Riset Pakar UAD Bongkar Kekuatan Tersembunyi 'Bahasa Halus' dalam Rebut Hati Publik

3 weeks ago 29

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Di tengah panasnya gelanggang politik Indonesia yang kerap diwarnai debat sengit dan retorika yang memecah belah, pakar komunikasi politik Assoc Prof Dwi Santoso, PhD menawarkan perspektif yang berbeda dan mendalam. Melalui serangkaian penelitian akademisnya yang panjang, ia menyoroti sebuah kekuatan yang sering diabaikan: kesantunan berbahasa justru merupakan senjata strategis terkuat di arena politik kontemporer.

"Ada anggapan yang keliru bahwa untuk tegas dan berpengaruh, seorang politisi harus tampil keras dan ofensif. Padahal, temuan dari analisis linguistik terhadap dinamika politik kita justru menunjukkan hal sebaliknya. Pengaruh yang berkelanjutan dan legitimasi yang kuat justru dibangun di atas fondasi komunikasi yang cerdas, kontekstual, dan beretika," ujar Dosen Senior Linguistik Universitas Ahmad Dahlan (UAD) tersebut.

Pernyataan ini bukanlah sekadar opini, melainkan simpulan yang lahir dari penelitian mendalam Santoso selama bertahun-tahun. Sebagai Dosen Senior Linguistik dan mantan pimpinan di universitas di Malaysia, risetnya berfokus pada titik temu antara linguistik, politik, dan budaya. Bukunya yang terbit baru-baru ini, 'Kesantunan Berbahasa: Kunci Sukses dalam Arena Politik Indonesia' menjadi kristalisasi dari kajian tersebut, yang mengangkat prinsip-prinsip kearifan lokal seperti andhap asor (rendah hati) dan tepa slira (tenggang rasa) sebagai strategi komunikasi politik yang canggih.

"Yang saya teliti bukan sekadar teori impor, tetapi bagaimana nilai-nilai luhur dalam budaya komunikasi Nusantara, khususnya Jawa, memiliki keselarasan yang erat dengan teori pragmatik dan analisis wacana modern," jelas Santoso, yang meraih gelar doktor dari La Trobe University, Australia, dengan disertasi tentang kesantunan dalam wacana politik Jawa.

"Dalam konteks politik Indonesia yang sangat hierarkis dan multi-kultural, bahasa yang santun dan penuh pertimbangan justru berfungsi sebagai alat negosiasi yang ampuh, peredam konflik, dan pembangun koalisi yang efektif," ujar mantan Wakil Rektor Kerja Sama dan Urusan Internasional Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM) tersebut.

Temuan Santoso ini semakin relevan di tengah maraknya komunikasi politik digital yang sering kali instan dan reaktif. Berdasarkan analisis wacana kritisnya terhadap media sosial, debat publik, dan even komunikasi di lembaga legislatif, ia melihat adanya kebutuhan mendesak untuk meningkatkan literasi narasi di kalangan politisi. "Di era di mana setiap kata dapat di-viral dan didistorsi, presisi linguistik dan konsistensi etis bukan lagi sekadar gaya, melainkan kebutuhan strategis untuk bertahan dan memenangkan kepercayaan," paparnya.

Beberapa praktisi di dunia politik mulai menyadari hal ini. Seorang konsultan komunikasi dari Jakarta yang kerap menangani figur nasional menyebutkan bahwa pendekatan berbasis riset seperti yang dikembangkan Santoso mulai banyak diminati. "Klien mulai bertanya, tidak hanya 'bagaimana cara saya berbicara yang menarik?' tetapi lebih mendalam, 'bagaimana membangun narasi yang kredibel dan berkelanjutan?'. Karya-karya akademis Pak Dwi memberikan fondasi yang kuat untuk menjawab itu," ujarnya.

Santoso menutup dengan pandangan yang optimistis sekaligus mendorong tindakan. "Saya percaya ada ruang untuk perubahan. Ketika kualitas wacana politik kita meningkat—ketika argumentasi dibangun di atas data, disampaikan dengan nalar yang tajam, namun tetap dalam bingkai saling menghormati—maka kualitas demokrasi dan kebijakan publik kita pun akan terdorong ke arah yang lebih baik. Ini adalah investasi jangka panjang bagi kepemimpinan dan bangsa," katanya.

Karya-karya Dwi Santoso termasuk berbagai penelitiannya yang telah dipublikasikan di jurnal internasional, kini tidak hanya menjadi bahan diskusi akademis, tetapi juga referensi dalam ruang-ruang strategis tempat masa depan politik Indonesia dirancang.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |