PDIP vs PSI Makin Keras, Elite Banteng Balas Ahmad Ali:  Cuma Mau Viral di Medsos

8 hours ago 15
Deddy Sitorus dan Ahmad Ali | Wikipedia

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Hubungan Partai Gajah (PSI) dengan partai Banteng (PDIP) kian memanas. Gegaranya, hal itu dipicu oleh sindiran-sindiran yang dilontarkan oleh Ketua Harian PSI, Ahmad Ali, yang merupakan loncatan dari Partai NasDem.

Ketegangan dua partai itu makin terbuka setelah elite PDIP mulai membalas pernyataan-pernyataan Ali yang dianggap menyudutkan mereka. Ketua DPP PDIP, Deddy Sitorus, menyebut Ali tidak lebih dari sosok yang mencari sensasi guna mendulang popularitas.

Menurut Deddy, gaya politik Ali menunjukkan bahwa ia sedang melakukan panjat sosial atau pansos. Istilah tersebut merujuk pada upaya seseorang meraih ketenaran atau menonjolkan status sosial melalui pemberitaan dan sorotan publik. “Ya dia mau pansos karena enggak tahu gimana caranya bisa membesarkan partai kecuali jadi berita di medsos,” ujar Deddy, Minggu (30/11/2025).

Respons keras turut datang dari Sekretaris Jenderal Relawan Perjuangan Demokrasi (REPDEM), Abe Tanditasik. Ia menilai Ali tidak memahami konsep “petugas partai” yang selama ini dipegang PDIP. “Ahmad Ali adalah kutu loncat partai, maka gagal paham dengan istilah petugas partai,” ucap Abe, Sabtu (29/11/2025).

Abe menegaskan bahwa istilah petugas partai di PDIP berkaitan dengan komitmen terhadap ideologi Pancasila, UUD 1945, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, serta ajaran Bung Karno. “Di PDI Perjuangan istilah petugas partai adalah kesetiaan pada ideologi partai, yaitu Pancasila, UUD 45, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika dan ajaran Bung Karno,” tegasnya.

Lebih jauh, Abe menyebut kesetiaan kader PDIP juga melekat pada kepemimpinan Ketua Umum Megawati Soekarnoputri. “Seorang tokoh dan pejuang yang sudah makan asam garam kehidupan. Bukan orang yang baru 2 hari masuk partai, kemudian ditunjuk jadi ketua umum,” ujar Abe.

Dalam pernyataannya, Abe menuding Ali berpindah-pindah partai demi keuntungan pribadi. “Ia hanya setia pada kepentingan dan keuntungan diri sendiri. Setelah memakan dan merusak suatu partai, seperti halnya kutu, maka ia akan meloncat ke partai lain, untuk memakan dan merusak. Ini yang dilakukan Ahmad Ali meloncat dari Nasdem setelah merusaknya, ke PSI,” ungkapnya.

Sindiran Ali yang Memicu Reaksi

Serangan balik PDIP muncul setelah Ali melontarkan beberapa pernyataan yang dianggap menyindir PDIP dan pucuk pimpinannya. Seusai Rakorwil PSI Se-Kepri di Batam, Sabtu (22/11/2025), Ali mempertanyakan kritik publik terhadap aktivitas politik Presiden ke-7 Joko Widodo, padahal terdapat tokoh politik yang sudah puluhan tahun menduduki jabatan ketua umum. “Sialnya Pak Jokowi ini. Dia dihina, dimaki-maki… ada nenek-nenek yang sudah puluhan tahun jadi ketua partai,” tegas Ali.

Di Manado, saat Rakorwil PSI Se-Sulawesi Utara (27/11/2025), Ali kembali melontarkan kritik terselubung. Ia menyinggung seorang sekretaris jenderal partai politik yang mendapat amnesti dari presiden. Sejauh ini, hanya Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto yang memperoleh amnesti tersebut.

“Oh ada sekretaris partai di sana di negara apa? Di Konoha, tersangka mencari perlindungan sama presiden dan dapet amnesti, ngaca dong,” kata Ali.

Ali juga menolak konsep petugas partai yang identik dengan PDIP. Dalam Rakorwil PSI Se-Maluku Utara di Ternate (28/11/2025), ia menegaskan bahwa PSI ingin melahirkan pemimpin muda seperti Jokowi, bukan kader yang tunduk sepenuhnya pada perintah partai. “Rumah ini wadah ini untuk melahirkan Jokowi-Jokowi muda…,” ujarnya.

Ali menambahkan bahwa PSI tidak ingin memproduksi pemimpin untuk sekadar menjadi petugas partai. “Kita tidak pernah merencanakan, memproduksi, menternak pemimpin… dan kemudian menjadikan mereka sebagai petugas daripada partai politik kita,” kata Ali.

Dalam berbagai kesempatan, Ali menyatakan perjalanan politik seseorang tidak boleh diklaim sebagai jasa individu tertentu, termasuk dalam konteks pencapaian jabatan. “Terlalu sombong kalau kemudian ada orang yang mengatakan, ‘kalau bukan dia, si ini tidak akan jadi ini’,” imbuhnya.

Konflik retorika antara PSI dan PDIP kini memasuki babak baru. Balas-membalas sindiran menunjukkan tensi politik menjelang kontestasi nasional semakin menghangat, terutama antara dua partai yang berebut ceruk pemilih muda. [*]  Disarikan dari sumber berita media daring

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |