PRESIDEN Korea Selatan Lee Jae Myung membagikan sebuah video di media sosial pada Jumat 10 April 2026 yang diduga tentara Israel menyiksa seorang anak Palestina dan melemparkannya dari atap.
Dalam unggahan di platform X seperti dilansir Anadolu, Lee mengatakan perlu untuk memastikan keaslian video itu dan menilai tindakan yang telah diambil, seraya menekankan keseriusan tuduhan tersebut.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
"Pembunuhan dalam perang tak berbeda dengan persoalan yang kita kecam, seperti perbudakan paksa terhadap perempuan penghibur dan pembantaian orang Yahudi," katanya.
Isu perempuan penghibur merujuk pada masa pendudukan Jepang di Semenanjung Korea, ketika perempuan Korea mengalami kejahatan seksual oleh pasukan penjajah.
Video tersebut diunggah di X oleh pengguna Jvnior dengan keterangan "Rekaman Langsung: Tentara IDF menyiksa seorang anak Palestina dan melemparkannya dari atap. Mereka menyebut diri mereka 'tentara yang paling bermoral.'"
Akun tersebut menurut Korean Times memiliki sekitar 152.000 pengikut. Video berdurasi 20 detik itu telah ditonton sebanyak 428.000 kali hingga pukul 10:30 pagi pada Jumat.
Lee mengatakan dalam unggahan terpisah bahwa insiden tersebut terjadi pada September 2024.
Ia menambahkan bahwa Gedung Putih menyebut insiden tersebut "mengganggu," sementara Israel menyatakan telah melakukan penyelidikan dan mengambil langkah terkait.
“Para pejabat AS, termasuk John Kirby, bahkan menyebutnya ‘mengerikan dan keterlaluan,’” kata Lee seperti dikutip Korea JoongAng Daily. “Dilaporkan juga bahwa Israel melakukan penyelidikan dan mengambil tindakan.”
Kirby, juru bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih, menyampaikan pernyataan tersebut pada September 2024.
Lee juga mencatat bahwa insiden tersebut melibatkan jasad, bukan orang hidup, dan menyebutnya sebagai "sebuah rahmat kecil, jika bisa disebut demikian." Kendati demikian, ia menegaskan bahwa, kekejaman terhadap jasad tetap merupakan pelanggaran hukum internasional.
Ia menegaskan bahwa hukum humaniter internasional harus ditegakkan dalam semua keadaan dan martabat manusia harus dijaga sebagai nilai utama.
Dalam unggahan terbarunya, presiden menyatakan, “Untuk alasan apa pun dan di tempat mana pun, hak asasi manusia adalah garis pertahanan terakhir dan nilai yang tidak dapat ditukar dengan apa pun.”
Ia juga mengatakan, “Banyak tragedi sepanjang sejarah telah menunjukkan bahwa hak asasi manusia adalah nilai tertinggi dan paling penting.”
“Manusia tidak boleh mengulangi penderitaan masa lalu melalui kekejaman lebih lanjut, sehingga umat manusia dapat bergerak menuju masa depan rekonsiliasi, hidup berdampingan, dan kerja sama,” tambahnya.
Kedutaan Besar Israel di Korea tidak berkomentar mengenai masalah ini ketika ditanya oleh The Korea Times.
Terlepas dari unggahan Lee, partai oposisi mengkritik tindakan presiden yang membagikan video tersebut sebagai tindakan yang tidak pantas.
“Ini adalah video dengan sumber yang tidak jelas dan fakta yang tidak pasti. Apakah ini secara efektif berarti Korea Selatan memihak Iran?” tulis Anggota Kongres Song Eon-seog, pemimpin fraksi Partai Kekuatan Rakyat, di Facebook-nya.
"Bagaimana mungkin presiden, yang acuh terhadap hak asasi manusia di Korea Utara dan bahkan tidak dapat menuntut permintaan maaf atas tenggelamnya ROKS Cheonan, dapat memverifikasi situasi di Israel?" kata Song merujuk pada tenggelamnya kapal fregat angkatan laut Korea Selatan oleh Korea Utara pada 2010.
Ketua Partai Reformasi, Lee Jun-seok, yang merupakan partai oposisi kecil, juga menulis di akun Facebook-nya. "Tidaklah tepat bagi presiden Korea Selatan untuk mengungkapkan kemarahannya dengan membagikan video yang belum diverifikasi... Ini menciptakan preseden di mana presiden membagikan video dari negara asing untuk mengecam negara tersebut secara terbuka."


















































