REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Kementerian Pertanian (Kementan) bergerak cepat mengatasi kondisi darurat kekeringan untuk menyelamatkan lahan potensial dari ancaman gagal panen (puso), termasuk di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Guna memberikan penanganan instan, Kementan dengan pemerintah Kabupaten Polman mengerahkan 2 unit mobil pemadam kebakaran (Damkar) untuk menyuplai air ke 22 hektar lahan sawah tadah hujan di Desa Rappang Barat, Kecamatan Mapilli, Kabupaten Polman, Senin (27/7/2026).
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman dalam berbagai kesempatan menegaskan Kementan terus bergerak cepat dalam memitigasi risiko kekeringan ini. Langkah ini diharapkan dapat menghindarkan petani dari kerugian ekonomi akibat dampak iklim ekstrem.
"Tidak boleh ada pembiaran terhadap lahan pertanian yang kekurangan air. Program pompanisasi dan optimalisasi pemanfaatan sumber air terdekat merupakan harga mati untuk mengantisipasi gagal panen secara nasional," ujar Amran.
Plh. Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Tin Latifah menegaskan Kementan melalui Direktorat Jenderal Tanaman Pangan telah melakukan berbagai langkah mitigasi menghadapi potensi dampak El Nino pada musim kemarau 2026.
Melalui sistem peringatan dini, pemetaan wilayah rawan kekeringan, optimalisasi sumber daya air, hingga penguatan koordinasi lintas sektor, Kementan terus bergerak untuk memastikan produksi beras nasional tetap terjaga guna mendukung target swasembada pangan.
“Mitigasi menjadi kunci dalam menghadapi potensi dampak El Nino. Karena itu, Kementerian Pertanian bergerak cepat dengan membangun sistem peringatan dini, memetakan wilayah rawan kekeringan, mengoptimalkan sumber-sumber air, serta memperkuat koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan agar produksi padi tetap terjaga,” ujar Tin.
Berdasarkan data per 24 Juli 2026, luas pertanaman padi yang terdampak kekeringan secara nasional selama periode Januari–Juli 2026 tercatat mencapai 44.694 hektare, dengan luas gagal panen sebesar 12.304 hektare.
Di Pulau Jawa, Provinsi Jawa Barat menjadi wilayah dengan luas pertanaman padi terdampak kekeringan terbesar, yakni 4.794 hektare, namun hingga saat ini belum terdapat lahan yang mengalami gagal panen.
“Untuk lahan yang mengalami gagal panen, pemerintah akan menyiapkan bantuan benih serta mengawal proses klaim Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) bagi petani yang terdampak,” ujarnya.
Meski menghadapi musim kemarau, Kementerian Pertanian optimistis produksi padi nasional berada pada jalur yang positif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), potensi luas panen padi pada Juli 2026 diproyeksikan mencapai sekitar 0,93 juta hektare, sedangkan secara kumulatif sepanjang Januari hingga Juli 2026 diperkirakan mencapai 7,20 juta hektare.
“Data potensi panen menunjukkan bahwa produksi nasional masih terjaga. Dengan langkah mitigasi yang dilakukan secara cepat, terukur, dan kolaboratif, kami optimistis target produksi beras nasional tetap dapat dipertahankan untuk mendukung swasembada pangan,” kata Tin.
Optimisme tersebut juga diperkuat oleh proyeksi Food and Agriculture Organization (FAO) dalam Food Outlook edisi Juni 2026 yang memperkirakan produksi beras Indonesia pada musim 2026/2027 mencapai 38,6 juta ton. Proyeksi tersebut menempatkan Indonesia sebagai produsen beras terbesar di Asia Tenggara dan terbesar keempat di dunia, di tengah tren penurunan produksi beras global.

9 hours ago
19













































