi percakapan, maupun layanan digital lainnya.
Mahasiswa menjadi salah satu kelompok yang perlu memiliki kesadaran tinggi mengenai persoalan tersebut karena aktivitas akademik mereka banyak bersinggungan dengan teknologi. Komunikasi perkuliahan, penyimpanan dokumen, pendaftaran kegiatan, hingga pencarian pekerjaan kini banyak dilakukan melalui platform digital.
Kebiasaan melakukan verifikasi menjadi penting ketika seseorang menerima permintaan yang tidak biasa. Pesan yang mengatasnamakan dosen, pimpinan kampus, teman, maupun anggota keluarga sebaiknya dikonfirmasi melalui saluran komunikasi lain sebelum ditindaklanjuti.
Terlebih, salah satu cara yang kerap digunakan pelaku adalah menciptakan situasi mendesak. Calon korban dibuat merasa harus segera mengambil keputusan sehingga tidak memiliki cukup waktu untuk memeriksa kebenaran informasi yang diterima.
Pakar keamanan siber Ryan Fabella mengatakan mahasiswa menghadapi sejumlah modus penipuan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Modus tersebut antara lain kos fiktif, lowongan kerja palsu, penipuan ulasan atau review scam, pengelabuan melalui WhatsApp (phishing), hingga risiko dari penggunaan perangkat lunak bajakan.
sumber : Antara

3 hours ago
18

















































